Teknologi Sel Surya Ramah Lingkungan Berbasis Minyak Kayu Putih Mulai Dikembangkan
adainfo.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi semikonduktor organik ramah lingkungan berbasis minyak kayu putih untuk aplikasi sel surya berbiaya rendah.
Inovasi tersebut menjadi terobosan baru dalam pengembangan energi terbarukan yang lebih aman dan berkelanjutan di Indonesia.
Pengembangan teknologi ini dilakukan melalui Pusat Riset Sistem Nanoteknologi (PRSN) BRIN sebagai upaya mencari alternatif pengganti pelarut toksik yang selama ini masih banyak digunakan dalam industri semikonduktor organik.
Teknologi semikonduktor organik sendiri saat ini menjadi salah satu fokus pengembangan dunia karena dinilai memiliki efisiensi tinggi untuk perangkat sel surya generasi baru.
Namun, di balik potensinya yang besar, proses fabrikasi material tersebut masih bergantung pada bahan kimia berbahaya seperti klorobenzena dan kloroform yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan.
BRIN Kembangkan Sel Surya dari Minyak Kayu Putih
Peneliti Ahli Muda PRSN BRIN, Mohamad Insan Nugraha, mengatakan penggunaan pelarut toksik dalam industri semikonduktor organik masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan teknologi energi terbarukan.
Menurutnya, meski efisiensi semikonduktor organik saat ini mampu mencapai lebih dari 17 persen, proses pembuatannya masih belum sepenuhnya ramah lingkungan.
“Semikonduktor organik yang banyak diaplikasikan saat ini, meskipun efisiensinya bisa mencapai lebih dari 17%, masih difabrikasi menggunakan pelarut toksik seperti klorobenzena dan kloroform,” papar Insan dikutip, Senin (25/05/2026).
Sebagai solusi alternatif, tim peneliti BRIN memanfaatkan minyak kayu putih sebagai bahan pelarut dalam proses fabrikasi semikonduktor organik.
Minyak kayu putih dipilih karena dinilai lebih aman bagi lingkungan sekaligus memiliki ketersediaan melimpah di Indonesia.
“Kami menggunakan minyak kayu putih karena lebih ramah lingkungan dan ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia,” ungkapnya.
Penggunaan bahan alami tersebut juga dinilai dapat membuka peluang pengembangan industri energi berbasis sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan.
Proses Produksi Lebih Cepat dan Hemat Energi
Dalam pengembangannya, BRIN menggunakan metode spin coating untuk proses fabrikasi semikonduktor organik.
Metode tersebut dilakukan mulai dari pembentukan hole transporting layer hingga electron transporting layer sebelum tahap akhir deposisi elektroda.
Insan menjelaskan proses produksi teknologi sel surya ini relatif cepat dan membutuhkan energi yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional lainnya.
“Dalam waktu kurang dari satu jam, kami dapat memfabrikasi sel surya hingga lapisan electron transporting layer dengan suhu rendah di bawah 100 derajat Celcius,” jelasnya.
Efisiensi proses tersebut menjadi salah satu keunggulan penting karena dapat menekan biaya produksi sekaligus mengurangi konsumsi energi dalam tahap fabrikasi.
Selain itu, penggunaan suhu rendah dalam proses produksi juga membuat teknologi ini lebih fleksibel untuk dikembangkan dalam skala industri di masa mendatang.
Material Ringan Cocok untuk Wilayah Rawan Gempa
Selain ramah lingkungan dan hemat biaya, semikonduktor organik berbasis minyak kayu putih juga memiliki karakteristik material yang lebih ringan dibandingkan semikonduktor berbasis silikon.
Keunggulan tersebut dinilai sangat potensial diterapkan di Indonesia yang memiliki banyak wilayah rawan gempa.
Menurut Insan, material ringan dapat mengurangi risiko tambahan beban pada bangunan apabila diaplikasikan sebagai panel surya di atap rumah maupun genteng bangunan.
“Materialnya sangat ringan sehingga berpotensi lebih aman diaplikasikan pada atap rumah atau genteng di wilayah rawan gempa,” bebernya.
Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan energi surya yang lebih luas di sektor rumah tangga maupun bangunan komersial.
Selain mendukung pengembangan energi bersih, teknologi ini juga dinilai mampu meningkatkan ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Masih Tahap Laboratorium, BRIN Buka Kolaborasi Industri
Saat ini, pengembangan semikonduktor organik berbasis minyak kayu putih masih berada pada tahap penelitian laboratorium.
Meski demikian, BRIN optimistis teknologi tersebut memiliki prospek besar untuk dikembangkan ke tahap produksi massal dan implementasi yang lebih luas.
Karena itu, BRIN membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak industri guna mempercepat hilirisasi teknologi sel surya ramah lingkungan tersebut.
“Harapannya, teknologi sel surya semikonduktor organik ini dapat dikembangkan pada skala lebih besar dan dimanfaatkan secara luas di Indonesia,” tukasnya.
Pengembangan teknologi sel surya berbasis minyak kayu putih ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia berbahaya, inovasi tersebut juga memperlihatkan potensi besar pemanfaatan sumber daya alam lokal untuk teknologi masa depan yang lebih berkelanjutan.












