Saat Negara Lain Cemas Krisis Pangan, Indonesia Mulai Bidik Pasar Ekspor Beras
adainfo.id – Di saat organisasi pangan dan pertanian dunia memperingatkan ancaman krisis pangan global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia, Indonesia justru mulai menunjukkan posisi baru sebagai negara dengan cadangan pangan yang kuat dan potensi besar menjadi pemasok pangan internasional.
Peringatan tersebut disampaikan Food and Agriculture Organization (FAO) menyusul meningkatnya risiko gangguan perdagangan global, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting distribusi energi dan pangan dunia.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menilai kondisi tersebut dapat berkembang menjadi ancaman serius terhadap sektor pangan dan pertanian global apabila negara-negara tidak memperkuat ketahanan pangannya sejak sekarang.
“Saatnya telah tiba untuk mulai berpikir serius tentang bagaimana meningkatkan kapasitas pangan negara-negara, bagaimana meningkatkan ketahanan mereka terhadap hambatan ini,” papar Maximo Torero dikutip, Sabtu (23/05/2026).
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah telah mengantisipasi berbagai potensi gejolak global melalui penguatan produksi pangan nasional dan peningkatan cadangan beras.
Menurut Amran, Indonesia saat ini berada dalam posisi yang relatif aman karena produksi pangan nasional masih berada di atas kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insya Allah tetap aman,” beber Amran.
Ia menjelaskan produksi beras nasional saat ini berkisar antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan, sedangkan kebutuhan nasional berada di angka sekitar 2,5 juta ton per bulan.
“Produksi beras kita berkisar antara 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya produksi kita berada di atas konsumsi. Jadi pangan aman, masyarakat tidak perlu risau,” jelas Amran.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Cadangan Beras Indonesia Tertinggi Sepanjang Sejarah
Penguatan stok pangan nasional juga ditegaskan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono.
Ia menyebut Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog kini mencapai sekitar 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah modern Indonesia.
“Stok kita melimpah, sudah 5,3 juta ton. Potensi produksi dan serapan ke depan juga masih sangat besar,” beber Sudaryono.
Menurut Sudaryono, kekuatan stok pangan nasional tidak hanya berfungsi menjaga kebutuhan masyarakat di dalam negeri, tetapi juga membuka peluang Indonesia memperluas kerja sama pangan internasional.
Indonesia sebelumnya telah mulai membuka pasar baru melalui pengiriman beras premium sebanyak 2.280 ton senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215 ribu jemaah haji Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan 10 ribu ton beras kepada Palestina sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.
“Kita sudah kirim 10 ribu ton beras ke Palestina, ke Arab Saudi sekitar 2.000 ton. Ke depan, kita berharap bukan hanya jemaah Indonesia saat haji dan umrah yang mengonsumsi beras RI, tetapi juga jemaah negara lain,” kata Sudaryono.
Indonesia Tak Lagi Impor Beras Medium
Pemerintah menegaskan peluang ekspor pangan tetap dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri.
“Semua ekspor dihitung cermat. Jangan sampai kebutuhan dalam negeri justru terganggu,” tutur Sudaryono.
Perkembangan sektor pangan Indonesia saat ini dinilai menunjukkan perubahan besar dibanding masa krisis ekonomi 1997–1998.
Pada periode tersebut, stok beras nasional hanya berada di kisaran 893 ribu ton sehingga pemerintah harus melakukan impor besar di tengah pelemahan rupiah.
Kini situasinya berbeda. Produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton atau surplus lebih dari 3,5 juta ton dibanding kebutuhan nasional sekitar 31 juta ton.
Sepanjang 2025, Indonesia juga disebut tidak melakukan impor beras medium.
Cadangan beras pemerintah yang kini menembus lebih dari 5,3 juta ton meningkat sekitar 493 persen dibanding masa krisis.
Delapan Komoditas Strategis Diproyeksi Tanpa Impor
Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, sebanyak delapan dari sebelas komoditas strategis nasional diperkirakan tidak memerlukan impor.
Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi.
Sementara itu, impor jagung pakan bahkan telah dihentikan sejak 2025 karena produksi nasional dinilai sudah mampu menopang kebutuhan domestik.
Penguatan sektor pangan nasional juga ditopang reformasi pupuk dan energi nasional.
Pemerintah juga menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi hingga 20 persen sejak Oktober 2025 melalui efisiensi industri dan distribusi tanpa tambahan beban APBN.
Di sektor energi, pemerintah mulai menerapkan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 yang diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun.
Di tengah ancaman krisis pangan global dan ketidakpastian geopolitik dunia, Indonesia kini mulai memperkuat posisinya tidak hanya sebagai negara yang mampu menjaga ketahanan pangan domestik, tetapi juga sebagai calon pemasok pangan strategis bagi pasar internasional.












