Dubes Iran Buka Suara Terkait Eskalasi Serangan AS – Israel
adainfo.id – Duta Besar (Dubes) Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melontarkan pernyataan keras terkait eskalasi serangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negaranya, sekaligus menuding adanya standar ganda dalam isu hak asasi manusia dan demokrasi.
Boroujerdi menyampaikan pernyataan tersebut dalam siaran pers resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta.
Ia menuding aliansi Amerika Serikat dan Israel menyasar tokoh-tokoh penting dan pemimpin Iran, meski di saat bersamaan mengklaim mengampanyekan perdamaian dan demokrasi.
“Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel mengklaim bahwa mereka akan membantu rakyat Iran. Dengan dalih yang sama pula, mereka membajak protes damai rakyat Iran pada Januari 2026 menjadi kerusuhan yang penuh kekerasan. Kini terlihat bagaimana mereka ‘membantu’ rakyat Iran: dengan serangan rudal terhadap perempuan dan anak-anak tak berdosa di sekolah dasar terlebih lagi di bulan suci Ramadan,” ujarnya dikutip pada Selasa (03/03/2026).
Sorotan terhadap Klaim Demokrasi Washington
Boroujerdi mempertanyakan komitmen demokrasi yang selama ini diklaim Washington sebagai dasar kebijakan luar negeri mereka.
Ia menyinggung keterlibatan Amerika Serikat dalam berbagai peristiwa historis di Iran.
Boroujerdi merujuk pada kudeta terhadap Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh pada 1953 yang dalam berbagai catatan sejarah disebut melibatkan dukungan intelijen Amerika Serikat.
Selain itu, ia menyoroti dampak sanksi ekonomi yang menurutnya menekan warga sipil Iran.
Dalam pernyataannya, Boroujerdi menilai pendekatan tekanan politik dan militer dari Washington tidak pernah membawa stabilitas bagi negara-negara yang menjadi sasaran kebijakannya.
“Intervensi dan agresi Amerika terhadap negara-negara lain tidak menghasilkan apa pun selain kematian dan kehancuran,” tegasnya.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 serta intervensi di Libya dan Afghanistan yang menurutnya berujung pada instabilitas berkepanjangan.
Tuduhan Agresi dan Serangan Militer
Boroujerdi juga membeberkan sejumlah peristiwa yang disebutnya sebagai agresi fisik terhadap Iran.
Ia menyinggung insiden penembakan pesawat sipil Iran pada 1988 serta pembunuhan seorang jenderal senior Iran pada 2020 yang disebutnya sebagai pahlawan anti-ISIS di Irak.
Selain itu, ia menyinggung serangan pada 2024 dan 2025 yang disebut menyasar situs militer, ekonomi, serta fasilitas nuklir damai Iran yang berada di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency.
Menurutnya, pada Juni 2025 terjadi penyerangan selama 12 hari berturut-turut dengan dukungan persenjataan Amerika Serikat yang menewaskan sejumlah pejabat militer tinggi Iran.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Teheran yang memandang serangkaian peristiwa tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
Tudingan terhadap Peran Intelijen dan Media Barat
Dalam pernyataannya, Boroujerdi turut menuding keterlibatan agen intelijen seperti Central Intelligence Agency (CIA) dan Mossad dalam membajak aksi damai masyarakat menjadi kerusuhan berdarah.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai proyek yang menciptakan korban sebanyak mungkin guna melegitimasi serangan militer atas nama perlindungan hak asasi manusia.
Boroujerdi juga mengkritik media arus utama Barat yang menurutnya telah membangun narasi yang memutarbalikkan fakta terkait situasi di Iran.
“Mungkin masyarakat biasa bisa mereka taklukkan dan bisa membuat masyarakat biasa percaya kepada mereka, tetapi saya rasa insan media tidak akan percaya kepada mereka,” ujarnya.
Ia menilai framing pemberitaan global sering kali tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan dan cenderung memihak kepentingan geopolitik tertentu.
Isu Gaza dan Tuduhan Standar Ganda
Lebih lanjut, Boroujerdi menyoroti apa yang ia sebut sebagai standar ganda Barat dalam isu hak asasi manusia.
Ia mempertanyakan mengapa krisis kemanusiaan di Gaza tidak mendapat pendekatan yang sama seperti isu Iran.
Isu tersebut menurutnya menunjukkan inkonsistensi dalam penerapan prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional oleh negara-negara Barat.
Pernyataan tersebut menambah daftar panjang kritik Iran terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Apresiasi terhadap Indonesia dan Peluang Diplomasi
Boroujerdi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia yang dinilainya konsisten mengutuk tindakan agresi terhadap Iran.
Ia menyebut Teheran menyambut baik peluang komunikasi diplomatik yang diusulkan Pemerintah Indonesia demi meredakan situasi yang masih sangat dinamis.
Meski demikian, pemerintah Iran menyadari kondisi di lapangan masih penuh ketidakpastian.
Hingga saat ini, Boroujerdi menegaskan pihaknya belum menerima langkah konkret atau kontak langsung terkait rencana mediasi tersebut.
Teheran disebut masih menunggu detail teknis mengenai bagaimana proses dialog konstruktif itu akan dijalankan ke depan.
Pernyataan Dubes Iran tersebut mencerminkan posisi resmi negaranya dalam memandang eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Israel.
Sekaligus membuka ruang bagi kemungkinan diplomasi melalui negara-negara sahabat, termasuk Indonesia.











