Malaria Masih Mengintai, Kondisi Lingkungan Disebut Jadi Pemicu Utama Penyebaran

ARY
Ilustrasi penyakit malaria di Indonesia masih menjadi sorotan. (Foto: Professor25/Getty Images)

adainfo.id – Lonjakan kasus malaria di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah jumlah kasus pada tahun lalu tercatat mencapai lebih dari 706 ribu kasus atau meningkat sekitar 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa malaria masih menjadi ancaman serius yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi faktor lingkungan, geografis, hingga interaksi manusia dengan satwa liar.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah kasus malaria di Indonesia pada 2025 mencapai 706.297 kasus.

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 543.965 kasus.

Peningkatan kasus itu menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mencapai target eliminasi malaria nasional pada 2030.

Pakar UGM Sebut Lingkungan Jadi Faktor Utama

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wisnu Nurcahyo, menilai malaria di Indonesia sulit dikendalikan karena erat berkaitan dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles sebagai vektor utama penularan.

“Nyamuk sangat bergantung pada faktor lingkungan. Artinya, nyamuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik kalau lingkungannya mendukung. Itu yang menjadikan malaria di berbagai daerah di Indonesia sulit dikendalikan,” katanya dikutip, Sabtu (23/05/2026).

Menurut Wisnu, wilayah timur Indonesia khususnya Papua memiliki kondisi geografis yang sangat mendukung penyebaran malaria.

Curah hujan tinggi, kawasan pegunungan, hingga banyaknya genangan air jernih disebut menjadi habitat ideal bagi nyamuk Anopheles berkembang biak.

Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di Papua.

Selain Papua, kasus malaria endemis juga masih ditemukan di sejumlah wilayah lain seperti Kalimantan, Sumatera, hingga kawasan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo.

“Jika kondisi geografis mendukung, otomatis dengan mudah vektor malaria dapat berkembangbiak,” jelasnya.

Ancaman Malaria dari Satwa Liar

Wisnu juga menyoroti ancaman malaria zoonotik yang berasal dari satwa liar, khususnya primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan.

Menurutnya, penularan malaria di Indonesia tidak sepenuhnya berasal dari antarmanusia.

Salah satu jenis yang perlu diwaspadai adalah Plasmodium knowlesi, parasit malaria yang secara alami hidup pada primata dan dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.

“Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian,” ungkapnya.

Ia menjelaskan ancaman malaria zoonotik menjadi tantangan baru dalam pengendalian malaria nasional karena melibatkan faktor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sekaligus.

Obat Lama Dinilai Tak Lagi Efektif

Dalam aspek pengobatan, Wisnu menyebut pemerintah selama ini telah menyediakan obat antimalaria gratis di wilayah endemis.

Namun efektivitas pengobatan kini menghadapi tantangan baru akibat munculnya resistensi parasit terhadap sejumlah obat lama seperti kina.

Akibat kondisi tersebut, tenaga kesehatan harus menggunakan obat generasi baru yang harganya lebih mahal dan membutuhkan distribusi lebih kompleks.

Persoalan distribusi obat dan tenaga kesehatan di wilayah terpencil juga masih menjadi hambatan besar.

Sulitnya akses geografis dan faktor keamanan membuat masyarakat di wilayah endemis sering mengalami keterlambatan diagnosis maupun pengobatan.

Padahal malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.

Edukasi dan One Health Dinilai Jadi Kunci

Wisnu menilai keberhasilan pengendalian malaria tidak bisa hanya bergantung pada sektor kesehatan manusia semata.

Menurutnya, pendekatan One Health menjadi langkah penting karena melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan secara terintegrasi.

“Edukasi terhadap masyarakat berperan sangat penting dalam pencegahan malaria, khususnya untuk pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan,” tuturnya.

Ia mengatakan pengendalian malaria harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor mulai dari deteksi dini, pengobatan, pengendalian vektor, hingga pelestarian lingkungan.

“Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja,” tukasnya.

Di tengah meningkatnya kasus malaria nasional, penguatan edukasi masyarakat, pengendalian lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi langkah penting agar target eliminasi malaria Indonesia pada 2030 dapat tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *