Inspiratif! Guru di Depok Kembangkan UMKM Sambil Tetap Mengajar

AZL
Abdal (25), seorang guru pada salah satu SMP di Kota Depok kembangkan UMKM. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk membuka peluang usaha yang mampu meningkatkan pendapatan.

Fenomena tersebut juga terlihat di Depok, di mana sejumlah pelaku usaha mulai bermunculan dengan menawarkan berbagai produk yang diminati masyarakat selama bulan puasa hingga menjelang Hari Raya Idulfitri.

Selain pelaku usaha yang telah lama menjalankan bisnis, terdapat pula masyarakat yang memanfaatkan momen Ramadan untuk mencoba merintis usaha baru.

Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari makanan berbuka puasa, minuman segar, hingga perlengkapan ibadah yang banyak dicari masyarakat selama bulan Ramadan.

Salah satunya adalah Abdal (25), seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Depok yang mencoba mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang makanan ringan.

Di tengah kesibukannya sebagai tenaga pendidik, Abdal memanfaatkan momentum Ramadan untuk menjual berbagai jenis snack kering yang banyak diminati masyarakat.

Menjual Berbagai Snack Favorit Ramadan

Produk yang dijual Abdal terdiri dari beberapa jenis makanan ringan yang umum dikonsumsi saat bulan puasa maupun menjelang Lebaran.

“Isinya macam-macam, yang sekarang lagi ditampilin ada samosa, emping pedas, sama kacang telur Medan. Karena sekarang lagi Ramadan jadi lagi gede-gedean buat jualannya,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (13/03/2026).

Permintaan terhadap makanan ringan cenderung meningkat selama Ramadan karena masyarakat banyak menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa maupun sebagai suguhan saat berkumpul bersama keluarga.

Hal tersebut membuat usaha makanan ringan menjadi salah satu peluang bisnis yang cukup menjanjikan selama bulan puasa.

Membagi Waktu antara Mengajar dan Berwirausaha

Meski menjalankan usaha, Abdal tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai guru di sekolah tempatnya mengajar.

Ia mengaku harus pandai mengatur waktu agar kegiatan usaha tidak mengganggu tugas utamanya sebagai pendidik.

Proses produksi hingga pengemasan produk biasanya dilakukan pada malam hari setelah selesai menjalankan aktivitas mengajar di sekolah.

“Setiap orang pasti punya 24 jam yang sama. Jadi ketika pagi sampai sore ngajar, ya malamnya baru packing. Ini juga nggak sendiri, tetap ada nyokap dan teman-teman juga yang bantu buat bikin semua ini,” jelasnya.

Menurutnya, dukungan keluarga dan teman-teman sangat membantu dalam menjalankan usaha tersebut.

Dengan adanya kerja sama, proses produksi dan pengemasan dapat dilakukan dengan lebih efisien meskipun dilakukan di sela-sela kesibukan utama.

Ingin Memberi Contoh kepada Murid

Selain bertujuan menambah penghasilan, Abdal mengaku memiliki alasan lain dalam menjalankan usaha tersebut.

Ia ingin memberikan contoh nyata kepada para murid bahwa keberanian untuk mencoba hal baru, termasuk berwirausaha, merupakan bagian dari pembelajaran kehidupan.

Menurutnya, seorang guru tidak hanya berperan menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi juga dapat memberikan teladan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Guru itu pekerjaan buat mencontohkan. Jadi kita nggak perlu banyak ngomong harus ini harus itu ke murid-murid. Contohin saja, siapa tahu kita dapat ilmu dan mereka juga mudah-mudahan bisa dapat ilmu juga,” terangnya.

Ia berharap pengalaman yang dijalaninya dapat menjadi inspirasi bagi para siswa agar tidak takut mencoba berbagai peluang yang ada di sekitar mereka.

UMKM Masih Hadapi Tantangan Modal dan Pemasaran

Meski peluang usaha selama Ramadan terbuka cukup luas, Abdal menilai para pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan bisnis mereka.

Salah satu kendala utama yang sering dihadapi pelaku usaha kecil adalah keterbatasan modal usaha.

Menurutnya, banyak pelaku UMKM memiliki produk yang potensial namun kesulitan mengembangkan usaha karena keterbatasan dana untuk produksi maupun distribusi.

Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah kemampuan memasarkan produk secara lebih luas.

“Kalau untuk support UMKM, kendala utamanya pasti modal. Banyak UMKM bahkan untuk modal yang cukup saja sulit. Terus yang kedua bagaimana memasarkan produknya, karena mereka juga tidak punya banyak pengetahuan soal itu,” ujarnya.

Ia menilai dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM masih perlu diperkuat agar usaha kecil dapat berkembang secara berkelanjutan.

Harapan Dukungan Ekosistem bagi UMKM

Abdal berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih konkret kepada pelaku UMKM.

Terutama dalam membangun ekosistem usaha yang mendukung pemasaran produk.

Menurutnya, pelatihan bagi pelaku UMKM sebaiknya diiringi dengan penyediaan wadah pemasaran yang jelas agar produk yang dihasilkan benar-benar memiliki pasar.

“Kalau misalnya kasih pelatihan, wadahnya juga harus jelas. Misalnya bikin bazar, seberapa menjamin produknya bisa laku atau kualitasnya seperti apa. Kadang di bazar-bazar kualitas produknya juga belum maksimal, itu yang menurut saya perlu dibenahi dari hulu sampai hilir,” pungkasnya.

Melalui momentum Ramadan, banyak pelaku usaha kecil berharap dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan.

Aktivitas ekonomi musiman yang muncul selama bulan puasa juga menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Terutama bagi pelaku usaha mikro yang mencoba memanfaatkan peluang pasar yang meningkat selama periode tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *