Fenomena Langka di Depok, Bunga Suweg Tiba-Tiba Mekar dan Jadi Tontonan Warga

ARY
Penampakan bunga suweg yang tumbuh di area permukiman warga kawasan Bojongsari, Kota Depok, Selasa (23/06/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kemunculan bunga suweg di kawasan permukiman warga Kota Depok mendadak menjadi perhatian masyarakat.

Tanaman yang sering disebut-sebut sebagai bunga bangkai tersebut ditemukan mekar di lingkungan Perumahan Bumi Mentari, Pondok Petir, Kecamatan Bojongsari.

Hal tersebut langsung mengundang rasa penasaran warga karena bentuknya yang tidak biasa serta aroma khas yang menyengat.

Fenomena langka ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Tidak sedikit warga yang datang untuk melihat secara langsung tanaman yang jarang ditemukan tumbuh di kawasan perkotaan tersebut.

Keberadaannya bahkan menjadi perbincangan hangat karena banyak warga awalnya mengira sumber aroma menyengat tersebut berasal dari bangkai hewan.

Tanaman suweg yang mekar di tengah permukiman padat penduduk ini menunjukkan bahwa kekayaan flora lokal masih dapat bertahan dan tumbuh di lingkungan perkotaan.

Selain memiliki bentuk unik, tanaman ini juga menyimpan nilai budaya dan manfaat pangan yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia.

Aroma Menyengat Jadi Awal Penemuan Bunga Suweg

Kemunculan bunga suweg pertama kali diketahui warga setelah tercium aroma busuk yang cukup kuat dari sekitar lokasi tanaman tumbuh.

Bau yang menyerupai bangkai itu membuat sejumlah warga berusaha mencari sumbernya.

Setelah ditelusuri, warga akhirnya menemukan bahwa aroma tersebut berasal dari bunga suweg yang sedang mekar.

Kejadian itu langsung menarik perhatian masyarakat sekitar yang penasaran dengan keberadaan tanaman tersebut.

Warga setempat, Etika Nurjanah (50), mengatakan bahwa tanaman tersebut memang dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan bunga bangkai, meskipun sebenarnya merupakan bunga dari tanaman suweg.

“Awalnya karena ada bau busuk yang cukup menyengat. Setelah dicari-cari, ternyata berasal dari bunga itu. Di sini sering disebut bunga bangkai, tetapi kalau di Jawa dulu dikenal sebagai kembang suweg,” ungkapnya saat ditemui, Selasa (23/06/2026).

Menurut Etika, kemunculan bunga suweg bukanlah hal yang sepenuhnya asing, terutama bagi masyarakat yang pernah tinggal di wilayah pedesaan.

Namun, keberadaannya di kawasan perumahan perkotaan menjadi pemandangan yang cukup langka.

Suweg Memiliki Siklus Hidup yang Unik

Selain dikenal karena aromanya yang khas, tanaman suweg juga memiliki siklus hidup yang berbeda dibandingkan tanaman pada umumnya.

Bunga akan muncul terlebih dahulu sebelum daun tumbuh dan berkembang.

Etika menjelaskan bahwa kemunculan bunga suweg biasanya terjadi pada musim tertentu ketika kondisi lingkungan mendukung pertumbuhannya.

“Biasanya tumbuh kalau musim seperti sekarang ini. Setelah bunga muncul dan layu, nantinya akan tumbuh satu batang daun yang semakin besar. Dalam beberapa bulan daun akan berkembang lebar sebelum akhirnya menguning dan mati. Setelah itu umbinya bisa dipanen,” ujar Etika.

Siklus tersebut membuat tanaman suweg menjadi salah satu jenis flora yang menarik untuk dipelajari.

Banyak warga yang baru mengetahui bahwa bunga yang mereka sebut bunga bangkai itu sebenarnya merupakan bagian dari tanaman umbi-umbian yang memiliki nilai manfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Keunikan bentuk bunga yang menjulang dengan warna khas juga membuat tanaman ini sering dijadikan objek foto oleh warga yang datang berkunjung ke lokasi.

Umbi Suweg Dikenal Sebagai Bahan Pangan Tradisional

Di balik penampilannya yang unik dan aromanya yang menyengat, suweg ternyata memiliki manfaat ekonomi dan pangan yang cukup besar.

Umbinya telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan makanan tradisional di berbagai daerah di Indonesia.

Etika menjelaskan bahwa umbi suweg dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan sederhana yang biasa dikonsumsi masyarakat pedesaan.

Di sejumlah daerah, umbi suweg biasa dikukus atau direbus untuk dikonsumsi secara langsung.

Selain itu, bahan pangan ini juga kerap diolah menjadi kolak dengan tambahan kelapa parut dan garam sebagai pelengkap.

Keberadaan tanaman suweg di lingkungan perumahan pun menjadi pengingat bahwa banyak tanaman lokal Indonesia yang memiliki manfaat besar, namun mulai jarang dikenal oleh generasi muda.

Melalui kemunculan bunga tersebut, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengenal kembali salah satu tanaman tradisional yang dahulu cukup akrab dengan kehidupan warga pedesaan.

Menjadi Sarana Edukasi Keanekaragaman Hayati

Sejak ditemukan pada Minggu pagi, bunga suweg yang tumbuh di lokasi tersebut terus menarik perhatian warga.

Banyak masyarakat datang untuk melihat langsung tanaman tersebut sambil mencari informasi mengenai asal-usul dan manfaatnya.

Fenomena ini secara tidak langsung menjadi sarana edukasi mengenai keanekaragaman hayati yang masih dapat ditemukan di tengah perkembangan kawasan perkotaan.

Kehadiran tanaman tersebut membuktikan bahwa lingkungan permukiman masih mampu menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan lokal.

Warga berharap tanaman tersebut tidak dicabut ataupun dirusak sebelum menyelesaikan seluruh siklus hidupnya.

Dengan demikian, masyarakat dapat menyaksikan proses pertumbuhan suweg mulai dari fase berbunga hingga menghasilkan daun besar dan akhirnya membentuk umbi yang siap dipanen.

Selain menjadi objek perhatian masyarakat, kemunculan bunga suweg juga memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara manusia dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *