Harga Tahu Tempe di Depok Stabil, Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan

AZL
Suasana lapak pedagang tahu dan tempe di Pasar Kemiri Muka, Kota Depok, Senin (13/04/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Harga tahu dan tempe di Pasar Kemiri Muka, Kota Depok, masih stabil meski harga bahan baku utama mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut memberikan angin segar bagi masyarakat sekaligus pedagang, karena tidak hanya harga yang bertahan, ukuran produk yang dijual kepada konsumen juga belum mengalami perubahan atau penyusutan.

Stabilitas ini dinilai penting di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian warga pasca periode libur panjang.

Keberadaan tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati utama menjadikan kedua komoditas ini sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan baku.

Kedelai impor yang selama ini menjadi tulang punggung produksi sering kali memicu gejolak harga di tingkat produsen hingga pedagang.

Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, harga jual di tingkat pedagang masih berada dalam batas normal.

Hal ini menunjukkan adanya upaya dari produsen untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual kepada masyarakat.

Salah satu pedagang, Pujiyanto (50) mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan harga maupun ukuran pada produk yang ia jual.

“Untuk lapak saya sendiri, belum ada informasi dari perubahan ukuran jual tahu dan tempe ataupun harga. Penjualan untuk tahu sendiri masih standar, di harga Rp5 ribu per bungkus, tempe juga sama untuk per papanya,” ujarnya saat ditemui, Senin (13/04/2026).

Stabilitas ini tidak hanya membantu menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga menciptakan kepastian bagi pedagang dalam menjalankan aktivitas usahanya sehari-hari.

Ketergantungan pada Kedelai Impor Masih Jadi Tantangan

Di balik stabilnya harga saat ini, para pedagang tetap menyimpan kekhawatiran terhadap fluktuasi harga kedelai impor yang sewaktu-waktu dapat berubah.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat industri tahu dan tempe rentan terhadap dinamika pasar global.

Pujiyanto menjelaskan bahwa pedagang hanya bisa mengikuti kebijakan dari produsen atau pabrik terkait harga dan ukuran produk.

“Tapi nanti ke depannya kita nggak tahu, soalnya kan mengikuti ketentuan harga dan ukuran dari pabrik. Kalau misalkan diinformasikan ada kenaikan ataupun penyusutan ukuran, ya nanti mau nggak mau saya pedagang menyesuaikan,” paparnya.

Situasi ini menggambarkan bahwa stabilitas harga yang terjadi saat ini masih bersifat sementara dan sangat bergantung pada kondisi pasokan serta harga kedelai di pasar internasional.

Jika terjadi lonjakan harga kedelai, maka dampaknya akan langsung terasa pada harga jual di tingkat konsumen maupun kualitas produk yang ditawarkan.

Di sisi lain, kondisi pasar dari sisi konsumen juga menunjukkan tren yang relatif stabil.

Hingga saat ini, belum ada keluhan signifikan dari pembeli terkait harga maupun ukuran tahu dan tempe.

Hal ini menjadi indikator bahwa harga yang berlaku masih dapat diterima oleh masyarakat, terutama untuk kebutuhan konsumsi harian yang bersifat rutin.

Kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas penjualan.

Selama kualitas dan ukuran tidak berubah, konsumen cenderung tetap loyal meski terjadi sedikit penyesuaian harga di masa mendatang.

Namun demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan situasi ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Penurunan Daya Beli Mulai Terasa di Pasar

Meski harga relatif stabil, para pedagang mulai merasakan adanya penurunan jumlah pembeli dalam beberapa waktu terakhir.

Fenomena ini dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Pujiyanto mengakui bahwa jumlah transaksi harian mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Hal ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat masih dalam tahap penyesuaian.

Penurunan daya beli ini berpotensi menjadi tantangan baru bagi pedagang.

Jika harga bahan baku meningkat dan memaksa adanya kenaikan harga jual, maka risiko berkurangnya pembeli bisa semakin besar.

Kondisi tersebut menciptakan dilema bagi pedagang, antara mempertahankan harga demi menjaga pelanggan atau menyesuaikan harga untuk menutupi biaya produksi yang meningkat.

Harapan Stabilitas Harga untuk Keberlanjutan Usaha

Para pedagang berharap adanya langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga kedelai impor agar tidak berdampak langsung pada harga tahu dan tempe di pasaran.

Stabilitas ini dianggap krusial untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan usaha dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Dengan harga bahan baku yang terkendali, pedagang optimistis dapat mempertahankan harga jual tanpa harus mengurangi ukuran produk.

Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan konsumen sekaligus mempertahankan volume penjualan.

Selain itu, stabilitas harga juga berperan dalam menjaga ekosistem usaha kecil yang bergantung pada komoditas tahu dan tempe.

Dari produsen hingga pedagang, seluruh rantai distribusi akan terdampak jika terjadi gejolak harga yang signifikan.

Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, keberlangsungan usaha pedagang menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas sektor pangan di tingkat lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *