Mata Uang Asia Berguguran, Rupiah Ikut Terkapar Lawan Dolar AS

ARY
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah tekanan ekonomi global. (Foto: MarkPiovesan/Getty Images)

adainfo.id – Bank Indonesia (BI) membeberkan penyebab nilai tukar rupiah anjlok hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS di tengah tekanan ekonomi global yang terus meningkat.

Pelemahan rupiah tersebut disebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, hingga penguatan dolar Amerika Serikat menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa gejolak global sejak pecahnya konflik Timur Tengah pada akhir Februari 2026 memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan internasional.

“Pergerakan nilai tukar di berbagai negara itu sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama konflik Timur Tengah yang mengakibatkan naiknya harga minyak,” tutur Denny dikutip, Rabu (13/05/2026).

Konflik Timur Tengah Picu Tekanan Global

Tekanan terhadap rupiah tembus Rp17.500 disebut sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026.

Kondisi ini membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Kenaikan harga energi dunia juga berdampak terhadap banyak negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.

Selain meningkatkan biaya impor, lonjakan harga minyak turut memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, penguatan dolar AS semakin memperparah kondisi mata uang negara berkembang.

Suku Bunga AS Perkuat Dolar

BI juga menyoroti kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang ikut memberi tekanan besar terhadap pergerakan rupiah.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury mengalami kenaikan signifikan dan mendekati level 4,5 persen.

“US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5 persen. Akhir Februari masih sekitar 4 persen. Termasuk juga dengan kecenderungan menguatnya indeks dolar,” paparnya.

Kenaikan yield obligasi AS membuat investor global lebih tertarik menempatkan dana mereka di aset berbasis dolar karena dianggap lebih aman dan menguntungkan.

Akibatnya, arus modal keluar dari negara berkembang meningkat dan menyebabkan tekanan terhadap mata uang lokal, termasuk rupiah.

Fenomena ini bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara lain.

Mata Uang Asia Ikut Melemah

Denny menegaskan pelemahan nilai tukar bukan hanya dialami rupiah semata.

Mayoritas mata uang dunia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.

“Ada peso Filipina, baht Thailand, rupee India, mata uang Amerika Selatan, Chile, Korea won, kira-kira seperti itu,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi lebih banyak dipicu faktor global dibanding persoalan fundamental ekonomi domestik.

Sejumlah mata uang Asia memang mengalami koreksi cukup tajam seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia dan penguatan indeks dolar AS.

Investor global saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di pasar negara berkembang akibat meningkatnya risiko geopolitik dan volatilitas ekonomi internasional.

Permintaan Dolar di Dalam Negeri Meningkat

Selain tekanan global, BI juga mencatat adanya peningkatan permintaan dolar AS di dalam negeri yang turut memengaruhi nilai tukar rupiah.

Kebutuhan dolar meningkat karena memasuki periode repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan impor berbagai sektor industri.

“Dalam negeri juga saat ini demand dolar meningkat karena sedang musim repatriasi dividen, kemudian juga pembayaran utang luar negeri,” bebernya.

Kondisi ini menyebabkan permintaan dolar di pasar domestik meningkat tajam dalam waktu bersamaan, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Aktivitas impor energi dan bahan baku industri juga turut berkontribusi terhadap tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

BI Pastikan Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Meski rupiah tembus Rp17.500, BI menegaskan fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi cukup baik.

BI menilai inflasi Indonesia masih terkendali, pertumbuhan ekonomi tetap positif, serta pengelolaan utang luar negeri dilakukan secara prudent atau hati-hati.

“Tidak ada alasan untuk rupiah tidak menguat dan tidak stabil,” ucapnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih bersifat sentimen jangka pendek akibat tekanan global dibanding persoalan struktural ekonomi Indonesia.

Bank sentral juga memastikan akan terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.

BI Siaga di Pasar Global

Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI mengaku terus melakukan intervensi aktif di pasar keuangan domestik maupun internasional.

Langkah tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.

“Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa, kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah,” terangnya.

Strategi ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap pergerakan rupiah dilakukan selama hampir 24 jam mengikuti aktivitas perdagangan global.

BI juga terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pelaku pasar guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Rupiah Sempat Menguat Tipis

Meski sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS, rupiah pada perdagangan Rabu (13/05/2026) pagi tercatat menguat tipis.

Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.514 per dolar AS atau menguat 14 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Namun demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai masih cukup besar dalam jangka pendek.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi kembali melemah seiring data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Selain itu, sentimen negatif juga datang dari hasil rebalancing indeks MSCI Mei 2026 yang dinilai lebih buruk dibanding ekspektasi investor.

Kondisi tersebut membuat pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian tinggi, termasuk terhadap pergerakan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *