Tren Micro Tourism Kian Menguat, Wisata Jarak Dekat Jadi Pilihan
adainfo.id – Sektor pariwisata nasional mencatat adanya perubahan signifikan dalam pola perjalanan wisata selama momentum libur Natal dan Tahun Baru atau Nataru.
Wisata jarak dekat dengan durasi singkat kini menjadi pilihan utama masyarakat, seiring menguatnya fenomena micro tourism di berbagai daerah tujuan wisata.
Micro tourism atau microturism dipahami sebagai aktivitas berwisata dengan cakupan wilayah yang lebih kecil, perjalanan dekat, serta waktu liburan yang relatif singkat.
Tren ini berkembang pesat karena dianggap lebih efisien, aman, dan ramah anggaran tanpa mengurangi kualitas pengalaman rekreasi.
Pola perjalanan micro tourism memungkinkan wisatawan menekan biaya transportasi dan akomodasi, sekaligus memaksimalkan waktu berlibur.
Fokus utama wisatawan bergeser pada eksplorasi destinasi lokal yang mudah dijangkau dan dinilai memiliki tingkat keamanan lebih baik.
Selain faktor ekonomi, aspek perceived safety atau persepsi keamanan terhadap risiko bencana alam juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan tujuan wisata, terutama saat libur panjang.
Akses Tol Dorong Lonjakan Wisatawan
Peneliti Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. M. Yusuf, mengungkapkan bahwa lonjakan wisatawan di sejumlah destinasi, seperti Yogyakarta dan kota tujuan wisata lainnya selama libur Nataru, tidak terlepas dari kemudahan akses transportasi.
Menurutnya, keberadaan jaringan tol yang semakin luas memangkas waktu tempuh secara drastis dan mendorong minat wisatawan untuk melakukan perjalanan jarak dekat.
“Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah, sehingga banyak sekali wisatawan sampai membludak,” tutur Yusuf dikutip Minggu (04/01/2026).
Selain itu, di balik meningkatnya minat wisatawan, Yusuf memberikan catatan mengenai pentingnya mitigasi bencana di setiap destinasi wisata.
Ia menilai, kesiapan menghadapi risiko bencana harus menjadi bagian integral dari pengelolaan pariwisata.
Setiap destinasi wisata, menurutnya, perlu memiliki roadmap mitigasi bencana yang jelas dan terstruktur.
“Pertama, identifikasi potensi bencana. Kedua, bagaimana menggunakan sumber daya baik untuk menjadi satu modal atau kekuatan dalam merespon bencana. Ketiga, jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan,” ungkapnya.
Overtourism Akhir Pekan Perlu Diantisipasi
Yusuf juga menyoroti fenomena penumpukan wisatawan atau overtourism yang kerap terjadi pada akhir pekan dan musim liburan.
Kondisi ini tidak hanya membebani infrastruktur, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas pengalaman wisata.
Sebagai solusi, ia mendorong pengelola destinasi untuk mengembangkan konsep weekdays tourism melalui penguatan sektor health and wellness tourism.
Menurut Yusuf, peluang pengembangan wisata pada hari kerja masih sangat terbuka.
Program wisata berbasis kesehatan dan kebugaran dinilai mampu menarik segmen pasar yang berbeda sekaligus mengurai kepadatan akhir pekan.
“Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor,” ucapnya.
Konsep ini diyakini dapat membantu menciptakan distribusi kunjungan wisata yang lebih merata sepanjang minggu.
Kritik terhadap Subsidi Tiket Pesawat dan WFM
Selain membahas tren wisata, Yusuf juga melontarkan kritik terhadap wacana pemberian subsidi tiket pesawat.
Ia menilai kebijakan tersebut tidak menyentuh akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara.
“Orang jadi berpikir dua kali untuk berwisata jauh itu karena harga tiket pesawat tinggi. Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui prosedur penurunan pajak suku cadang pesawat dan maskapai bandara juga harga avtur,” jelasnya.
Tak hanya itu, Yusuf turut mengkritisi gagasan work from mall (WFM) yang belakangan mengemuka.
Menurutnya, konsep tersebut kurang memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal.
Ia justru mendorong pengembangan konsep work from tourism destination yang dinilai lebih berpihak pada ekonomi masyarakat.
“Ketimbang kita menghidupkan kapitalis, mari kita coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat,” paparnya.
Pariwisata Inklusif Jadi Kunci Masa Depan
Lebih lanjut, Yusuf menekankan bahwa pariwisata inklusif merupakan kunci pembangunan sektor pariwisata ke depan.
Menurutnya, aktivitas wisata dan proses penyegaran pikiran atau healing merupakan hak seluruh lapisan masyarakat.
Ia mengapresiasi inisiatif pemerintah daerah dalam membangun ruang publik gratis hingga tingkat kecamatan.
Namun, ia mengingatkan agar pengelolaan ruang tersebut dilakukan secara profesional.
“Pariwisata inklusif sejatinya harus mampu menarik minat masyarakat luas, termasuk dari luar daerah. Tentunya dengan memegang teguh prinsip pengelolaan yang baik dan aspek keselamatan bencana,” tutupnya.











