Warga Soroti Efektivitas Alat Berat di Kali Pesanggrahan, Banjir Bulak Barat–Pasir Putih Depok Belum Teratasi
adainfo.id – Banjir yang memutus akses jalan penghubung Bulak Barat dan Pasir Putih di Kecamatan Cipayung, Kota Depok, menyisakan persoalan baru yang kini menjadi perhatian warga.
Selain terganggunya aktivitas masyarakat akibat terendamnya jalur penghubung, efektivitas penanganan banjir oleh pemerintah juga mulai dipertanyakan.
Sorotan utama warga tertuju pada keberadaan alat berat yang ditempatkan di kawasan Kali Pesanggrahan.
Ekskavator yang selama ini disiagakan untuk menangani tumpukan sampah dan sedimentasi dinilai belum bekerja secara maksimal, sehingga persoalan banjir terus berulang setiap tahun.
Masyarakat menilai proses normalisasi sungai berjalan lambat.
Tumpukan sampah dan material longsoran yang diduga berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung disebut masih menghambat aliran air di Kali Pesanggrahan.
Akibatnya, debit air sulit mengalir dengan lancar ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut, sehingga risiko banjir dinilai tetap tinggi.
Warga Sebut Alat Berat Jarang Beroperasi
Salah seorang warga Pasir Putih yang meminta identitasnya disamarkan, Babeh, mengaku masyarakat sebenarnya berharap alat berat yang ditempatkan pemerintah benar-benar dimanfaatkan secara maksimal untuk membersihkan sungai.
Menurutnya, keberadaan alat tersebut selama ini belum memberikan dampak nyata terhadap penanganan banjir.
“Itu memang udah tahunan alat berat enggak berfungsi secara maksimal. Kalo masyarakat di sini kan pengennya alat itu bekerja dengan baik, bukannya setengah-setengah kayak sekarang,” ujarnya saat ditemui, Jumat (19/06/2026).
Ia mengatakan warga lebih menginginkan pemerintah memprioritaskan normalisasi Kali Pesanggrahan sebelum membangun infrastruktur lainnya.
Menurutnya, langkah tersebut akan lebih efektif dalam mengurangi risiko banjir yang selama ini terus menghantui permukiman warga.
“Semua juga masyarakat, tujuannya kan memang istilahnya pengennya kali diberesin dulu. Setelah udah diberesin, jembatan baru dibangun, kan gitu enak,” katanya.
Ekskavator Terlihat Terparkir Tanpa Aktivitas
Berdasarkan pantauan di lokasi, satu unit alat berat jenis ekskavator masih berada di kawasan Bulak Barat.
Pada badan alat tersebut terpasang identitas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok serta Satgas Banjir Kota Depok.
Namun saat dilakukan pemantauan, tidak terlihat adanya aktivitas pengerukan maupun operator yang mengoperasikan alat berat tersebut.
Kondisi itu, menurut warga, bukan pertama kali terjadi.
Mereka mengaku ekskavator kerap berada di lokasi dalam waktu cukup lama tanpa digunakan secara optimal untuk mengangkut sampah maupun sedimentasi di Kali Pesanggrahan.
Babeh bahkan mengaku selama ini aktivitas alat berat hanya berlangsung dalam waktu singkat sebelum akhirnya berhenti beroperasi.
“Kalau saya sih selama ini hanya lihat paling beko kerja satu jam sampai dua jam, terus habis itu petugasnya pulang. Jadi masyarakat menilai akhirnya kurang bermanfaat dengan adanya kendaraan itu,” kata Babeh.
Pengerukan Dinilai Belum Maksimal
Keberadaan ekskavator sebelumnya diharapkan mampu mempercepat proses pengangkatan sampah, lumpur, dan material longsoran yang menghambat aliran sungai.
Namun minimnya aktivitas pengerukan membuat warga mempertanyakan efektivitas program penanganan banjir yang selama ini dijalankan.
Masyarakat menilai apabila sedimentasi dan tumpukan sampah tidak segera dibersihkan secara menyeluruh, maka potensi banjir akan terus terjadi ketika intensitas hujan meningkat.
Selain itu, warga juga mempertanyakan efisiensi penggunaan anggaran karena operasional alat berat membutuhkan biaya bahan bakar, perawatan, serta dukungan personel yang tidak sedikit.
Menurut mereka, keberadaan alat berat seharusnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya menjadi alat yang lebih banyak terparkir di bantaran sungai.
“Masyarakat akhirnya jadi bertanya-tanya, karena alat berat beberapa cuma ditaro di pojokan tanpa adanya pengoperasian. Maksudnya masyarakat ini, kondisi dari tahun ke tahun di sekitar sini itu enggak ada perkembangan dan perubahan sama sekali, masih banjir-banjir juga,” tegasnya.
Warga Minta Evaluasi Penanganan Banjir
Warga berharap Pemerintah Kota Depok bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan banjir di kawasan Kali Pesanggrahan.
Menurut mereka, normalisasi sungai harus dilakukan secara konsisten melalui pengerukan sedimentasi, pengangkutan sampah, serta pembersihan material longsoran agar kapasitas sungai kembali optimal.
Selain itu, masyarakat juga meminta agar alat berat yang telah disiagakan benar-benar dimanfaatkan secara maksimal sehingga keberadaannya dapat memberikan manfaat langsung dalam mengurangi risiko banjir.
Warga juga berharap pemerintah membuka informasi secara transparan mengenai program penanganan banjir, termasuk jadwal pengerukan sungai, target pekerjaan, hingga progres normalisasi Kali Pesanggrahan.
Keterbukaan informasi tersebut dinilai penting agar masyarakat mengetahui langkah konkret yang sedang dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan banjir yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, adainfo.id telah berupaya menghubungi pihak PUPR Kota Depok melalui Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan Bidang Sumber Daya Air, Erly Santoso, untuk meminta tanggapan terkait keluhan warga tersebut.
Namun, yang bersangkutan belum memberikan respons terkait persoalan yang disampaikan masyarakat mengenai operasional alat berat dan penanganan banjir di kawasan Kali Pesanggrahan.












