Kerusakan Sungai Dinilai Tak Bisa Diselesaikan Hanya dengan Memburu Ikan Sapu-sapu

ARY
Ilustrasi pencemaran sungai bukan hanya karena keberadaan ikan sapu-sapu. (Foto: Instagram/pramonoanungw)

adainfo.id – Di tengah maraknya anggapan bahwa ikan sapu-sapu menjadi penyebab rusaknya sungai di Indonesia, muncul tanggapan baru yang menilai bahwa spesies invasif tersebut hanya dijadikan sasaran atas persoalan lingkungan yang jauh lebih kompleks.

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Sungai Yang Bermasalah, Ikan Sapu-sapu Yang Disalahkan” yang digelar Komunitas Serambi Disertasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

Forum tersebut mengangkat ironi pengelolaan sungai di Indonesia, di mana ikan sapu-sapu kerap diposisikan sebagai penyebab utama rusaknya ekosistem sungai.

Padahal akar persoalan dinilai berasal dari pencemaran air, sedimentasi, perubahan tata ruang, hingga lemahnya tata kelola lingkungan perkotaan.

Dalam diskusi tersebut, sungai dipahami bukan sekadar ruang ekologis, tetapi juga ruang sosial, budaya, ekonomi, hingga politik yang terus mengalami tekanan akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Melalui forum itu, ikan sapu-sapu dipandang sebagai simbol bagaimana krisis ekologis sering kali disederhanakan melalui pencarian “kambing hitam”, sementara persoalan struktural justru terabaikan.

Diskusi Sungai Dikemas Lewat Seni Pertunjukan

Acara dibuka dengan performance art dari seniman teater Herdiaz Sihombing atau yang dikenal dengan nama Mbeing.

Pertunjukan tersebut menggambarkan gerakan-gerakan ikan sapu-sapu sebagai metafora makhluk yang tersudutkan dan dipersalahkan dalam krisis lingkungan.

Pementasan itu juga diiringi pembacaan puisi yang merefleksikan hubungan manusia dengan sungai, memori kota, serta kegelisahan ekologis masyarakat urban.

Pendekatan seni dalam forum diskusi tersebut dinilai menjadi cara untuk menghadirkan isu lingkungan secara lebih dekat dan emosional kepada masyarakat.

Ketua Komunitas Serambi Disertasi FIB UI, Nanang Asfarinal, mengatakan forum tersebut bertujuan membuka ruang pemahaman yang lebih luas terkait persoalan lingkungan dan sungai.

“Forum ini mengajak kita melihat persoalan dari beragam sudut pandang dan mengedepankan kajian untuk mendalami serta memahami persoalan sebelum mengambil tindakan yang sporadis,” tutur Nanang dalam keterangannya, Sabtu (23/05/2026).

“Melalui ruang intelektual ini, kita bertukar pikiran dengan kewarasan dalam berpikir untuk memahami kompleksitas persoalan sungai dan lingkungan,” sambungnya.

Isu Ikan Sapu-sapu Dinilai Berdampak Sosial

Menariknya, dalam forum tersebut panitia juga menyajikan menu siomay sebagai simbol refleksi sosial terhadap dampak isu ikan sapu-sapu di tengah masyarakat.

Pilihan menu tersebut bukan tanpa alasan. Penyelenggara menilai berkembangnya informasi yang tidak utuh mengenai ikan sapu-sapu sempat memunculkan stigma terhadap pedagang makanan berbahan ikan, khususnya pedagang siomay.

Kondisi tersebut bahkan disebut berdampak pada tekanan ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari usaha kuliner berbasis ikan.

Melalui simbol kuliner tersebut, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Diskusi tersebut juga menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipahami secara hitam putih atau hanya menyalahkan satu spesies tertentu tanpa melihat akar masalah yang lebih luas.

Sungai Dipandang Sebagai Ruang Sosial dan Budaya

Forum yang digelar Komunitas Serambi Disertasi FIB UI mencoba menghadirkan pendekatan multidisiplin dalam membaca persoalan sungai di Indonesia.

Selain aspek ekologis, sungai juga dipandang sebagai ruang hidup yang berkaitan erat dengan dinamika sosial, budaya, ekonomi, hingga politik masyarakat perkotaan.

Tekanan pembangunan yang tidak terkendali disebut membuat banyak sungai kehilangan fungsi ekologisnya dan semakin rentan mengalami pencemaran maupun kerusakan lingkungan.

Melalui perpaduan diskusi akademik, seni pertunjukan, refleksi publik, hingga simbol budaya keseharian, forum tersebut diharapkan menjadi ruang dialog yang lebih kritis dan manusiawi dalam memahami persoalan lingkungan.

Harapannya masyarakat tidak lagi melihat ikan sapu-sapu sebagai satu-satunya penyebab rusaknya sungai.

Melainkan mulai memahami bahwa krisis ekologis merupakan persoalan kompleks yang membutuhkan pembenahan tata kelola lingkungan secara menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *