Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Mulai Waspada

ARY
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS. (Foto: DAVE GARCIA/Pexels)

adainfo.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko ekonomi ke depan.

Berdasarkan data Google Finance pada Kamis (04/06/2026) pagi, nilai tukar dolar AS sempat menyentuh level Rp18.010 sebelum bergerak di kisaran Rp18.001 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan penguatan dolar sekitar 0,76 persen terhadap rupiah.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu (03/06/2026), rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.

Pelemahan tersebut semakin mendekatkan rupiah ke ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed Tekan Rupiah

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Menurutnya, pasar masih mencermati perkembangan situasi setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan Bahrain.

“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ucap Ibrahim dikutip, Kamis (04/06/2026).

Ia menjelaskan laporan media Iran yang menyebut minimnya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir memicu spekulasi bahwa proses negosiasi kedua negara mengalami kebuntuan.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang kemudian memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Di sisi lain, pasar juga memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Data ekonomi AS yang dirilis pada awal pekan menunjukkan jumlah lowongan kerja meningkat di luar perkiraan pasar.

Situasi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa ekonomi AS masih cukup kuat sehingga ruang penurunan suku bunga menjadi semakin terbatas.

Pelaku pasar saat ini juga menunggu sejumlah indikator ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, hingga data pesanan pabrik yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter menjelang rilis data nonfarm payrolls.

Inflasi Dalam Negeri Ikut Menambah Tekanan

Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai sentimen domestik turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Berdasarkan data terbaru, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm), lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang berada di level 0,13 persen.

Peningkatan inflasi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Sehingga ikut memengaruhi persepsi investor terhadap aset-aset domestik.

Karena itu, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis berada dalam rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.

Menkeu Bantah Pelemahan Rupiah Dipicu Fiskal

Di tengah pelemahan rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa tekanan terhadap mata uang nasional dipicu kondisi fiskal pemerintah.

Menurutnya, pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih banyak disebabkan oleh sentimen pasar dan berbagai rumor yang berkembang di kalangan pelaku keuangan.

“Karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar,” katanya pada Rabu (03/06/2026).

Purbaya mencontohkan salah satu rumor yang sempat beredar mengenai adanya permintaan kepada sektor perbankan untuk melakukan stress test dengan asumsi nilai tukar rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS.

“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah mengeluarkan isu seperti itu,” tutur Purbaya.

Ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

Pemerintah, kata dia, tetap memberikan ruang bagi bank sentral untuk menjalankan fungsi menjaga kestabilan rupiah.

“Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal saja,” ungkapnya.

Pemerintah Siap Perkuat Koordinasi

Sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya memastikan koordinasi antarotoritas keuangan tetap berjalan secara rutin untuk memantau perkembangan kondisi pasar.

Menurutnya, pemerintah siap meningkatkan koordinasi apabila diperlukan langkah-langkah tambahan guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

“Kalau ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” bebernya.

Purbaya menegaskan bahwa pembahasan terkait stabilitas keuangan dilakukan secara berkala melalui forum koordinasi yang melibatkan berbagai lembaga terkait.

“Setiap bulan kita ada rapat deputi. Mereka diskusi terus dan memberikan masukan ke kita. Tapi kalau masalah nilai tukar, Bank Sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke Bank Sentral,” tuturnya.

Dengan tekanan global yang masih tinggi dan sentimen domestik yang belum sepenuhnya mereda, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam beberapa waktu ke depan.

Pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan data ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *