Konsumsi Makanan Olahan Meningkat, Ancaman Gizi Seimbang di Indonesia Kian Nyata

ARY
Ilustrasi pola makan masyarakat Indonesia dengan dominasi makanan olahan tinggi gula dan lemak. (Foto: Valentino Nitu's Images)

adainfo.id – Pola makan sehat sebenarnya dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, namun realitas konsumsi sehari-hari menunjukkan kecenderungan berbeda dengan dominasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang semakin meningkat.

Temuan ini terungkap dalam studi berjudul ‘Healthy diets are affordable but often displaced by other foods in Indonesia’ yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Food Policy.

Penelitian tersebut memberikan perspektif baru bahwa persoalan utama dalam pola konsumsi masyarakat bukan semata keterbatasan ekonomi, melainkan faktor perilaku dan kebiasaan.

Dalam studi tersebut dijelaskan bahwa secara ekonomi, masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses makanan sehat sesuai pedoman gizi.

Namun dalam praktiknya, pilihan makanan lebih sering bergeser ke arah yang kurang seimbang.

Fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kemampuan ekonomi dan perilaku konsumsi yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM), Pratiwi Dinia Sari, menjelaskan bahwa pemilihan makanan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan finansial, tetapi juga berbagai faktor lain yang saling berkaitan.

Ia menyebut bahwa faktor internal seperti kondisi fisiologis, preferensi rasa, hingga kebiasaan makan memiliki peran besar dalam menentukan pilihan konsumsi seseorang.

Di sisi lain, faktor eksternal seperti ketersediaan pangan, budaya, serta interaksi sosial juga turut memengaruhi pola makan masyarakat.

“Jadi memang ketika seseorang memilih untuk memakan atau tidak memakan suatu jenis makanan itu tidak semata soal kemampuan untuk membeli makanan tersebut,” papar Dini, dikutip Rabu (22/04/2026).

Dalam konteks kehidupan modern, faktor gaya hidup dan kebiasaan dinilai jauh lebih dominan dibandingkan faktor ekonomi.

Hal ini menjelaskan mengapa meskipun makanan sehat tersedia dan terjangkau, masyarakat tetap memilih makanan yang kurang bernutrisi.

Kebiasaan Sejak Kecil Membentuk Preferensi

Kebiasaan makan yang terbentuk sejak usia dini menjadi faktor penting dalam menentukan pola konsumsi seseorang di masa dewasa.

Lingkungan keluarga memainkan peran utama dalam memperkenalkan jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Dini menegaskan bahwa preferensi terhadap makanan tertentu akan terus terbawa jika sudah tertanam sejak kecil.

“Apabila individu sejak kecil terbiasa dengan pola makan tertentu, maka preferensi itu akan terus terbentuk dan terbawa hingga dewasa,” paparnya.

Kondisi ini menjelaskan mengapa perubahan pola makan tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses jangka panjang yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Ketika anak terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kebiasaan tersebut cenderung sulit diubah ketika memasuki usia dewasa.

Perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin praktis turut memengaruhi pola konsumsi makanan.

Kesibukan sehari-hari membuat banyak orang lebih memilih membeli makanan jadi dibandingkan memasak sendiri di rumah.

Pilihan makanan di luar rumah umumnya didominasi oleh makanan olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak, serta rendah kandungan serat.

“Kebiasaan hidup yang praktis menjadikan opsi membeli makanan jadi lebih banyak dilakukan, sementara pilihan yang tersedia sering kali kurang sehat,” ucapnya.

Kondisi ini menyebabkan konsumsi makanan sehat seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan menjadi semakin berkurang dalam menu harian masyarakat.

Dominasi makanan cepat saji juga memperkuat pola konsumsi yang tidak seimbang dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dalam jangka panjang.

Rendahnya Konsumsi Sayur dan Buah Jadi Sorotan

Rendahnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan menjadi salah satu indikator penting dalam masalah gizi di Indonesia.

Dini menjelaskan bahwa kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh faktor ketersediaan, tetapi juga kebiasaan yang tidak terbentuk sejak dini.

Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi turut memperparah situasi tersebut.

“Pemahaman yang kurang mengenai pentingnya konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan membuat pilihan makanan menjadi tidak optimal,” bebernya.

Selain itu, faktor rasa dan tekstur juga menjadi pertimbangan dalam memilih makanan.

Beberapa individu cenderung menghindari buah karena teksturnya yang berair, atau sayur karena dianggap kurang menarik.

Preferensi ini sering kali terbentuk akibat paparan makanan olahan sejak usia dini yang memiliki rasa lebih kuat.

“Biasanya ini terjadi karena sudah terbiasa dengan makanan olahan, sehingga pilihan terhadap makanan alami menjadi lebih rendah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pola makan yang didominasi oleh makanan tinggi gula, garam, dan lemak memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat.

Kondisi ini berkaitan erat dengan meningkatnya kasus penyakit tidak menular dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa penyakit yang sering dikaitkan dengan pola makan tidak sehat antara lain obesitas, hipertensi, diabetes melitus, serta dislipidemia.

Dini menyebut bahwa tren penyakit tersebut kini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif.

“Saat ini bahkan kasus penyakit tidak menular tersebut sudah banyak ditemukan pada individu berusia di bawah 40 tahun,” tuturnya.

Fenomena ini menjadi indikator bahwa pola makan masyarakat memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Edukasi dan Kebijakan Jadi Kunci Perubahan

Upaya mengubah pola makan masyarakat dinilai memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Edukasi gizi menjadi salah satu langkah penting, meskipun efektivitasnya masih perlu ditingkatkan.

Dini melihat adanya peningkatan kesadaran pada generasi muda seperti milenial dan Gen Z terhadap pentingnya pola hidup sehat.

Namun, perubahan tersebut belum merata dan masih terbatas pada kelompok tertentu.

Pendekatan melalui media digital dinilai memiliki potensi besar dalam menjangkau generasi muda dengan cara yang lebih efektif.

“Edukasi melalui media sosial dengan pendekatan visual yang menarik dan melibatkan influencer bisa menjadi salah satu cara yang cukup efektif,” terangnya.

Selain itu, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas tetap menjadi strategi utama dalam membentuk kebiasaan makan sehat.

Peran keluarga sebagai lingkungan pertama sangat menentukan dalam membentuk pola konsumsi sejak dini.

“Keluarga adalah tempat awal seseorang belajar tentang pola makan, sehingga pendekatan ini tetap penting untuk dilakukan,” ujarnya.

Di sisi lain, peran pemerintah juga dinilai krusial dalam menciptakan lingkungan pangan yang mendukung pola makan sehat.

Kebijakan terkait pelabelan gizi dan regulasi iklan makanan dapat membantu masyarakat dalam membuat pilihan yang lebih baik.

“Misalnya melalui pencantuman label gizi yang lebih sederhana seperti traffic light food, sehingga masyarakat lebih mudah menentukan pilihan makanan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *