Harga Oli Melonjak, Bengkel dan Konsumen di Depok Kian Tertekan

AZL
Konsumen saat mengisi oli kendaraan di kawasan Beji, Kota Depok, Minggu (07/06/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kenaikan harga kebutuhan otomotif mulai memberikan tekanan bagi pelaku usaha bengkel dan pemilik kendaraan.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga berbagai merek oli kendaraan bermotor mengalami lonjakan cukup signifikan, bahkan mencapai puluhan persen untuk sejumlah produk yang banyak digunakan masyarakat.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya perawatan kendaraan, tetapi juga memaksa pemilik bengkel menyesuaikan strategi usaha agar tetap mampu melayani pelanggan di tengah daya beli yang masih tertekan.

Di sejumlah bengkel Kota Depok, konsumen mulai mengubah pola pembelian dengan memilih produk yang lebih terjangkau.

Sementara pelaku usaha harus menyediakan lebih banyak pilihan oli untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan dari berbagai kalangan.

Salah satu pemilik bengkel di kawasan Kecamatan Beji, Kota Depok, Fandy, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh produk otomotif, namun oli menjadi salah satu komponen yang paling banyak dikeluhkan pelanggan.

Harga Oli Shell dan MPX Mengalami Kenaikan Signifikan

Menurut Fandy, beberapa merek oli yang populer di kalangan pengguna kendaraan mengalami kenaikan harga cukup tinggi dalam waktu relatif singkat.

“Yang paling tinggi naik harganya itu merek Shell, hampir naik Rp25 ribu. Terus yang merek MPX naik Rp20 ribu, itu juga sudah dua kali naik harganya,” ujarnya saat ditemui, Minggu (07/06/2026).

Ia menjelaskan kenaikan harga berlangsung secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

Meski tidak terjadi sekaligus, akumulasi kenaikan tersebut akhirnya memberikan dampak besar terhadap biaya operasional bengkel maupun pengeluaran pelanggan.

Salah satu produk yang paling terasa kenaikannya adalah oli merek Shell yang banyak digunakan untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Saat ini harga oli Shell di pasaran berada pada kisaran Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per botol.

Nilai tersebut meningkat sekitar 20 hingga 40 persen dibandingkan harga sebelumnya, tergantung jenis dan spesifikasi produk yang dipilih konsumen.

Kenaikan tersebut membuat sebagian pemilik kendaraan mulai mempertimbangkan kembali merek oli yang biasa digunakan.

Konsumen Mulai Beralih ke Oli yang Lebih Murah

Meningkatnya harga oli membuat banyak pelanggan mencari alternatif yang lebih ramah di kantong.

Jika sebelumnya konsumen cenderung setia pada satu merek tertentu, kini banyak yang mulai mempertimbangkan produk lain dengan harga lebih rendah.

Fenomena ini semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya biaya perawatan kendaraan secara keseluruhan.

“Paling konsumen jadinya ganti-ganti jenis oli. Soalnya mereka memilih yang lebih murah, terus ada juga yang maunya yang standar. Jadi kita bengkel ya muter otak aja lah,” kata Fandy.

Menurutnya, perubahan perilaku konsumen tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha bengkel.

Mereka harus mampu menyediakan stok produk yang lebih beragam agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dengan kemampuan ekonomi yang berbeda-beda.

Tidak sedikit pelanggan yang sebelumnya menggunakan oli premium kini memilih produk standar dengan harga lebih terjangkau untuk menekan biaya servis kendaraan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa faktor harga kini menjadi pertimbangan utama dibandingkan preferensi merek yang selama ini menjadi pilihan pelanggan.

Bengkel Terpaksa Menyesuaikan Strategi Usaha

Perubahan pola konsumsi masyarakat turut memengaruhi strategi bisnis para pemilik bengkel.

Selain menyediakan lebih banyak variasi produk, mereka juga harus mengatur manajemen stok secara lebih hati-hati agar tidak mengalami kerugian akibat fluktuasi harga.

Bengkel yang sebelumnya hanya fokus menjual merek tertentu kini mulai menambah pilihan produk dari berbagai kategori harga.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga loyalitas pelanggan sekaligus mempertahankan omzet usaha di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Menurut Fandy, pelanggan juga kini lebih sensitif terhadap perubahan harga.

Kenaikan beberapa ribu rupiah saja dapat memengaruhi keputusan mereka dalam memilih produk maupun melakukan perawatan kendaraan.

Karena itu, bengkel harus mampu memberikan pilihan yang lebih fleksibel tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada konsumen.

Tidak Hanya Oli, Sparepart dan Ban Ikut Naik

Fandy mengungkapkan bahwa lonjakan harga tidak hanya terjadi pada produk oli.

Hampir seluruh kebutuhan otomotif mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Mulai dari suku cadang kendaraan hingga ban juga mengalami penyesuaian harga yang berdampak langsung terhadap biaya servis secara keseluruhan.

“Bukan hanya oli sebenarnya yang mengalami kenaikan harga. Memang semuanya, hampir semuanya naik, seperti sparepart dan juga ban,” ujarnya.

Kenaikan harga berbagai komponen tersebut membuat biaya perawatan kendaraan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa waktu lalu.

Bagi pemilik kendaraan yang rutin melakukan servis berkala, kondisi ini tentu menambah beban pengeluaran rumah tangga.

Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk tekanan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup lainnya.

Pelaku Usaha Harap Harga Kembali Stabil

Fandy berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan otomotif yang banyak digunakan masyarakat.

Mereka khawatir jika tren kenaikan harga terus berlangsung, daya beli konsumen akan semakin menurun dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha bengkel skala kecil maupun menengah.

Menurut Fandy, harga yang terus naik berpotensi membuat masyarakat menunda servis kendaraan atau memilih mengurangi frekuensi perawatan demi menghemat pengeluaran.

“Kalau bisa memang stabil lagi lah, jangan sampai kenaikan harga ini semakin liar. Karena konsumen juga jadi jarang yang mau kalau harganya terlalu tinggi,” tutur Fandy.

Harapan tersebut muncul di tengah berbagai faktor yang memengaruhi harga produk otomotif, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta meningkatnya biaya impor bahan baku dan komponen kendaraan.

Tekanan Ekonomi Pengaruhi Sektor Otomotif

Kenaikan harga oli motor dan berbagai kebutuhan otomotif menjadi cerminan tekanan ekonomi yang turut dirasakan sektor usaha kecil.

Bengkel yang selama ini bergantung pada aktivitas servis kendaraan kini harus menghadapi tantangan ganda, yakni kenaikan biaya operasional dan menurunnya kemampuan belanja konsumen.

Di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada pilihan yang semakin sulit dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.

Perawatan kendaraan yang sebelumnya menjadi kebutuhan rutin kini mulai disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

Situasi tersebut membuat pelaku usaha berharap adanya kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga serta mendukung keberlangsungan sektor otomotif.

Dengan harga yang lebih terkendali, bengkel dapat tetap beroperasi secara sehat dan masyarakat tidak semakin terbebani oleh biaya perawatan kendaraan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *