Waspada Hantavirus, Anak-anak Bisa Berisiko Terinfeksi dari Paparan Tikus

ARY
Seseorang sedang menunjukkan sampel tabung bertuliskan hantavirus. (Foto: Nissa Dutta/Getty Images)

adainfo.id – Hantavirus kembali menjadi perhatian masyarakat setelah berbagai informasi mengenai penyakit tersebut ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir.

Meski bukan penyakit baru, infeksi yang ditularkan melalui hewan pengerat ini tetap perlu diwaspadai karena dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan serius, terutama apabila terlambat dikenali dan ditangani.

Akademisi Universitas Indonesia sekaligus Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Prayitno, mengingatkan masyarakat agar lebih memahami cara penularan, gejala, serta langkah pencegahan Hantavirus.

Menurutnya, pemahaman yang baik menjadi kunci penting untuk menekan risiko penyebaran penyakit tersebut.

Ari menjelaskan bahwa Hantavirus merupakan kelompok virus RNA yang berasal dari famili Hantaviridae.

Virus ini secara alami hidup pada tikus dan berbagai jenis hewan pengerat lainnya.

Menariknya, hewan yang terinfeksi umumnya tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Namun demikian, tikus yang membawa virus tetap dapat menyebarkan Hantavirus melalui urine, air liur, dan kotorannya.

Keberadaan tikus di lingkungan sekitar rumah, gudang, kebun, maupun bangunan yang jarang digunakan menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko paparan virus kepada manusia.

“Hantavirus merupakan kelompok virus RNA dari famili Hantaviridae yang secara alami hidup pada tikus maupun hewan pengerat lainnya,” ujar Ari dikutip, Senin (22/06/2026).

Cara Penularan Hantavirus pada Manusia

Penularan Hantavirus paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus yang bercampur dengan debu dari urine atau kotoran tikus yang telah mengering.

Kondisi ini kerap terjadi saat membersihkan gudang, rumah kosong, loteng, atau ruangan tertutup yang lama tidak digunakan tanpa menggunakan alat pelindung diri.

Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus lalu tanpa sadar menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Dalam kasus tertentu, gigitan tikus juga dapat menjadi media penularan meskipun kejadian tersebut tergolong lebih jarang.

Ari menegaskan bahwa penularan dari manusia ke manusia sangat jarang ditemukan sehingga sumber utama infeksi tetap berasal dari paparan hewan pengerat yang terinfeksi.

Anak-anak Juga Berisiko Terinfeksi

Meski kasus Hantavirus pada anak masih tergolong rendah, kelompok usia ini tetap memiliki risiko terpapar virus.

Menurut Ari, rasa ingin tahu yang tinggi membuat anak-anak sering bermain di berbagai tempat tanpa memahami risiko kesehatan yang mungkin mengintai.

Risiko infeksi dapat meningkat apabila anak sering bermain di area yang memiliki populasi tikus tinggi, lingkungan dengan sanitasi buruk, gudang, kebun, rumah kosong, hingga kawasan yang baru saja terdampak banjir.

“Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sering bermain di berbagai tempat tanpa memahami risiko paparan lingkungan. Karena itu pengawasan orang tua menjadi penting, terutama saat anak bermain di area yang berpotensi terpapar tikus,” paparnya.

Karena itu, peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak menjadi sangat penting untuk mengurangi kemungkinan paparan Hantavirus.

Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai

Salah satu tantangan dalam mendeteksi Hantavirus adalah gejala awalnya yang mirip dengan penyakit infeksi umum seperti flu.

Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh terasa lemas, mual, muntah, serta kehilangan nafsu makan.

Karena gejalanya tidak spesifik, banyak orang yang tidak menyadari bahwa kondisi tersebut bisa berkaitan dengan infeksi Hantavirus.

Apabila penyakit berkembang menjadi lebih berat, gejala yang muncul dapat berupa batuk, sesak napas, nyeri perut, mimisan, gangguan fungsi ginjal yang ditandai berkurangnya produksi urine, hingga penurunan kesadaran.

“Gejala awal Hantavirus sering tidak spesifik. Namun bila anak mengalami demam disertai riwayat paparan tikus atau berada di lingkungan yang berisiko, orang tua perlu lebih waspada dan segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan,” jelas Ari.

Dua Penyakit Utama Akibat Hantavirus

Hantavirus diketahui dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama pada manusia.

Pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu penyakit yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Jenis ini banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa, termasuk Indonesia.

Kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang menyerang sistem pernapasan dan lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika.

Kedua kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Menurut Ari, infeksi Hantavirus dapat merusak lapisan pembuluh darah sehingga menyebabkan kebocoran cairan ke berbagai jaringan tubuh, termasuk paru-paru.

Akibatnya, penderita dapat mengalami sesak napas berat, tekanan darah menurun, syok, hingga gangguan fungsi ginjal yang mengancam keselamatan jiwa.

Diagnosis dan Penanganan Hantavirus

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan mempertimbangkan riwayat paparan pasien terhadap tikus maupun kondisi lingkungan tempat tinggalnya.

Selain pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium seperti tes darah, pemeriksaan antibodi, hingga metode Polymerase Chain Reaction (PCR) guna mendeteksi keberadaan virus.

Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus spesifik yang efektif untuk seluruh jenis Hantavirus.

Karena itu, penanganan lebih difokuskan pada terapi suportif sesuai kondisi pasien, termasuk menjaga fungsi organ vital dan mengatasi komplikasi yang muncul.

Cara Mencegah Penularan Hantavirus

Pencegahan menjadi langkah paling efektif dalam mengurangi risiko infeksi Hantavirus.

Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menyimpan makanan dalam wadah yang aman agar tidak menarik hewan pengerat.

Saat membersihkan area berdebu yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus, penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan.

Selain itu, kebiasaan mencuci tangan setelah beraktivitas juga menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi risiko penularan.

Ari menegaskan bahwa kesadaran masyarakat memegang peranan penting dalam mencegah penyebaran penyakit ini.

“Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah dan menghindari kontak dengan tikus sebenarnya sangat membantu dalam mencegah penularan. Bila anak mengalami demam dengan riwayat paparan tikus, segera periksakan ke fasilitas kesehatan,” ungkapnya.

Dengan menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan tikus, serta mengenali gejala sejak dini, risiko Hantavirus dapat ditekan sehingga kesehatan keluarga tetap terlindungi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *