Lahan Sawah di Depok Kian Menyusut, Petani Terancam Hama Tikus

AZL
Petani di kawasan Tapos, Kota Depok saat beraktivitas. Saat ini lahan sawah sudah semakin menyusut. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Ditengah laju urbanisasi dan alih fungsi lahan yang terus menggerus ruang pertanian, lahan sawah di Kota Depok kini hanya tersisa di tiga kecamatan, yakni Sawangan, Cipayung, dan Tapos.

Kondisi ini menempatkan ketiga kecamatan tersebut sebagai benteng terakhir keberlangsungan pertanian padi di Kota Depok, meskipun tekanan dari pembangunan dan persoalan hama semakin mempersempit peluang petani untuk bertahan.

Di antara tiga wilayah yang tersisa, Kecamatan Tapos menjadi kawasan dengan lahan persawahan terluas, mencapai sekitar 50 hektar.

Hampir seluruh lahan tersebut masih aktif ditanami padi yang kemudian diolah menjadi beras untuk kebutuhan masyarakat setempat.

Namun di balik perannya sebagai lumbung terakhir, para petani di Tapos menghadapi tantangan serius yang mengancam produktivitas mereka.

Serangan hama tikus dan burung menjadi masalah utama yang kerap merusak tanaman padi dalam waktu singkat.

Hama tersebut tidak hanya berdampak pada penurunan jumlah produksi, tetapi juga menurunkan kualitas hasil panen.

Kondisi ini secara langsung memengaruhi pendapatan petani yang selama ini bergantung pada hasil sawah sebagai sumber utama penghidupan.

Ancaman Hama Tikus Picu Gagal Panen

Salah satu petani di Tapos, Wawat (60), mengungkapkan bahwa serangan tikus menjadi penyebab utama menurunnya hasil panen dalam beberapa musim terakhir.

Ia menyebut hama tersebut mampu menghabiskan tanaman padi hanya dalam waktu singkat.

“Sekarang ini panen turun, masalah utamanya gagal panen ya tikus, itu kalau sudah tikus datang, habis semua gagal panen,” ungkapnya saat ditemui Kamis (02/04/2026).

Dalam kondisi normal tanpa gangguan hama, hasil panen bisa mencapai 70 hingga 80 karung gabah.

Namun angka tersebut menurun drastis ketika serangan tikus terjadi secara masif.

“Kalau panen dalam kondisi normal mah paling banyak bisa capai 70-80 karungan lah. Itu jadi kalo panen bener-bener mulus, nggak dimakan hama gitu,” tambahnya.

Wawat telah menggeluti dunia pertanian selama hampir tiga dekade. Selama 28 tahun terakhir, ia menggantungkan hidup dari hasil sawah yang dikelolanya, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun untuk dijual.

Strategi Bertahan Petani di Tengah Tekanan

Dalam mengelola hasil panen, Wawat memiliki strategi tersendiri untuk memastikan kebutuhan hidup tetap terpenuhi.

Ia membagi hasil panen menjadi beberapa bagian, mulai dari konsumsi, modal, hingga cadangan untuk kebutuhan mendesak.

“Jadi setiap hasil panen tuh nantinya saya atur, kayak 2 karung gabah itu buat modal, 2 karung lagi buat nanti ada hal-hal tak terduga, dan 2 karung lagi buat nabung. Jadi bagaimana kebutuhan tetap terpenuhi dengan hasil panen itu,” jelasnya.

Namun strategi tersebut menjadi tidak efektif ketika gagal panen terjadi.

Serangan hama tidak hanya mengurangi pendapatan, tetapi juga menggerus cadangan pangan keluarga yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan jangka panjang.

Kondisi ini membuat petani berada dalam situasi rentan, terutama ketika tidak ada sumber penghasilan lain yang dapat menopang kebutuhan sehari-hari.

Alih Fungsi Lahan Persempit Ruang Pertanian

Selain persoalan hama, ancaman lain yang dihadapi petani adalah terus menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi kawasan permukiman dan infrastruktur.

Perkembangan kota yang pesat membuat ruang untuk bertani semakin terbatas.

Alih fungsi lahan ini tidak hanya berdampak pada luas area tanam, tetapi juga pada keberlangsungan ekosistem pertanian secara keseluruhan.

Dengan semakin sedikitnya lahan yang tersedia, produktivitas pertanian menjadi sulit ditingkatkan.

Padahal, keberadaan sawah di Tapos masih memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan lokal.

Produksi beras dari wilayah ini, meskipun tidak besar, tetap menjadi penopang kebutuhan masyarakat sekitar.

Para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk melindungi lahan pertanian yang tersisa serta membantu pengendalian hama yang semakin sulit dikendalikan.

Dukungan tersebut dinilai penting agar sektor pertanian di Depok tidak semakin terpinggirkan oleh pembangunan.

Tanpa langkah konkret, lahan sawah yang tersisa berpotensi terus menyusut hingga pada akhirnya menghilang.

Seiring dengan itu, keberlangsungan hidup petani lokal juga terancam, mengingat mereka sangat bergantung pada hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tekanan yang datang dari dua arah, yakni serangan hama dan alih fungsi lahan, menjadi tantangan besar yang harus dihadapi petani di tengah perubahan lanskap perkotaan yang semakin cepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *