Kali Pesanggrahan Depok Dipenuhi Sampah, Relawan Soroti Dampak Longsoran TPA Cipayung

AZL
Relawan berupaya membersihkan aliran Kali Pesanggrahan, Cinere, Kota Depok yang dipenuhi sampah, Minggu (19/04/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok, kondisi Kali Pesanggrahan di kawasan jembatan Jalan Bandung, Kecamatan Cinere, justru dipenuhi tumpukan sampah yang menghambat aliran air dan memicu kekhawatiran akan risiko banjir.

Situasi ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah momentum perayaan kota, ketika berbagai upaya penataan dan pembenahan lingkungan seharusnya menjadi prioritas.

Tumpukan sampah tersebut diduga berasal dari longsoran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung yang telah melebihi kapasitas, sehingga material sampah terbawa arus sungai terutama saat hujan deras.

Di saat Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tengah bersiap merayakan hari jadinya, persoalan klasik terkait pengelolaan sampah kembali mencuat ke permukaan.

Aliran Kali Pesanggrahan yang seharusnya menjadi bagian dari ekosistem kota justru dipenuhi limbah plastik, styrofoam, dan kayu yang menyumbat aliran air.

Kondisi ini dinilai mencerminkan masih lemahnya pengelolaan sampah di wilayah perkotaan, terutama dalam menghadapi peningkatan volume limbah.

Selain mengganggu estetika kota, tumpukan sampah juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas.

Sorotan Terhadap Aliran Kali yang Tersumbat dan Picu Risiko Banjir

Pantauan di lokasi menunjukkan aliran air tidak mengalir dengan normal akibat sampah yang menumpuk di beberapa titik.

Material sampah yang terbawa dari hulu tersangkut di badan kali dan memperlambat arus air.

Kondisi ini semakin parah saat curah hujan tinggi, di mana volume air meningkat bersamaan dengan masuknya sampah dalam jumlah besar.

Akibatnya, aliran kali kerap tersendat dan meningkatkan potensi banjir di kawasan sekitar Cinere.

Sejumlah relawan lingkungan pun turun langsung membersihkan sampah secara mandiri guna membuka kembali aliran air.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kali yang semakin memprihatinkan.

Salah satu relawan, Singo (40), yang telah lebih dari 20 tahun aktif dalam kegiatan pembersihan sungai, menilai persoalan ini memerlukan penanganan serius.

“Seharusnya memang ada penanganan yang lebih serius terkait masalah di TPA Cipayung, karena sampah longsoran dari sana membuat aliran Kali Pesanggrahan selalu dipenuhi sampah,” ujarnya saat ditemui, Minggu (19/04/2026).

Lonjakan Sampah Saat Hujan Deras

Menurut Singo, volume sampah meningkat drastis setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Dalam waktu singkat, sampah langsung memenuhi badan sungai dan memperparah penyumbatan.

“Kalau sehabis hujan deras, sampah itu seperti dituang begitu saja dan langsung menumpuk,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya aliran sampah dalam jumlah besar dari hulu, yang terbawa arus air hujan.

Akumulasi tersebut tidak hanya menghambat aliran, tetapi juga mempercepat pendangkalan kali.

Relawan juga menyoroti minimnya keterlibatan pemerintah daerah dalam menangani persoalan tersebut.

Selama ini, pembersihan kali lebih banyak dilakukan secara swadaya tanpa dukungan alat berat atau fasilitas memadai.

“Selama ini kita masih bergerak secara sukarela, belum pernah ada dari dinas terkait yang datang. Alat berat seperti beko juga tidak ada,” ungkapnya.

Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi lebih serius dari pihak berwenang, terutama dalam menangani sumber utama permasalahan.

Pentingnya Kesadaran Masyarakat hingga Tantangan Pengelolaan Sampah Perkotaan

Selain persoalan pengelolaan sampah, perilaku masyarakat juga menjadi faktor yang memperparah kondisi.

Masih ditemukan warga yang membuang sampah langsung ke kali, sehingga memperbesar volume limbah yang mengalir.

Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi dan pengawasan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan.

Pencemaran kali tidak hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga pada kesehatan masyarakat.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990, pencemaran air terjadi akibat masuknya zat atau komponen lain yang menurunkan kualitas air.

Dalam konteks Kali Pesanggrahan, kondisi ini berpotensi merusak ekosistem sungai serta mengganggu keseimbangan lingkungan.

Selain itu, penyumbatan aliran air juga meningkatkan risiko banjir yang dapat berdampak langsung pada permukiman warga.

Permasalahan sampah di Kali Pesanggrahan menjadi gambaran nyata tantangan pengelolaan lingkungan di kota berkembang seperti Depok.

Kapasitas TPS yang terbatas serta sistem pengelolaan yang belum optimal menjadi faktor utama yang perlu dibenahi.

Di tengah momentum HUT ke-27 Kota Depok, kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan masih memerlukan perhatian serius.

Penanganan terpadu antara pemerintah, pengelola sampah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem kali di wilayah perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *