Program MBG Hadapi Tantangan Komunikasi
adainfo.id– Implementasi kebijakan publik tidak hanya berkaitan dengan perencanaan teknis dan pelaksanaan program, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana kebijakan tersebut dipahami oleh masyarakat.
Hal ini menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini dijalankan pemerintah.
Pengamat komunikasi publik, Ivan Nurdin, menilai bahwa salah satu tantangan dalam kebijakan tersebut terletak pada aspek komunikasi pesan kebijakan kepada masyarakat.
Menurut Ivan, banyak kebijakan publik menghadapi situasi di mana pesan yang ingin disampaikan pemerintah tidak selalu dipahami dengan makna yang sama oleh publik.
“Banyak kebijakan publik menghadapi situasi di mana pesan yang dimaksudkan oleh pemerintah tidak selalu dipahami dengan makna yang sama oleh masyarakat,” ujar Ivan.
Ia menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu komunikasi, fenomena ini dikenal sebagai kesenjangan makna atau meaning gap.
Kondisi tersebut muncul ketika pesan yang dirancang oleh komunikator ditafsirkan secara berbeda oleh audiens yang menerimanya.
Tantangan Komunikasi dalam Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan dan nutrisi masyarakat, terutama bagi anak-anak.
Pemerintah menekankan pentingnya asupan gizi yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan.
Namun menurut Ivan, pesan yang disampaikan pemerintah melalui program ini belum tentu selalu dipahami masyarakat dengan cara yang sama.
Ia melihat adanya perbedaan cara pandang antara pendekatan yang digunakan pemerintah dengan cara masyarakat memahami konsep makanan.
“Dalam kebijakan MBG, pemerintah menyampaikan pesan tentang pentingnya makanan bergizi bagi kesehatan dan perkembangan anak,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat sering kali melihat makanan dalam konteks yang lebih praktis dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
“Masyarakat tidak selalu melihat makanan dari sudut pandang nutrisi. Banyak orang memahaminya dari pengalaman makan sehari-hari,” ujar Ivan.
Menurutnya, faktor rasa, rasa kenyang, serta kebiasaan makan yang sudah terbentuk sejak lama menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat ketika menilai sebuah makanan.
Perbedaan Penafsiran Pesan Kebijakan
Perbedaan cara memaknai pesan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi kebijakan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi.
Ivan menilai bahwa keberhasilan komunikasi kebijakan justru sangat bergantung pada bagaimana pesan tersebut diterima dan dimaknai oleh masyarakat.
“Yang lebih penting adalah bagaimana pesan itu dimaknai oleh publik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan kebijakan publik tidak hanya ditentukan oleh desain program yang baik atau ketersediaan anggaran yang memadai.
Faktor komunikasi juga memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana kebijakan dipahami dan diterima oleh masyarakat.
Dalam konteks program Makan Bergizi Gratis, komunikasi publik menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kebijakan tersebut.
Ivan menilai bahwa program ini membawa pesan penting mengenai kesehatan dan nutrisi masyarakat yang perlu dipahami secara luas oleh publik.
“Dalam kebijakan publik, komunikasi memegang peran yang sangat penting. Sebuah kebijakan tidak hanya soal program yang dijalankan, tetapi juga soal bagaimana pesan dari kebijakan itu dipahami oleh masyarakat,” kata Ivan.
Pentingnya Strategi Komunikasi Publik
Menurut Ivan, tujuan kebijakan tidak akan sepenuhnya tercapai apabila pesan yang ingin disampaikan pemerintah dipahami secara berbeda oleh masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan interpretasi terhadap pesan kebijakan dapat memunculkan berbagai persepsi di tengah masyarakat.
“Jika pesan kebijakan tidak dipahami dengan cara yang sama, maka akan muncul berbagai interpretasi di masyarakat. Hal ini bisa mempengaruhi bagaimana publik memandang dan merespons kebijakan tersebut,” ujarnya.
Dalam konteks program Makan Bergizi Gratis, ia melihat adanya potensi perbedaan pemahaman mengenai konsep makanan bergizi antara pemerintah dan masyarakat.
Pemerintah cenderung menggunakan pendekatan nutrisi dalam mendefinisikan makanan bergizi.
Pendekatan ini biasanya merujuk pada standar gizi, komposisi makanan, serta kebutuhan nutrisi bagi tubuh.
Sementara itu, masyarakat sering memaknai makanan berdasarkan pengalaman sehari-hari yang lebih sederhana.
“Pemerintah menggunakan pendekatan nutrisi dalam mendefinisikan makanan bergizi. Namun masyarakat sering kali memaknai makanan berdasarkan pengalaman sehari-hari seperti rasa, kenyang, atau kebiasaan makan,” jelasnya.
Komunikasi Publik Jadi Kunci Keberhasilan Kebijakan
Perbedaan cara pandang tersebut menunjukkan bahwa komunikasi publik menjadi faktor penting dalam menjembatani kesenjangan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat.
Ivan menilai bahwa strategi komunikasi kebijakan perlu dirancang dengan lebih kuat agar pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami secara luas.
Upaya ini dapat dilakukan melalui pendekatan komunikasi yang lebih dekat dengan pengalaman masyarakat serta penggunaan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Menurutnya, memperkuat komunikasi publik tidak hanya akan membantu masyarakat memahami tujuan kebijakan, tetapi juga dapat meningkatkan dukungan terhadap program yang dijalankan pemerintah.
“Memperkuat komunikasi publik menjadi penting untuk menjembatani perbedaan pemahaman antara pemerintah dan masyarakat mengenai tujuan dari kebijakan tersebut,” ujar Ivan.












