Harga Gula Mulai Bergejolak, Produksi Nasional Dipacu Saat Musim Giling
adainfo.id – Fluktuasi harga gula konsumsi yang terjadi sepanjang April 2026 mulai mendapat perhatian serius pemerintah.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia (APGI) kini memperkuat langkah kolaboratif untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan tetap aman di pasaran.
Pemerintah optimistis situasi ini dapat mulai terkendali pada Mei 2026 seiring dimulainya musim giling tebu di berbagai daerah sentra produksi nasional.
Produksi gula bulanan diproyeksikan meningkat signifikan sehingga distribusi ke pasar diharapkan semakin lancar.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah telah beberapa kali menggelar rapat bersama pelaku usaha gula guna mempercepat langkah stabilisasi harga di lapangan.
“Gula sudah 2 kali kita rapatkan dan terakhir kemarin kami kirim surat ke APGI untuk ikut menstabilkan harga. Kita berharap Mei ini sudah mulai musim giling. Nah dengan Mei ini mulai musim giling, relatif kita bisa menstabilkan harga,” papar Ketut dikutip, Sabtu (09/05/2026).
Dalam koordinasi tersebut, Bapanas meminta APGI berperan aktif menjaga distribusi gula konsumsi agar pasokan tetap merata di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga harga gula sesuai ketentuan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024.
Targetkan Tetap Sesuai HAP
Bapanas menegaskan stabilisasi harga gula konsumsi harus tetap mengacu pada HAP yang berlaku secara nasional.
Untuk wilayah selain Indonesia Timur dan kawasan 3TP atau Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan, HAP gula konsumsi ditetapkan sebesar Rp17.500 per kilogram.
Sementara untuk wilayah Indonesia Timur dan daerah 3TP, harga acuan ditetapkan sebesar Rp18.500 per kilogram.
Pemerintah meminta seluruh pelaku usaha gula ikut menjaga stabilitas harga agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan.
“Dan saya sudah tekankan sekali lagi ke APGI, Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia, untuk ikut menstabilkan harga gula,” jelasnya.
Upaya stabilisasi ini dilakukan karena harga gula konsumsi di sejumlah daerah sempat mengalami kenaikan sepanjang April lalu.
Kondisi tersebut turut memengaruhi Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai wilayah Indonesia.
Pemerintah menilai pengendalian harga pangan strategis seperti gula menjadi penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan inflasi daerah.
Karena itu, distribusi stok gula yang tersedia akan terus dioptimalkan terutama menuju masa peningkatan produksi selama musim giling tebu berlangsung.
Produksi Mei Diproyeksi Naik 374 Persen
Pemerintah memproyeksikan produksi gula konsumsi nasional pada Mei 2026 mengalami lonjakan signifikan seiring dimulainya musim giling tebu di berbagai daerah.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Gula Konsumsi yang disusun Bapanas, produksi gula bulanan pada Mei diperkirakan mencapai 276,4 ribu ton.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 374 persen dibandingkan produksi April yang diperkirakan hanya sekitar 58,3 ribu ton.
Lonjakan produksi itu didorong oleh mulai beroperasinya musim giling tebu di sebagian besar wilayah Jawa pada pertengahan Mei.
Selain itu, optimalisasi luas tambah tanam tebu juga diprediksi mampu meningkatkan produksi gula nasional sepanjang tahun ini.
Kementerian Pertanian sebelumnya memperkirakan produksi gula konsumsi nasional pada 2026 dapat mencapai 3 juta ton.
Peningkatan produksi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pasokan sekaligus menekan gejolak tersebut di tingkat konsumen.
Di sisi lain, stok gula yang dimiliki APGI hingga akhir April tercatat berada di kisaran 100 ribu ton yang tersebar di berbagai daerah.
Sementara stok gula Perum Bulog dilaporkan mencapai sekitar 2,6 ribu ton yang juga telah tersebar di seluruh Indonesia.
Bulog memastikan stok yang dimiliki akan disalurkan kepada masyarakat melalui berbagai program stabilisasi pangan.
Bapanas Fokus Distribusi ke Daerah Harga Gula Tinggi
Dalam upaya pengendalian harga, Bapanas memastikan distribusi gula konsumsi akan diprioritaskan ke daerah-daerah yang mengalami fluktuasi harga cukup tinggi.
Pemerintah juga menggandeng pemerintah daerah untuk ikut memantau perkembangan harga dan distribusi gula di masing-masing wilayah.
Bulog disebut akan menyalurkan stok gula melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar bersama Bapanas maupun pemerintah daerah.
Program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan gula konsumsi dengan harga lebih terjangkau.
“Tapi sebelum musim giling, tentu kita harus optimalisasi stok-stok yang ada dan tentu melibatkan semua stakeholder. Tentu Bapanas melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah daerah untuk ikut memantau,” tutur Ketut.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, kita bisa kembali menstabilkan harga, tapi yang penting pasokannya relatif bagus dulu,” sambung Ketut.
Kenaikan Harga Gula Jadi Sorotan
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, juga menyoroti kenaikan harga gula dalam rapat pengendalian inflasi mingguan.
Tomsi menyebut terdapat 193 kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan IPH gula konsumsi hingga pekan terakhir April 2026.
“(IPH) minyak goreng naik di 240 kabupaten kota. Bawang merah 227. Gula pasir 193. Cabai merah 148. Beras yang kita sudah swasembada, apakah sudah dilakukan upaya ke 116. (Sementara pangan) yang lain trennya menurun,” kata Tomsi.
Ia menegaskan pengendalian harga pangan harus dilakukan secara serius bahkan terhadap kenaikan harga yang relatif kecil.
“Ini adalah kewajiban kita untuk mengatasinya, jadi naik 100 rupiah pun tidak boleh terjadi harusnya. Tetap kita berupaya sedikit saja di atas harga HET (Harga Eceran Tertinggi) akan kita perjuangkan (untuk dikendalikan). Ini merupakan prinsip dasar kita yang harus kita pegang teguh,” terang Tomsi.
Meski begitu, analisis Bapanas menunjukkan dari 193 daerah yang mengalami kenaikan IPH gula konsumsi, masih terdapat 36 daerah yang harga gulanya belum melampaui HAP tingkat konsumen.
Sementara jumlah daerah yang mengalami penurunan IPH gula konsumsi juga mulai bertambah dari 29 daerah menjadi 31 daerah pada akhir April lalu.
Pemerintah berharap peningkatan produksi selama musim giling tebu dapat memperkuat pasokan nasional sehingga harga gula konsumsi kembali stabil dalam waktu dekat.












