Harga Plastik Naik Drastis, Pemerintah Klaim Pasokan Tetap Aman
adainfo.id – Lonjakan harga plastik di Indonesia dengan kenaikan 30 hingga 80 persen pada April 2026 dipicu oleh konflik geopolitik global yang berdampak langsung pada terganggunya pasokan minyak dunia.
Gangguan tersebut terjadi seiring penutupan jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi global.
Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga bahan baku industri, termasuk biji plastik yang sangat bergantung pada turunan minyak bumi.
Indonesia sendiri masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku plastik, sehingga fluktuasi global langsung berdampak pada harga di dalam negeri.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengungkapkan bahwa kenaikan harga biji plastik tidak dapat dihindari karena faktor eksternal yang kuat.
“Saat ini memang bahan baku yakni biji plastik mengalami kenaikan ya tentunya karena pengaruh dari konflik geopolitik AS-Iran. Sedangkan biji plastik sebagai bahan baku plastik, Indonesia masih mengimpor,” ucap Faisol dikutip Rabu (16/04/2026).
Ketergantungan terhadap impor bahan baku mencapai sekitar 60 persen, menjadikan industri plastik nasional rentan terhadap gejolak global.
Kenaikan harga minyak mentah secara otomatis mendorong naiknya biaya produksi plastik.
Hal ini berdampak tidak hanya pada industri besar, tetapi juga merambat hingga sektor usaha kecil dan menengah yang bergantung pada kemasan plastik dalam aktivitas sehari-hari.
Pemerintah Pastikan Pasokan Industri Tetap Terjaga
Meski menghadapi tekanan global, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan bahan baku untuk industri tetap tersedia agar aktivitas manufaktur tidak terganggu.
“Yang pasti pemerintah memastikan bahan baku untuk kebutuhan industri manufaktur dan plastik itu bisa terjamin,” papar Faisol.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas sektor industri yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Industri plastik menjadi salah satu sektor strategis yang mendukung berbagai lini produksi, mulai dari makanan dan minuman hingga logistik.
Dengan jaminan pasokan tersebut, pemerintah berharap dampak kenaikan harga dapat ditekan, meskipun tidak sepenuhnya bisa dihindari.
UMKM Jadi Sektor Paling Terdampak
Sementara itu, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti bahwa lonjakan harga plastik memberikan tekanan besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman.
“Harga plastik yang melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokan mulai sulit diperoleh menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini bekerja dengan keuntungan terbatas semakin kesulitan dari sisi ekonomi,” ungkap Puan.
UMKM selama ini sangat bergantung pada kemasan plastik sekali pakai karena biaya yang relatif murah dan praktis.
Namun, kenaikan harga yang signifikan membuat biaya operasional meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan pelaku usaha kecil bahkan memicu kenaikan harga produk di tingkat konsumen.
Di tengah lonjakan harga plastik, Puan melihat situasi ini sebagai peluang untuk mendorong perubahan menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.
“Meskipun plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kepraktisannya, kita ketahui bersama beban ekologinya sangat tinggi. Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau,” ucap Puan.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk kembali memanfaatkan kemasan berbasis bahan alami yang lebih ramah lingkungan dan mudah terurai.
“Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” beber Puan.
Pemanfaatan kemasan tradisional seperti daun pisang atau bahan organik lainnya dinilai tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap plastik, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan.
Dampak Global dan Tantangan Industri Nasional
Lonjakan harga plastik menjadi gambaran nyata bagaimana konflik geopolitik global dapat berdampak langsung pada sektor industri dalam negeri.
Ketergantungan terhadap impor bahan baku menjadi tantangan utama yang harus dihadapi Indonesia ke depan.
Upaya diversifikasi sumber bahan baku serta pengembangan industri dalam negeri menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko serupa di masa mendatang.
Selain itu, transformasi menuju penggunaan bahan alternatif juga menjadi bagian penting dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu.
Kondisi ini sekaligus menjadi momentum bagi berbagai sektor untuk melakukan adaptasi, baik dari sisi produksi, distribusi, maupun inovasi produk yang lebih berkelanjutan.
Di tengah tekanan global, keseimbangan antara kebutuhan industri dan keberlanjutan lingkungan menjadi tantangan yang harus dikelola secara cermat oleh seluruh pemangku kepentingan.












