Banjir Tak Kunjung Usai, Warga Depok Ini Masih Menunggu Kepastian Relokasi
adainfo.id – Banjir yang terus berulang di kawasan Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok, masih menyisakan persoalan serius bagi warga, terutama terkait ketidakpastian relokasi dan penanganan dampak luapan Kali Pesanggrahan yang tersumbat sampah dari TPA Cipayung.
Di kawasan Jalan Nangka RT03/RW04, kondisi permukiman warga hingga kini masih berada dalam ancaman banjir yang datang berulang.
Meski dampak yang ditimbulkan tergolong parah, sebagian besar warga mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait rencana relokasi dari pemerintah daerah.
Melda (38), salah satu warga terdampak, mengungkapkan bahwa rumahnya termasuk yang paling sering terendam saat banjir melanda kawasan tersebut.
Ia menyebut ketinggian air dapat mencapai lebih dari dua meter, sehingga merusak hampir seluruh isi rumah.
“Belum ada dari pemerintah. Ini paling parah, tinggi air bisa lebih dari dua meter. Kulkas, kasur, semua perabotan habis,” ujar Melda saat ditemui, Jumat (24/04/2026).
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak banjir tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga meninggalkan kerugian jangka panjang bagi warga yang terdampak.
Banjir Rusak Harta dan Momen Lebaran
Selain kerugian materi, banjir juga menghilangkan momen penting dalam kehidupan warga.
Melda mengenang pengalaman saat banjir terjadi tepat pada Hari Raya Idulfitri, yang seharusnya menjadi waktu berkumpul bersama keluarga.
Alih-alih merayakan hari besar tersebut, ia dan keluarganya justru harus menghadapi kondisi rumah yang terendam air.
“Pas banjir waktu lebaran itu kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kue dan makanan semua habis, pada mengambang,” kata Melda.
Peristiwa ini menggambarkan dampak sosial yang ditimbulkan banjir.
Di mana warga tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga momen kebersamaan yang bernilai emosional tinggi.
Ancaman Keselamatan dari Hewan Liar
Banjir yang melanda kawasan Pasir Putih juga membawa risiko lain yang tidak kalah mengkhawatirkan, yaitu masuknya hewan liar ke dalam permukiman warga.
Gina (43), warga lainnya, mengungkapkan bahwa air banjir sering membawa hewan berbahaya seperti ular ke dalam rumah.
“Kadang ular masuk ke rumah, kemarin ular sanca kebawa banjir. Takut kalau sampai membahayakan anak-anak,” ujar Gina.
Kondisi ini menambah beban psikologis bagi warga, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.
Ancaman keselamatan menjadi perhatian serius yang memperparah dampak banjir di kawasan tersebut.
Lingkungan permukiman yang tidak aman akibat banjir membuat warga harus terus waspada setiap kali hujan turun, terutama saat debit air di Kali Pesanggrahan meningkat.
Berdasarkan keterangan warga, terdapat sedikitnya 15 rumah di Jalan Nangka yang terdampak banjir parah.
Namun hingga saat ini, baru satu rumah yang mendapatkan kompensasi pembebasan lahan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Depok.
Sementara itu, 14 rumah lainnya masih menunggu kejelasan yang belum kunjung terealisasi.
“Yang sudah dibayar baru satu rumah, sisanya belum ada solusi,” kata Gina.
Situasi ini menimbulkan ketidakpastian bagi warga yang berharap adanya langkah konkret dari pemerintah.
Relokasi dinilai menjadi solusi yang paling realistis mengingat kondisi wilayah yang rawan banjir.
Luapan Kali dan Sampah Jadi Pemicu Utama
Banjir di kawasan Pasir Putih Sawangan diketahui dipicu oleh luapan Kali Pesanggrahan yang diduga tersumbat sampah, termasuk kiriman dari TPA Cipayung.
Kondisi ini menyebabkan aliran air tidak lancar dan meluap ke permukiman warga saat hujan deras.
Durasi banjir yang terjadi umumnya berkisar antara tiga hingga empat jam.
Namun dalam waktu singkat tersebut, kerusakan yang ditimbulkan sangat besar dan berdampak langsung pada kehidupan warga.
Warga menilai bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Diperlukan penanganan menyeluruh, mulai dari pengelolaan sampah, normalisasi sungai, hingga relokasi warga yang berada di wilayah rawan.
Selain itu, peran pemerintah daerah dinilai sangat penting dalam memastikan adanya solusi jangka panjang yang mampu mengurangi risiko tersebut di masa mendatang.
Harapan Warga di Tengah Momentum HUT Depok
Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok menjadi harapan bagi warga untuk mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.
Mereka berharap perayaan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diiringi dengan langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan ini.
Warga meminta pemerintah untuk turun langsung ke lapangan guna melihat kondisi yang mereka alami secara nyata. Hal ini dinilai penting agar kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran.
Selain relokasi, warga juga mendesak adanya pembenahan sistem secara menyeluruh, termasuk peningkatan kapasitas drainase dan pengelolaan aliran sungai.
Bagi warga di kawasan itu, solusi konkret menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.
Mereka berharap dapat hidup dengan rasa aman tanpa dihantui ancaman banjir yang terus berulang.












