Heboh Guru MTs Depok Terciduk Sebar Selebaran Jasa Tak Senonoh, Disebut Mengidap HIV

ARY
Ilustrasi guru MTs Depok yang viral karena menjajakan jasa tak senonoh di Tangsel disebut mengidap HIV. (Foto: Gam1983/Getty Images)

adainfo.id – Seorang pria yang diketahui berprofesi sebagai guru madrasah tsanawiyah (MTs) wilayah Kota Depok menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial karena diduga menyebarkan selebaran jasa tidak senonoh di kawasan Tangerang Selatan (Tangsel).

Peristiwa tersebut memicu reaksi warga hingga terjadi pelabrakan oleh sejumlah emak-emak yang geram terhadap dugaan tindakan pria berinisial IK tersebut.

Video kejadian yang beredar luas di media sosial langsung menarik perhatian publik dan memicu kekhawatiran terhadap keamanan anak di ruang publik.

Belakangan diketahui, IK merupakan tenaga pengajar di salah satu MTs di kawasan Kecamatan Sawangan, Kota Depok.

Informasi tersebut dibenarkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok, Enjat Mujiat.

“Iya benar itu adalah salah satu guru MTs di Sawangan,” ucap Enjat, Senin (30/03/2026).

Kemenag Depok Langsung Ambil Langkah Tegas

Menanggapi viralnya kasus tersebut, pihak Kemenag Kota Depok bergerak cepat dengan memanggil pihak sekolah dan yayasan untuk melakukan klarifikasi serta pendalaman informasi.

Enjat menyebutkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait insiden yang terjadi di Tangsel.

“Menurut dari laporan yang saya dapat, guru itu sudah diberhentikan oleh pihak yayasan ya. Hari ini kami memanggil kepala sekolah dan pihak yayasan tersebut,” tutur Enjat.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan bahwa lembaga pendidikan tetap menjadi ruang aman bagi peserta didik.

Kemenag juga menegaskan pentingnya pengawasan internal terhadap tenaga pengajar, terutama dalam menjaga etika dan profesionalisme.

Kasus ini juga menjadi perhatian serius karena melibatkan profesi guru yang memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik serta melindungi siswa.

Yayasan Sekolah Nonaktifkan yang Bersangkutan

Pihak yayasan tempat IK mengajar turut memberikan klarifikasi terkait status yang bersangkutan.

Perwakilan yayasan, Jarkasih, membenarkan bahwa IK merupakan bagian dari tenaga pengajar di sekolah tersebut.

“Kalau beliau di sini juga sebagai operator,” ungkap Jarkasih.

Menurutnya, IK telah mengajar sejak tahun 2017 dan dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya.

Namun, pihak yayasan mengaku terkejut atas kejadian yang kini viral tersebut.

“Bahwa beliau yang akhir-akhir ini viral sifatnya, itu di luar kemampuan kita ya untuk menjangkau begitu,” beber Jarkasih.

Sebagai langkah awal, yayasan bersama pihak sekolah telah menggelar rapat dan memutuskan untuk menonaktifkan IK dari seluruh aktivitas di sekolah, baik sebagai pengajar maupun operator.

“Nah hari Jumat kemarin dinonaktifkan. Yang bersangkutan itu merupakan bagian guru juga di sini, selain dia menjabat operator sekolah, ngajar Bahasa Inggris dan IPS juga,” tutur Jarkasih.

Keputusan tersebut diambil untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah sekaligus memberikan ruang bagi proses klarifikasi yang sedang berlangsung.

Klarifikasi Yang Bersangkutan dan Fakta Kesehatan

Dalam proses klarifikasi yang dilakukan oleh pihak yayasan dan sekolah, IK mengakui keterlibatannya dalam peristiwa yang viral di media sosial tersebut. Bahkan, IK juga mengungkapkan kondisi kesehatannya.

“Betul, 2014 (IK) sudah mengidap penyakit HIV. Nah beliau itu masuk ke MTS sini tahun 2017. Adapun proses masuknya itu di luar jangkauan kami karena memang kepala sekolah sebelumnya sudah meninggal dunia,” kata Jarkasih.

Meski demikian, IK membantah tuduhan bahwa dirinya memberikan layanan tidak senonoh kepada siswa di sekolah tempatnya mengajar.

“Dia bilang ‘demi Allah demi Rasul Pak saya tidak berani untuk melakukan hal itu kepada siswa-siswi, satu juga kan saya ngajar di sini, mana mungkin gitu’,” kata Jarkasih menerangkan apa yang disampaikan IK.

IK, juga mengklaim bahwa penyebaran selebaran tersebut baru dilakukan satu kali, meskipun pihak yayasan belum dapat memastikan apakah terdapat aktivitas serupa sebelumnya melalui media lain.

“Ini pun dia lakukan yang pakai penyebaran itu ya ini baru sekali-kalinya, tapi sebelumnya kita juga gak tau. Cuma pengakuan dari dia melalui penyebaran kertas tersebut baru ini saja, sebelumnya saya gak paham, apa melalui online lainnya atau kayak apa gitu ya,” ungkap Jarkasih.

Sorotan Publik dan Keamanan Lingkungan Pendidikan

Kasus ini memicu perhatian luas dari masyarakat, terutama terkait keamanan anak dan integritas tenaga pendidik.

Viral di media sosial membuat isu ini berkembang cepat dan menjadi pembahasan publik pada platform digital.

Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi siswa kini kembali menjadi sorotan, terutama dalam hal seleksi dan pengawasan tenaga pengajar.

Di sisi lain, kasus ini juga menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terhadap isu kesehatan.

Termasuk HIV, agar tidak menimbulkan stigma yang berlebihan tanpa dasar yang jelas.

Namun demikian, dugaan tindakan yang dilakukan oleh pelaku tetap menjadi fokus utama penanganan, mengingat dampaknya yang berpotensi merugikan masyarakat, khususnya anak-anak.

Kemenag bersama pihak sekolah dan yayasan terus melakukan koordinasi guna memastikan penanganan kasus berjalan sesuai prosedur serta menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *