WNI Ditahan Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza, Desakan Pembebasan Menguat

ARY
Ilustrasi desakan pembebasan WNI dan relawan lainnya yang ditahan Israel dalam misi kemanusiaan ke Gaza. (Foto: Instagram/globalsumudflotilla)

adainfo.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan enam poin taujihat sebagai respons atas penculikan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh tentara Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza.

Kesembilan WNI tersebut diketahui merupakan relawan dan jurnalis yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF).

Mereka berada di sejumlah kapal bantuan yang bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza.

Taujihat bernomor Kep-52/DP-MUI/V/2026 itu ditandatangani Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan pada 21 Mei 2026 di Jakarta.

Dalam pernyataannya, MUI mengutuk keras tindakan yang dilakukan Israel terhadap para aktivis kemanusiaan tersebut.

“Aksi brutal tersebut secara nyata melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan hukum internasional, hukum laut serta prinsip-prinsip kemanusiaan universal,” tulis MUI dalam Taujihat itu dikutip Kamis (21/05/2026).

MUI Desak Israel Bebaskan 9 WNI

Dalam poin taujihat yang dikeluarkan, MUI meminta Israel segera membebaskan sembilan WNI beserta seluruh aktivis kemanusiaan lain yang ditahan tanpa syarat.

MUI juga mengutuk agresi militer Israel terhadap kapal sipil yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza.

Selain itu, MUI mendukung langkah Pemerintah Indonesia untuk mendorong negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta negara sahabat seperti Mesir, Yordania, dan Turki agar ikut memastikan keselamatan para WNI tersebut.

Tak hanya itu, MUI juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah Internasional untuk mengusut dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan tentara Israel.

Lembaga tersebut meminta kasus tersebut dibawa ke International Criminal Court dan International Court of Justice.

MUI turut mengajak umat Islam dan masyarakat dunia untuk terus memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi Palestina melalui dukungan filantropi serta mendesak penghentian blokade Gaza.

Selain itu, MUI juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan sembilan WNI agar segera dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul bersama keluarga.

MUI Bentuk Crisis Center Pembebasan Aktivis

Sebagai tindak lanjut, MUI membentuk crisis center guna mengawal proses pembebasan para aktivis kemanusiaan termasuk sembilan WNI yang ditahan Israel.

Ketua MUI Bidang Ukhuwah, Muhammad Zaitun Rasmin, mengatakan langkah tersebut menjadi bentuk keseriusan MUI dalam mengawal proses advokasi kemanusiaan.

“MUI menyampaikan permohonan kepada Presiden Prabowo dan membentuk crisis center untuk menampung masukan misalnya dari keluarga-keluarga korban. MUI menerima masukan itu untuk menguatkan dan memberi dukungan penuh,” paparnya.

Ia menjelaskan, crisis center tersebut nantinya akan menjadi wadah koordinasi berbagai pihak termasuk keluarga korban, organisasi masyarakat, serta lembaga filantropi.

MUI juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terkait langkah diplomasi yang dilakukan pemerintah.

Bahkan, apabila proses pembebasan tidak segera terealisasi, MUI membuka kemungkinan meminta pertemuan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.

“MUI akan meminta bertemu dengan Bapak Presiden Prabowo Subianto bila masalah ini tidak kunjung selesai, bila sandera tersebut belum dibebaskan dalam waktu dekat,” ungkapnya.

MUI Ajak Umat Bersatu Dukung Pembebasan WNI

Dalam kesempatan tersebut, Zaitun juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut bersuara mendukung pembebasan para aktivis kemanusiaan yang ditahan Israel.

Menurutnya, dukungan publik yang luas dapat memberikan tekanan moral internasional agar para sandera segera dibebaskan.

“MUI meminta semua umat bisa bersuara tentang ini. Kalau semua bersuara nyaring tentang pembebasan ini, insyaallah gemanya akan sampai ke sana dan para sandera akan cepat dibebaskan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Erick Yusuf menyebut pihaknya telah menyiapkan berbagai surat resmi kepada lembaga nasional maupun internasional untuk memperkuat upaya diplomasi dan advokasi kemanusiaan.

“Kita juga telah menyiapkan surat-surat resmi, bukan hanya kepada pimpinan nasional, tetapi juga kepada internasional, jadi lembaga-lembaga internasional yang terkait. Jadi kita harapkan, kita ini sebagaimana yang tadi disampaikan, delapan negara kita ingin bahu-membahu, kita ingin bersama-sama,” beber Erick.

Menurut Erick, fokus utama gerakan saat ini adalah memastikan para aktivis kemanusiaan segera dibebaskan serta bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza.

“Fokus dalam program yang singkat ini adalah pertama membebaskan dulu, yang kedua tentu tadi Ustadz Zaitun juga sampaikan, meloloskan yang namanya bantuan yang masuk ke Gaza. Jadi ini yang kita upayakan. Insyaallah selain itu kita juga ingin crisis center kita, kita aktifkan,” jelas Erick.

MUI juga mengajak ormas Islam, lembaga filantropi, dan berbagai komunitas masyarakat untuk bersama-sama mengawal gerakan kemanusiaan tersebut agar pembebasan para WNI dapat segera terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *