Pengrajin Tempe di Depok Terjepit: Harga Kedelai Naik, Laba Menyusut
adainfo.id – Kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung terhadap pengrajin tempe di Kota Depok, yang kini harus menghadapi lonjakan biaya produksi hingga menekan margin keuntungan secara signifikan.
Kondisi tersebut dirasakan oleh Suprapto (50), seorang pengrajin tempe yang mengaku mengalami penurunan laba hingga 30 persen akibat kenaikan harga bahan baku utama tersebut.
Ia menyebutkan bahwa harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp12 ribu per kilogram.
Lonjakan harga kedelai impor ini pum menjadi pukulan berat bagi para pelaku usaha kecil menengah.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga kedelai mengalami fluktuasi yang tidak menentu, namun cenderung meningkat.
Perubahan harga yang signifikan ini membuat para pengrajin harus memutar otak untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka.
Pasalnya, kedelai merupakan bahan utama yang tidak dapat digantikan dalam proses produksi tempe.
Kenaikan dari di bawah Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram dinilai cukup drastis dan berdampak langsung pada biaya operasional harian.
Laba Pengrajin Menyusut hingga 30 Persen
Suprapto mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai tidak hanya mempengaruhi biaya bahan baku.
Akan tetapi juga diikuti oleh kenaikan harga bahan pendukung lainnya seperti plastik kemasan.
Hal ini menyebabkan total pengeluaran produksi meningkat, sementara harga jual tempe di pasaran belum mengalami penyesuaian.
“Udah harga kedelai nya naik, harga plastik juga naik, pengeluaran nambah, pendapatan mah masih tetap karena harga jual sama, nah kita cost nambah,” tutur Suprapto Jumat (10/04/2026).
Akibat kondisi tersebut, margin keuntungan yang sebelumnya stabil kini mengalami penurunan drastis hingga mencapai 30 persen.
Situasi ini membuat para pengrajin berada dalam posisi yang sulit, terutama dalam menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli konsumen.
Lebih lanjut, Suprapto memilih untuk tidak menaikkan harga jual tempe demi mempertahankan pelanggan setianya.
Sebagai gantinya, ia melakukan penyesuaian pada ukuran produk yang dijual.
Langkah ini dianggap sebagai solusi sementara untuk menghindari penurunan penjualan yang lebih drastis.
Suprapto tetap menjual tempe dengan harga yang sama, yakni Rp5 ribu, Rp7 ribu, hingga Rp10 ribu, namun dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Strategi ini umum dilakukan oleh pelaku usaha kecil dalam menghadapi kenaikan biaya produksi, meskipun berisiko menimbulkan ketidakpuasan di kalangan konsumen.
Harapan Pengrajin terhadap Pemerintah
Dalam situasi yang semakin menekan, para pengrajin tempe berharap adanya perhatian dari pemerintah terkait stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku kedelai.
Mereka menginginkan adanya kebijakan yang dapat menjaga harga tetap stabil agar usaha kecil tetap bisa bertahan.
“Harapannya ya supay kami pengrajin tempe diperhatikan. Stok kedelai bisa aman, kalau perlu stabil ya, kestabilan harga,” ungkapnya.
Suprapto juga menduga bahwa kenaikan harga kedelai impor tidak terlepas dari faktor global.
Termasuk konflik internasional yang mempengaruhi rantai pasok dan harga komoditas.
Ia menyebutkan kemungkinan dampak dari perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran sebagai salah satu penyebab naiknya harga kedelai di pasar internasional.
Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor UMKM pangan di tengah dinamika ekonomi global.
Di mana fluktuasi harga bahan baku dapat berdampak langsung pada keberlangsungan usaha dan daya beli masyarakat.
Konsumen Mulai Merasakan Dampak
Dampak dari kebijakan tersebut mulai dirasakan oleh konsumen. Nastia (29), salah satu pembeli tempe, mengaku menyadari adanya perubahan ukuran pada tempe yang biasa ia beli.
“Kalau harganya naik sih kayaknya nggak ya, cuma ukurannya aja jadi mengecil gitu,” bebernya.
Meski demikian, Nastia tetap memilih untuk membeli tempe karena merupakan salah satu makanan pokok yang tidak bisa dilepaskan dari menu sehari-hari.
Ia menilai tempe sebagai sumber protein nabati yang penting dan mudah diolah menjadi berbagai jenis hidangan.
Nastia juga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menormalkan kembali kondisi harga bahan pokok.
“Ya semoga semua bisa normal lagi,” terangnya.
Tempe memang dikenal sebagai makanan khas Indonesia yang telah dikonsumsi secara turun-temurun dan memiliki nilai gizi tinggi.
Oleh karena itu, perubahan harga maupun ukuran produk tetap menjadi perhatian bagi konsumen.












