Arus Balik Jalur Laut Diprediksi Masih Tinggi, Buffer Zone Diperketat

ARY
Ilustrasi arus balik mudik Lebaran 2026 melalui penyeberangan jalur laut diperkirakan masih tinggi. (Foto: Ditjen Hubdat)

adainfo.id – Puncak arus balik Lebaran 2026 di jalur laut lintas Ketapang–Gilimanuk diprediksi masih akan terjadi, seiring masih tingginya jumlah kendaraan yang belum menyeberang menuju Bali.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan berbagai strategi telah disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan di Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, menegaskan bahwa fokus utama pada periode arus balik adalah memastikan kelancaran penyeberangan dari Jawa ke Bali dengan pengambilan keputusan cepat di lapangan.

“Kita harus memprioritaskan layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk pada arus balik ini. Untuk mekanisme Tiba – Bongkar – Berangkat (TBB) kita memiliki parameter V/C ratio maksimal 0,6. Maka keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di lapangan,” papar Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan dikutip Jumat (27/03/2026).

Lonjakan kendaraan yang masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan menjadi tantangan utama bagi pengelola transportasi laut, mengingat jalur ini merupakan salah satu akses vital penghubung Pulau Jawa dan Bali.

Strategi Buffer Zone dan Delaying System Diperkuat

Berdasarkan evaluasi arus mudik sebelumnya, pemerintah menilai pengelolaan buffer zone menjadi kunci dalam mengurai antrean panjang kendaraan yang menuju pelabuhan.

Aan menjelaskan bahwa optimalisasi buffer zone dan delaying system akan menjadi strategi utama dalam menghadapi puncak arus balik gelombang kedua.

“Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Begitu pun dengan pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan kondusif,” bebernya.

Sejumlah titik buffer zone telah disiapkan untuk menampung kendaraan sebelum masuk ke area pelabuhan.

Untuk kendaraan roda empat dan bus, lokasi yang digunakan antara lain kawasan Grand Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan.

Sementara itu, kendaraan barang diarahkan ke buffer zone di Sri Tanjung serta kantong parkir milik PT Pusri dan Pelindo.

Pengaturan ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan di area pelabuhan sekaligus memperlancar proses penyeberangan.

Penambahan Kapal Jadi Antisipasi Lonjakan

Selain pengaturan kendaraan, pemerintah juga menyiapkan strategi dari sisi operasional kapal untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan.

Dalam kondisi normal, sebanyak 28 kapal dioperasikan di lintas Ketapang–Gilimanuk.

Namun, jumlah tersebut akan ditingkatkan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Pada kondisi padat, jumlah kapal ditambah menjadi 30 unit, dan dalam kondisi sangat padat dapat mencapai 32 kapal.

“Apabila sangat diperlukan jumlah kapal bisa ditambah menjadi 35 sampai dengan 40 kapal dan akan ada 2 kapal bantuan yang kapasitasnya 60 hingga 80 kendaraan,” jelasnya.

Penambahan armada ini diharapkan mampu mempercepat waktu tunggu kendaraan serta meningkatkan kapasitas angkut secara keseluruhan.

Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas di sekitar pelabuhan, yang kerap mengalami kemacetan saat puncak arus balik.

Data Pergerakan Kendaraan Masih Tinggi

Berdasarkan data dari PT ASDP Indonesia Ferry, jumlah kendaraan yang telah menyeberang ke Bali pada periode H+1 hingga H+3 mencapai 41.526 unit.

Jumlah tersebut terdiri dari berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, bus, hingga truk logistik.

Namun, masih terdapat sekitar 114.255 kendaraan yang belum menyeberang, yang berarti potensi lonjakan arus balik masih sangat besar dalam beberapa hari ke depan.

“Dari jumlah tersebut masih terdapat 114.255 kendaraan (73%) yang belum menyeberang ke Bali dan ASDP memprediksi arus balik tertinggi jatuh pada H+6 atau tanggal 28 Maret 2026,” ungkapnya.

Data ini menunjukkan bahwa puncak arus balik belum sepenuhnya terjadi, sehingga kesiapan seluruh pihak menjadi sangat krusial.

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Kelancaran

Menghadapi kompleksitas arus balik jalur laut, pemerintah menekankan pentingnya sinergi antarinstansi dalam memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan masyarakat.

Koordinasi antara operator pelabuhan, TNI/Polri, Dinas Perhubungan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting dalam mengelola arus kendaraan yang tinggi.

Ditegaskan bahwa komunikasi yang baik antar pihak akan membantu dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat di lapangan.

Dengan berbagai strategi yang telah disiapkan, pemerintah berharap arus balik Lebaran 2026 di jalur laut dapat berjalan dengan aman, lancar, dan terkendali meskipun dihadapkan pada lonjakan kendaraan yang signifikan.

Penguatan sistem operasional, penambahan armada kapal, serta optimalisasi buffer zone menjadi langkah konkret dalam mengantisipasi puncak arus balik yang diprediksi masih akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *