Ratusan Spesies Burung Singgah di Indonesia, Perubahan Iklim Jadi Ancaman Nyata

ARY
Migrasi puluhan burung langka ke Indonesia. (Foto: David Dibert/Pexels)

adainfo.id – Indonesia kembali menjadi jalur penting bagi ratusan spesies burung migran dunia.

Sepanjang 2026, tercatat sebanyak 220 spesies burung migran dan vagrant melintasi atau singgah di berbagai wilayah Nusantara.

Namun di balik fenomena alam yang menakjubkan tersebut, terdapat fakta mengkhawatirkan karena sekitar 27 spesies di antaranya berstatus terancam punah dan menghadapi berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup mereka.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai jalur migrasi internasional.

Akan tetapi juga menjadi lokasi vital yang menentukan keberhasilan perjalanan ribuan kilometer yang dilakukan burung-burung migran setiap tahunnya.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria Yudha, menjelaskan burung migran yang singgah di Indonesia umumnya membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi fisik setelah melakukan perjalanan panjang melintasi berbagai negara dan benua.

“Karena bermigrasi ribuan mil sangat melelahkan secara fisik, maka tempat persinggahan yang strategis mampu memberikan mereka kesempatan beristirahat dan memulihkan kekuatan otot-ototnya,” tuturnya dikutip, Kamis (04/06/2026).

Indonesia Jadi Tempat Persinggahan Penting Burung Migran

Perjalanan migrasi burung merupakan salah satu fenomena alam paling luar biasa di dunia satwa.

Dalam satu musim migrasi, beberapa spesies mampu menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk berpindah dari lokasi berkembang biak menuju wilayah yang menyediakan sumber makanan lebih baik.

Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena berada di jalur migrasi internasional yang menghubungkan kawasan Asia Timur dengan Australia dan Selandia Baru.

Keberadaan lahan basah, kawasan pesisir, hutan mangrove, sabana, hingga hutan tropis menjadikan Indonesia sebagai lokasi ideal bagi burung migran untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan panjang mereka.

Donan menjelaskan bahwa singgah bukan sekadar aktivitas beristirahat. Burung migran harus memulihkan tenaga sekaligus mengisi kembali cadangan energi yang terkuras selama penerbangan jarak jauh.

Menurutnya, cadangan lemak menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan migrasi seekor burung.

Persinggahan memungkinkan mereka mencari makan secara intensif untuk menumpuk trigliserida atau cadangan lemak yang dibutuhkan selama perjalanan berikutnya.

Cuaca Buruk Memaksa Burung Migran Mendarat

Selain faktor kelelahan, kondisi cuaca menjadi alasan lain yang membuat burung migran harus singgah di berbagai wilayah Indonesia.

Migrasi sangat bergantung pada angin buritan atau angin yang bertiup searah dengan jalur terbang.

Ketika kondisi cuaca berubah ekstrem, burung migran terpaksa menghentikan perjalanan untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Badai, angin kencang dari arah berlawanan, hingga suhu ekstrem dapat mengganggu kemampuan navigasi dan menguras energi secara signifikan.

“Tempat singgah ini menjadi ruang bagi para burung dalam mencari makan sekaligus cadangan makanan, serta mencari perlindungan dari predator maupun cuaca buruk, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan,” bebernya.

Keberadaan lokasi persinggahan yang aman menjadi faktor krusial bagi kelangsungan hidup burung migran.

Tanpa area istirahat yang memadai, banyak spesies tidak akan mampu menyelesaikan perjalanan mereka.

Ancaman Terbesar Datang dari Kerusakan Habitat

Meski Indonesia memiliki peran penting dalam jalur migrasi global, upaya konservasi burung migran masih menghadapi tantangan yang kompleks.

Donan menjelaskan bahwa burung migran bergantung pada berbagai ekosistem berbeda yang tersebar di banyak negara sepanjang jalur migrasi mereka.

Hal tersebut membuat perlindungan spesies migran menjadi lebih rumit dibandingkan satwa yang hanya hidup di satu wilayah tertentu.

Salah satu ancaman terbesar adalah kerusakan habitat persinggahan yang terjadi akibat pembangunan, urbanisasi, hingga alih fungsi lahan.

Lahan basah, hutan bakau, garis pantai, dan kawasan hutan yang selama ini menjadi lokasi istirahat burung migran terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia.

Ketika area tersebut hilang, burung migran kehilangan tempat untuk memulihkan tenaga dan mencari makan selama perjalanan.

Donan menegaskan bahwa hilangnya satu titik persinggahan penting dapat berdampak besar terhadap peluang hidup burung migran selama menempuh perjalanan ribuan kilometer.

Perubahan Iklim Mengubah Pola Migrasi

Ancaman lain yang semakin serius adalah perubahan iklim global yang memengaruhi pola migrasi burung.

Perubahan suhu dan pergeseran musim menyebabkan ketidaksesuaian waktu antara kedatangan burung migran dengan ketersediaan sumber makanan di lokasi berkembang biak.

Akibatnya, banyak burung tiba setelah puncak populasi serangga yang menjadi makanan utama anak-anak burung telah berlalu.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan tingkat keberhasilan reproduksi berbagai spesies migran.

Selain itu, wilayah penghalang alami seperti Gurun Sahara juga mengalami perubahan akibat peningkatan suhu global.

Panas yang semakin ekstrem menyebabkan penyusutan sumber air dan oase yang selama ini menjadi tempat singgah penting bagi burung migran. Akibatnya, risiko kematian selama migrasi menjadi semakin tinggi.

Gedung Tinggi hingga Lampu Kota Jadi Ancaman Mematikan

Tidak hanya ancaman dari perubahan lingkungan, burung migran juga menghadapi berbagai bahaya yang berasal dari aktivitas manusia.

Jalur migrasi saat ini banyak terpotong oleh gedung pencakar langit, menara komunikasi, jaringan listrik, hingga turbin angin.

Benturan dengan berbagai infrastruktur tersebut menjadi salah satu penyebab utama kematian burung migran di berbagai negara.

Spesies berukuran besar yang terbang berkelompok diketahui sangat rentan mengalami tabrakan dengan saluran listrik tegangan tinggi.

Selain itu, pencahayaan kota yang berlebihan pada malam hari juga menimbulkan ancaman serius.

Lampu-lampu buatan dapat mengganggu sistem navigasi alami burung migran yang melakukan perjalanan pada malam hari.

“Burung-burung terperangkap berputar-putar di sekitar struktur ini, menyebabkan mereka kehabisan energi yang mereka simpan untuk perjalanan mereka,” terangnya.

Dorong Perlindungan Jalur Migrasi Asia Timur-Australasia

Untuk mengatasi berbagai ancaman tersebut, Donan menilai Indonesia perlu memperkuat perlindungan terhadap habitat penting yang berada di sepanjang Jalur Migrasi Asia Timur-Australasia atau East Asian-Australasian Flyway Partnership (EAAFP).

Menurutnya, pendekatan konservasi harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan pemerintah, masyarakat lokal, organisasi lingkungan, akademisi, hingga sektor swasta.

Perlindungan lahan basah, hutan bakau, dan kawasan pesisir menjadi prioritas utama karena wilayah tersebut merupakan tempat singgah vital bagi burung air migran.

Selain itu, penegakan hukum terhadap perburuan liar dan perdagangan burung ilegal juga harus diperkuat.

“Upaya terkoordinasi sangat diperlukan dari para pembuat kebijakan dan masyarakat setempat untuk memastikan perjalanan yang aman bagi spesies burung migran tersebut,” katanya.

Donan juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap penelitian dan pengumpulan data ilmiah mengenai migrasi burung di Indonesia.

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemantauan satwa melalui program seperti Sensus Burung Air Asia maupun platform pencatatan burung dapat membantu memperkuat basis data konservasi nasional.

“Kita dapat berpartisipasi dalam inisiatif seperti Sensus Burung Air Asia (AWC) tahunan atau mencatat pengamatan kita di platform komunitas seperti eBird atau Burungnesia untuk memberikan data ilmiah yang penting,” jelasnya.

Menurut Donan, perlindungan burung migran tidak dapat dilakukan secara parsial.

Diperlukan strategi lintas negara yang terkoordinasi untuk menjaga habitat persinggahan, mengurangi risiko dari aktivitas industri, serta memastikan hukum konservasi berjalan efektif di seluruh jalur migrasi yang dilalui spesies-spesies tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *