Siswa Didorong Naik Sepeda dan Jalan Kaki ke Sekolah, Solusi Penghematan Energi?
adainfo.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong satuan pendidikan di seluruh Indonesia untuk membiasakan penggunaan transportasi ramah lingkungan seperti naik sepeda maupun jalan kaki ke sekolah sebagai bagian dari implementasi Gerakan Indonesia ASRI yang digagas oleh Prabowo Subianto.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2026 yang bertujuan memperkuat karakter murid sekaligus mendorong efisiensi energi melalui perubahan kebiasaan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
“Penggunaan sepeda ke sekolah tidak hanya sebagai alternatif transportasi, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter murid agar lebih mandiri, sehat, dan memiliki kesadaran terhadap lingkungan,” tutur Rusprita Utami dikutip Kamis (02/04/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam membangun budaya hidup sehat dan berkelanjutan sejak usia dini, dengan menjadikan sekolah sebagai pusat perubahan perilaku masyarakat.
Gerakan Indonesia ASRI yang mengusung konsep Aman, Sehat, Resik, dan Indah menjadi landasan utama kebijakan ini.
Pemerintah ingin menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan.
Melalui kebijakan ini, siswa didorong untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, terutama untuk perjalanan jarak dekat menuju sekolah.
Pilihan seperti berjalan kaki, bersepeda, berbagi kendaraan, atau menggunakan transportasi publik menjadi alternatif yang diutamakan.
Secara global, berbagai studi menunjukkan bahwa pembatasan kendaraan bermotor di sekitar sekolah mampu menurunkan tingkat polusi udara hingga sekitar 23 persen.
Hal ini menjadi salah satu dasar kuat dalam penerapan kebijakan tersebut di Indonesia.
Selain itu, penggunaan sepeda secara konsisten juga berkontribusi dalam mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
Efeknya tidak hanya dirasakan pada penghematan energi, tetapi juga pada kualitas udara yang lebih baik di kawasan perkotaan.
Dampak Ganda: Kurangi Macet dan Hemat Energi
Kebijakan ini dinilai memiliki dampak berlipat atau multiplier effect. Selain mengurangi polusi, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor di lingkungan sekolah juga berpotensi menekan kemacetan, terutama pada jam sibuk pagi dan siang hari.
Kemacetan yang sering terjadi di sekitar sekolah selama ini menjadi salah satu persoalan utama di kota-kota besar.
Dengan mendorong siswa menggunakan moda transportasi ramah lingkungan, tekanan lalu lintas dapat dikurangi secara signifikan.
Efisiensi energi juga menjadi salah satu target utama. Pengurangan konsumsi bahan bakar dalam skala kecil namun dilakukan secara massal dinilai mampu memberikan dampak besar terhadap penghematan energi nasional.
Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga menjadi ruang pembiasaan gaya hidup hemat energi.
Praktik sederhana seperti memanfaatkan pencahayaan alami, menghemat listrik, dan penggunaan air secara bijak juga menjadi bagian dari gerakan ini.
Aspek Keselamatan Jadi Prioritas
Dalam implementasinya, aspek keselamatan siswa tetap menjadi perhatian utama.
Pemerintah mendorong penguatan Zona Selamat Sekolah (ZoSS) serta pengelolaan lalu lintas yang aman di sekitar lingkungan pendidikan.
“Pelaksanaan kebijakan ini harus memperhatikan kondisi wilayah masing-masing. Kami mendorong kolaborasi dengan Dinas Perhubungan, Kepolisian, serta pemerintah daerah untuk memastikan tersedianya rute aman bagi murid,” bebernya.
Kebijakan ini tidak diterapkan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi geografis dan karakteristik masing-masing daerah.
Faktor seperti jarak tempuh, kondisi jalan, hingga keamanan lingkungan menjadi pertimbangan penting.
Dinas Pendidikan di daerah juga didorong untuk aktif melakukan pengawasan serta evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan ini agar berjalan efektif dan sesuai tujuan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. Keterlibatan pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta dinas terkait diperlukan untuk memastikan infrastruktur pendukung seperti jalur sepeda dan rambu lalu lintas tersedia dengan baik.
Sekolah sebagai Pusat Pembentukan Karakter
Kemendikdasmen menekankan bahwa perubahan kebiasaan kecil dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang.
Pembiasaan berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang mandiri dan sadar lingkungan.
Sekolah diposisikan sebagai pusat pembentukan karakter yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada nilai-nilai kehidupan berkelanjutan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat terbawa hingga dewasa.
Selain transportasi, sekolah juga didorong untuk menerapkan berbagai praktik ramah lingkungan lainnya.
Hal ini mencakup pengelolaan sampah, penghematan energi, hingga pemanfaatan sumber daya secara efisien.
“Sekolah adalah jantung peradaban. Dari sinilah kebiasaan baik dibangun untuk masa depan Indonesia yang berkelanjutan,” tandasnya.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik.
Akan tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan dan keberlanjutan energi di masa depan.












