Populasi Meledak, Ikan Sapu-Sapu Diburu Serentak di Jakarta

ARY
Penangkapan ikan sapu-sapu di sungai Jakarta dalam aksi pengendalian spesies invasif. (Foto: Instagram/pramonoanungw)

adainfo.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama masyarakat menggelar penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak di lima wilayah kota administrasi sebagai upaya mengendalikan populasi spesies invasif yang kini mendominasi perairan.

Kegiatan ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah ikan sapu-sapu yang dinilai mengancam keseimbangan ekosistem sungai dan saluran air di Jakarta.

Langkah ini juga menjadi bagian dari gerakan kolektif untuk menjaga kualitas lingkungan perairan yang semakin tertekan akibat dominasi spesies tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan bahwa populasi ikan sapu-sapu saat ini telah mendominasi sebagian besar perairan di wilayah Jakarta.

“Hari ini kita berada di Jakarta Utara. Pelaksanaan serentak di lima kota di Jakarta, untuk menangkap ikan sapu-sapu karena diketahui ikan sapu-sapu ini sekarang mendominasi perairan yang ada di Jakarta,” papar Pramono dikutip Jumat (17/04/2026).

Berdasarkan kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan, lebih dari 60 persen populasi ikan di perairan Jakarta didominasi oleh ikan sapu-sapu.

Dominasi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan serius dalam ekosistem perairan, di mana spesies invasif mengambil alih habitat ikan lokal.

Ancaman Serius bagi Ekosistem dan Infrastruktur

Keberadaan ikan sapu-sapu tidak hanya mengganggu populasi ikan asli, tetapi juga berdampak pada kondisi fisik lingkungan perairan.

“Pemerintah DKI Jakarta melakukan gerakan ini karena ikan yang sudah terlalu mendominasi dan merusak ekosistem perairan yang ada di Jakarta ini terutama perairan sungai dan juga selokan,” bebernya.

Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tinggi dan mampu berkembang biak dengan cepat, bahkan di lingkungan yang kurang ideal.

Selain itu, kebiasaannya menggali lubang di dasar sungai membuat struktur bantaran atau turap menjadi rentan rusak.

Kondisi ini berpotensi mempercepat kerusakan infrastruktur sungai yang berfungsi sebagai pengendali banjir dan aliran air di kawasan perkotaan.

Selain merusak ekosistem, ikan sapu-sapu juga dinilai berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

“Ikan ini rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Dan itu berbahaya sekali. Kalau itu kemudian dikonsumsi akan berbahaya,” jelasnya.

Kandungan residu zat berbahaya yang tinggi membuat ikan ini tidak layak konsumsi, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak memanfaatkannya sebagai bahan pangan.

Hal ini menjadi perhatian penting mengingat sebagian masyarakat masih menganggap ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi sebagai alternatif sumber protein.

Penangkapan Dilakukan Rutin dan Diperluas

Dalam kegiatan penangkapan yang dilakukan, diperkirakan lebih dari 200 kilogram ikan sapu-sapu berhasil dikumpulkan dalam satu hari.

“Pasti akan dilakukan secara rutin dan diperluas. Karena tidak cukup hanya kemudian yang bersifat seremonial seperti ini,” ucapnya.

“Kenapa ikan sapu-sapu ini wajib kita kendalikan? Karena populasinya sudah begitu dahsyat,” tuturnya.

Metode penangkapan secara konvensional dinilai masih menjadi cara paling efektif untuk menekan populasi ikan tersebut dalam jangka pendek.

Pemerintah juga berencana memperluas cakupan kegiatan ini agar dapat menjangkau lebih banyak wilayah perairan yang terdampak.

Penanganan Hasil Tangkapan Dilakukan Secara Aman

Ikan sapu-sapu hasil tangkapan tidak diperjualbelikan, melainkan ditangani sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

Setelah ditangkap, ikan akan langsung dimatikan dan dikubur secara higienis di lokasi tertentu.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan ikan tidak kembali ke perairan dan tidak dimanfaatkan secara tidak tepat oleh masyarakat.

Selain itu, bangkai ikan juga dapat diolah menjadi kompos alami yang bermanfaat bagi lingkungan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Haeru Rahayu, mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah daerah dalam mengendalikan populasi ikan invasif tersebut.

Ia menilai bahwa dominasi ikan sapu-sapu sangat berbahaya karena dapat mengancam keberlangsungan ikan lokal serta merusak habitatnya.

Upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat ini diharapkan mampu menjadi langkah konkret dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan di wilayah Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *