Ikan Sapu-Sapu Diburu Massal, Ancaman Nyata Ekosistem Sungai Indonesia Terungkap
adainfo.id – Fenomena perburuan ikan sapu-sapu kembali mencuat setelah upaya pemusnahan hingga 10 ton ikan invasif tersebut dilakukan di wilayah Jakarta.
Ikan dengan nama ilmiah Hypostomus plecostomus ini kini dianggap sebagai ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem perairan di Indonesia.
Invasi ikan sapu-sapu tidak hanya terjadi di ibu kota, tetapi juga telah meluas ke berbagai daerah seperti Sungai Kresek di Kediri hingga Danau Limboto, Gorontalo.
Dominasi spesies ini dinilai berpotensi menggeser keberadaan ikan-ikan endemik yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hayati.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran luas, terutama karena ikan sapu-sapu dikenal memiliki kemampuan bertahan hidup di lingkungan dengan kualitas air yang buruk.
Hal ini membuat spesies tersebut semakin sulit dikendalikan jika tidak ditangani secara serius.
Pemusnahan Harus Dilakukan Secara Berkelanjutan
Menanggapi fenomena ini, Guru Besar bidang Bioteknologi Perikanan dan Kelautan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Alim Isnansetyo, menegaskan bahwa upaya pemusnahan ikan sapu-sapu tidak bisa dilakukan secara sporadis.
Ia menilai, penangkapan harus dilakukan secara berkelanjutan agar populasi tidak kembali meledak dalam waktu singkat.
“Penangkapan itu harus secara berkesinambungan, terus-menerus. Bukan satu tahun sekali, tapi mungkin satu bulan sekali agar populasi tidak kembali meledak,” paparnya, dikutip Minggu (03/05/2026).
Menurutnya, pendekatan ini menjadi kunci dalam menekan laju pertumbuhan spesies invasif yang memiliki kemampuan reproduksi tinggi.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penangkapan massal semata tidak akan cukup jika tidak diimbangi dengan perbaikan kondisi lingkungan perairan.
Alim juga menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang membuat ikan sapu-sapu mendominasi adalah buruknya kualitas air di sungai dan danau.
Lingkungan yang tercemar justru menjadi habitat ideal bagi spesies ini.
“Kita harus meningkatkan kualitas lingkungan yang kini tercemar. Tanpa perbaikan kualitas air, ikan-ikan asli tidak akan bisa bertahan, sementara sapu-sapu akan terus mendominasi karena tidak memiliki musuh atau predator alami dan tahan terhadap kualitas air yang buruk dan terkontaminasi,” ungkapnya.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan ekosistem, di mana spesies lokal yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan perlahan menghilang.
Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mengganggu rantai makanan serta fungsi ekologis perairan.
Restocking Ikan Endemik Jadi Solusi
Selain memperbaiki kualitas lingkungan, Alim juga menekankan pentingnya langkah restorasi melalui penebaran kembali ikan-ikan endemik.
Upaya ini dinilai penting untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem yang telah terganggu akibat dominasi spesies invasif.
“Setelah lingkungan diperbaiki, introduksi kembali spesies menjadi kunci untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem,” terangnya.
Restocking tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan populasi ikan lokal.
Akam tetapi juga memperkuat daya saing spesies tersebut dalam menghadapi tekanan dari ikan invasif.
Langkah ini membutuhkan koordinasi antara pemerintah, akademisi, serta masyarakat agar berjalan efektif dan berkelanjutan.
Dalam aspek sosial, Alim menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat dalam mencegah penyebaran ikan sapu-sapu.
Ia menyebut bahwa awal mula invasi spesies ini tidak lepas dari aktivitas manusia.
“Awalnya ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan diperdagangkan untuk ikan hias. Ketika sudah besar, beberapa penghobi ikan hias ini melepas ke perairan umum atau mungkin tidak sengaja terlepas. Ini lah yang berbahaya, karena awal mula ikan ini bisa berkembang biak dengan masif di perairan sekitar,” tuturnya.
Perilaku tersebut menjadi salah satu penyebab utama meluasnya populasi ikan sapu-sapu di berbagai wilayah Indonesia.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat, khususnya para penghobi ikan hias, menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Ancaman Kesehatan dari Konsumsi Ikan Sapu-Sapu
Selain dampak ekologis, ikan sapu-sapu juga dinilai berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika dikonsumsi.
Alim secara tegas mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan ikan ini sebagai sumber pangan.
Ia menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu bukanlah spesies yang dibudidayakan secara khusus untuk konsumsi, sehingga standar keamanannya sulit dipastikan.
“Jangan mengonsumsi ikan sapu-sapu. Konsumsilah ikan yang memang dibudidayakan secara sengaja dengan cara budidaya yang baik. Biasanya ikan sapu-sapu hidup di perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat pada dagingnya sangat tinggi,” bebernya.
Risiko kontaminasi tersebut dapat berdampak serius bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, Alim juga tidak merekomendasikan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan ternak maupun pupuk.
Hal ini disebabkan potensi kontaminasi yang dapat merugikan makhluk hidup lain.
Menurutnya, jika ikan tersebut telah terpapar zat berbahaya, maka risiko penyebaran kontaminan akan semakin luas jika dimanfaatkan kembali.
“Harus diperhatikan mengenai prinsip kesejahteraan hewan yang kita pelihara, agar kita tidak memberikan pakan yang beracun kepada makhluk hidup lain,” ucapnya.
Pendekatan ini menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengelola hasil tangkapan dari perairan yang tercemar.
Metode Pemusnahan yang Aman
Sebagai langkah akhir, Alim merekomendasikan metode pemusnahan yang aman untuk mencegah dampak lanjutan terhadap lingkungan.
Ia menyarankan agar ikan sapu-sapu yang telah terbukti tercemar tidak dimanfaatkan, melainkan dimusnahkan dengan cara yang tepat.
“Jika memang sudah terbukti tercemar, ikan hasil tangkapan sebaiknya dikubur atau dibakar menggunakan incinerator. Hal ini dilakukan agar residu berbahaya atau kontaminan pada ikan tidak mencemari lingkungan,” tutupnya.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian spesies invasif sekaligus menjaga kualitas lingkungan agar tidak semakin memburuk.
Fenomena ikan sapu-sapu yang terus berulang di berbagai wilayah menunjukkan bahwa penanganan masalah ini membutuhkan pendekatan yang lebih serius, terintegrasi, dan melibatkan berbagai pihak.












