Dampak Kenaikan, Permintaan LPG Nonsubsidi di Depok Menyusut

AZL
Ilustrasi penjualan LPG nonsubsidi di Kota Depok menyusut. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kenaikan harga LPG nonsubsidi ukuran 5 kilogram dan 12 kilogram mulai mengubah pola konsumsi masyarakat di Kota Depok.

Sejumlah pangkalan mencatat penurunan permintaan yang cukup signifikan sejak penyesuaian harga diberlakukan.

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan respons pasar terhadap kenaikan harga energi, tetapi juga menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Khususnya kelompok menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga kebutuhan pokok.

Salah satu pelaku usaha pangkalan LPG di Depok, Gama (38), mengungkapkan bahwa dampak kenaikan harga langsung terasa dari sisi penjualan harian.

Ia menyebut, dalam waktu singkat setelah kabar kenaikan harga mencuat, jumlah pembelian dari konsumen mengalami penurunan yang cukup tajam.

“Kenaikan untuk tabung 5 kilogram, yang sebelumnya dijual sekitar Rp105 ribu, sekarang menjadi Rp130 ribu, itu sudah termasuk biaya antar,” ujar Gama saat dikonfirmasi Rabu (22/04/2026).

Sementara itu, untuk tabung ukuran 12 kilogram, lonjakan harga juga cukup signifikan dan dirasakan oleh pelanggan.

“Untuk yang 12 kilogram, dari sebelumnya Rp215 ribu, setelah kenaikan menjadi Rp250 ribu, itu juga sudah termasuk diantar,” katanya.

Penurunan Permintaan Terjadi Secara Signifikan

Kondisi pasar di tingkat pangkalan menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen dalam merespons kenaikan harga LPG nonsubsidi.

Gama menyebut, dalam beberapa hari terakhir, aktivitas penjualan mengalami penurunan yang tidak biasa dibandingkan periode sebelumnya.

“Semenjak muncul berita kenaikan sampai saat ini, permintaan justru sepi. Terjadi penurunan yang cukup drastis dari konsumen,” ungkapnya.

Penurunan ini tidak hanya terjadi pada satu jenis tabung, tetapi merata pada LPG ukuran 5 kilogram maupun 12 kilogram.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumen mulai menahan pembelian atau melakukan penyesuaian konsumsi.

Situasi ini juga memperlihatkan bahwa kenaikan harga energi memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Terutama pada sektor rumah tangga yang mengandalkan LPG sebagai kebutuhan utama sehari-hari.

Kenaikan harga LPG nonsubsidi juga diduga mendorong sebagian masyarakat untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih terjangkau.

Salah satu opsi yang paling memungkinkan adalah beralih ke LPG subsidi ukuran 3 kilogram.

Gama menilai kemungkinan tersebut cukup besar, terutama bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas yang harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.

“Mungkin saja mereka beralih ke tabung 3 kilogram ya, karena untuk kalangan menengah ke bawah sudah semakin berat,” jelasnya.

Namun, hingga saat ini, pergeseran tersebut belum terlihat secara signifikan di lapangan.

Hal ini diduga karena kenaikan harga masih tergolong baru sehingga masyarakat masih dalam tahap adaptasi.

Perubahan pola konsumsi biasanya membutuhkan waktu sebelum benar-benar terlihat secara nyata dalam perilaku pasar.

Dampak Berbeda pada Segmen Konsumen

Kenaikan harga LPG nonsubsidi tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Gama menyebut, kelompok konsumen menengah ke atas cenderung tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan harga tersebut.

Segmen ini umumnya berasal dari sektor usaha seperti hotel, restoran, dan pelaku bisnis lainnya yang tetap membutuhkan LPG dalam jumlah besar untuk operasional.

“Kalau untuk menengah ke atas, seperti hotel atau restoran, relatif aman dan tidak terlalu terdampak mungkin ya,” tuturnya.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan daya tahan ekonomi antar segmen masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga energi.

Kelompok usaha dinilai masih mampu menyerap kenaikan biaya, sementara rumah tangga lebih rentan terhadap perubahan harga.

Meskipun terdapat potensi peralihan penggunaan LPG nonsubsidi ke LPG subsidi, Gama mengaku belum melihat adanya perubahan signifikan di tingkat pangkalan.

“Belum kelihatan ada perpindahan. Biasanya ada saja yang menjual tabung 5 kilogram atau 12 kilogram karena keberatan harga, lalu beralih ke 3 kilogram, tapi setelah kenaikan ini belum terlihat,” paparnya.

Ia menduga, kondisi ini disebabkan oleh faktor waktu, di mana masyarakat masih menunggu dan menyesuaikan diri sebelum mengambil keputusan untuk beralih.

“Mungkin karena masih baru ya, jadi belum terasa sepenuhnya,” ucapnya.

Namun, jika tren kenaikan harga berlanjut, potensi pergeseran konsumsi diperkirakan akan semakin terlihat dalam beberapa waktu ke depan.

Stok LPG Subsidi Masih Aman

Di tengah perubahan pasar LPG nonsubsidi, ketersediaan LPG subsidi ukuran 3 kilogram justru berada dalam kondisi aman.

Bahkan, Gama menyebut stok di sejumlah pangkalan terbilang melimpah.

“Untuk yang 3 kilogram saat ini aman, bahkan bisa dibilang melimpah. Hampir semua pangkalan stoknya banyak,” pungkasnya.

Kondisi ini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kebutuhan energi masyarakat, khususnya bagi kelompok yang bergantung pada LPG subsidi.

Ketersediaan stok yang memadai diharapkan mampu mengantisipasi lonjakan permintaan jika terjadi peralihan konsumsi dari LPG nonsubsidi ke subsidi.

Di sisi lain, kondisi ini juga menuntut pengawasan yang lebih ketat agar distribusi LPG subsidi tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak.

Perkembangan situasi di Kota Depok menjadi gambaran nyata bagaimana dinamika harga energi global dapat berdampak langsung pada perilaku konsumsi masyarakat di tingkat lokal.

Sekaligus juga menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi rumah tangga di tengah perubahan harga kebutuhan dasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *