Tiga Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Kini Resmi Berstatus PSN
adainfo.id – Pemerintah kembali mengambil langkah strategis dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan dengan menetapkan tiga proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Ketiga proyek tersebut berada di Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Raya yang selama ini menghadapi tantangan besar terkait pengelolaan sampah dan kapasitas tempat pembuangan akhir.
Penetapan status PSN menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak lagi memandang persoalan sampah hanya sebagai isu lingkungan semata.
Sampah kini diposisikan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi sekaligus mendukung target pengembangan energi baru terbarukan nasional.
Tiga Proyek PSEL Resmi Berstatus PSN
Pemerintah menetapkan proyek PSEL di Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Raya sebagai bagian dari daftar PSN.
Penetapan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 tentang Daftar Proyek Strategis Nasional serta sejumlah regulasi terkait percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari gelombang pertama pembangunan fasilitas Waste-to-Energy yang dikembangkan oleh PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), salah satu anak perusahaan PT Danantara Investment Management (DIM).
Dengan status PSN, proyek-proyek tersebut akan memperoleh dukungan pemerintah dalam bentuk percepatan koordinasi, fasilitasi penyelesaian hambatan pembangunan, hingga dukungan kebijakan yang diperlukan agar proyek berjalan sesuai target.
Sampah Tidak Lagi Berakhir di TPA
Penetapan status PSN terhadap proyek-proyek ini menunjukkan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar di berbagai daerah.
Melalui pembangunan fasilitas PSEL, sampah yang sebelumnya hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) diharapkan dapat dimanfaatkan menjadi energi yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.
Konsep Waste-to-Energy sendiri memungkinkan sampah diolah menggunakan teknologi tertentu untuk menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni mengurangi volume sampah yang menumpuk dan meningkatkan pasokan energi dari sumber yang lebih berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas perkotaan, volume sampah terus bertambah setiap tahun sehingga dibutuhkan solusi yang lebih modern dibandingkan metode pembuangan konvensional.
Dukung Solusi Jangka Panjang Krisis Sampah
Chief Executive Officer DIM, Pandu Sjahrir, mengatakan penetapan tiga proyek tersebut menjadi momentum penting dalam membangun fondasi industri Waste-to-Energy di Indonesia.
“Melalui Denera, kami ingin membantu percepatan realisasi ekosistem Waste-to-Energy yang mampu menjadi bagian dari solusi jangka panjang atas tantangan pengelolaan sampah di Indonesia,” ungkapnya dikutip, Senin (15/06/2026).
Menurut Pandu, penetapan PSN juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan solusi yang lebih terintegrasi untuk mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks di berbagai kota besar.
“Penetapan PSN terhadap tiga lokasi gelombang pertama ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menghadirkan solusi yang terintegrasi dalam mengatasi krisis sampah,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa proyek-proyek tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap TPA, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan sampah menjadi sumber energi yang produktif.
Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar Jadi Proyek Perdana
Tiga proyek yang telah memperoleh status PSN meliputi PSEL Kota Bekasi yang dikelola oleh Bekasi Environment Nusantara, PSEL Bogor Raya yang dikelola Nusantara Bogor New Energy, serta PSEL Denpasar Raya yang dikelola Nusantara Bali New Energy.
Ketiga badan usaha tersebut dibentuk khusus untuk mengembangkan dan mengoperasikan proyek sesuai rencana pembangunan yang telah disusun bersama pemerintah.
Status PSN memberikan berbagai kemudahan dalam proses pengembangan proyek, mulai dari koordinasi antarinstansi hingga penyelesaian berbagai hambatan administratif yang berpotensi menghambat pelaksanaan pembangunan.
Pemerintah berharap dukungan tersebut dapat mempercepat proses realisasi sehingga manfaat proyek dapat segera dirasakan masyarakat.
Pengelolaan Sampah Kini Jadi Kepentingan Strategis Nasional
Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, menilai status PSN menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah melalui fasilitas PSEL kini telah menjadi bagian dari agenda strategis nasional.
Menurutnya, kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan sampah modern semakin mendesak seiring meningkatnya volume sampah di berbagai wilayah perkotaan.
“Penetapan PSN ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah melalui PSEL bukan lagi sekadar kebutuhan daerah, melainkan bagian dari kepentingan strategis nasional. Bagi Denera, status ini tidak hanya mempercepat realisasi di tiga lokasi awal, tetapi juga menjadi pijakan penting bagi pengembangan fasilitas PSEL di lokasi-lokasi berikutnya,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah nasional, dari yang sebelumnya berfokus pada pembuangan menjadi pemanfaatan sumber daya.
Jadi Fondasi Ekosistem Waste-to-Energy Indonesia
DIM dan Denera memandang tiga proyek perdana ini sebagai fondasi awal dalam membangun ekosistem pengolahan sampah modern yang terintegrasi di Indonesia.
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyedia teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, proyek ini diharapkan mampu menghadirkan solusi berkelanjutan bagi persoalan sampah perkotaan.
Selain memberikan manfaat lingkungan melalui pengurangan volume sampah, fasilitas PSEL juga berpotensi menciptakan manfaat sosial dan ekonomi, termasuk membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap kapasitas TPA di berbagai daerah, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik dinilai sebagai salah satu langkah strategis yang mampu mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber daya bernilai.
Proyek ini juga diharapkan menjadi bagian penting dalam mendukung transisi Indonesia menuju pembangunan yang lebih hijau, modern, dan berkelanjutan.












