Krisis Sampah di Depok Dorong Pemuda Ciptakan Gerakan Lingkungan Berkelanjutan

AZL
Pelatihan pembuatan komposter pemuda Karang Taruna Unit 05, Tanah Baru, Beji, Kota Depok dalam gerakan program Bank Sampah, Jum'at (15/05/26) malam. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung yang dinilai semakin penuh dan memunculkan berbagai persoalan lingkungan mendorong para pemuda di Kota Depok bergerak mencari solusi pengelolaan sampah mandiri.

Salah satunya dilakukan Karang Taruna Unit 05, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, yang menggagas program Bank Sampah berbasis masyarakat.

Program tersebut dibentuk sebagai upaya mengurangi penumpukan sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari lingkungan terkecil.

Salah satu pegiat pengelolaan sampah sekaligus senior Karang Taruna Unit 05, Komarullah atau yang akrab disapa Komar mengatakan persoalan sampah di Kota Depok saat ini sudah berada pada kondisi yang memprihatinkan.

“Karena kan persoalan sampah di Depok ini sudah ngeri banget. Maka dari itu, sistem tata kelola sampah itu kan dimulai dari skup terkecil, dalam hal ini rumah tangga,” ungkapnya saat ditemui dalam acara pembekalan program Bank Sampah, Jumat (15/05/2026) malam.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi volume sampah yang terus menumpuk di TPA Cipayung.

Warga Diajak Menabung Sampah

Melalui program Bank Sampah, warga di lingkungan RW05 Kelurahan Tanah Baru nantinya diajak memilah sampah rumah tangga sebelum disetorkan ke tempat pengelolaan.

Sampah non-organik seperti plastik, kertas, dan logam akan ditimbang dan dikonversi menjadi saldo uang layaknya sistem tabungan.

Program Bank Sampah sendiri merupakan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang menerapkan prinsip 3R yakni Reduce, Reuse, dan Recycle.

Dengan sistem tersebut, warga tidak hanya membuang sampah, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil pemilahan sampah rumah tangga.

Proses pengumpulan dan penimbangan sampah rencananya dilakukan satu bulan sekali setiap hari Jumat di kawasan Villa Putih RT04/RW05 Kelurahan Tanah Baru.

“Jadi kita sampaikan definisi sampah itu apa sih, kemudian bagaimana cara kita menyikapi sampah jenis organik dan segala macem,” tambah Komar.

Menurutnya, edukasi menjadi bagian penting dalam program tersebut agar masyarakat memahami jenis-jenis sampah dan cara penanganannya secara benar.

Karang Taruna Siapkan Pengolahan Sampah Organik

Selain fokus pada sampah non-organik, Karang Taruna Unit 05 juga berencana mengembangkan sistem pengolahan sampah organik secara berkelanjutan.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni pembuatan komposter dan budidaya maggot untuk mengolah limbah organik rumah tangga.

Program tersebut diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah organik yang selama ini langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir.

“Nanti kita bakal bikin juga komposter, segala macem, nanti maggot dan segala macem. Intinya bagaimana Karang Taruna mau jadi garda terdepan di lingkungan Unit RW05 buat kemajuan lingkungan yang lebih baik,” jelasnya.

Pengolahan menggunakan maggot dinilai efektif membantu mengurai sampah organik seperti sisa makanan dan limbah dapur rumah tangga.

Selain ramah lingkungan, hasil budidaya maggot juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan.

Dorong Kesadaran Warga Kelola Sampah Mandiri

Program Bank Sampah tersebut diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah mandiri di tingkat lingkungan warga, khususnya di wilayah Kelurahan Tanah Baru.

Komar menilai persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah tanpa adanya keterlibatan aktif masyarakat.

Karena itu, pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga dinilai menjadi langkah awal yang penting untuk mengurangi beban TPA.

Selain membantu mengurangi volume sampah, program tersebut juga diharapkan mampu membangun budaya baru di masyarakat terkait kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

Edukasi dan keterlibatan pemuda dalam pengelolaan lingkungan juga dinilai penting untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kota Depok.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, diharapkan persoalan penumpukan sampah dan dampak lingkungan di Kota Depok dapat ditekan secara bertahap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *