PUPR Depok Akui Ekskavator di Bulak Barat Tak Optimal, Terkendala Kerusakan dan Kondisi Medan
adainfo.id – Keluhan warga mengenai lambannya penanganan banjir di kawasan Bulak Barat, Kecamatan Cipayung, akhirnya mendapat tanggapan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok
Instansi tersebut mengakui alat berat yang ditempatkan di Kali Pesanggrahan memang belum dapat bekerja secara optimal akibat sejumlah kendala teknis dan kondisi medan di lapangan.
Selama beberapa waktu terakhir, masyarakat mempertanyakan efektivitas keberadaan ekskavator yang disiagakan untuk mengangkat sedimentasi serta tumpukan sampah di aliran Kali Pesanggrahan.
Warga menilai aktivitas pengerukan berlangsung sangat terbatas sehingga banjir yang merendam jalur penghubung Bulak Barat dan Pasir Putih belum juga teratasi.
Menanggapi sorotan tersebut, Dinas PUPR Kota Depok memastikan keterbatasan operasional alat berat bukan disebabkan minimnya upaya penanganan, melainkan karena ekskavator mengalami kerusakan dan membutuhkan perawatan.
Kerusakan Track Hambat Operasional Alat Berat
Kepala Seksi Operasional dan Pemeliharaan Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Depok, Erly Santoso, menjelaskan ekskavator yang ditempatkan di kawasan Bulak Barat sempat mengalami kerusakan pada bagian track.
Kerusakan tersebut membuat alat berat tidak memungkinkan untuk bergerak menuju titik pekerjaan yang membutuhkan pengerukan.
“Alat berat tersebut sempat mengalami kerusakan pada track dan tidak memungkinkan untuk bekerja menuju Bulak Barat,” ujar Erly saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (19/06/2026) malam.
Menurutnya, perbaikan terhadap komponen tersebut menjadi syarat utama agar ekskavator dapat kembali beroperasi secara normal di lapangan.
Selain mengalami kendala teknis, ekskavator jenis PC-70 yang berada di lokasi juga menghadapi tantangan dari kondisi medan di sekitar Kali Pesanggrahan.
Erly menjelaskan kedalaman sungai yang tidak merata membuat pengoperasian alat berat harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Apabila dipaksakan bekerja di area tertentu, alat berat berisiko kehilangan keseimbangan hingga terbalik.
“Jadi, alat yang berada di Bulak Barat itu PC-70 sampai saat ini memang belum bisa bekerja secara maksimal. Karena kedalaman area tersebut yang bervariasi dan dikhawatirkan dapat menyebabkan terbaliknya alat,” katanya.
Pertimbangan aspek keselamatan tersebut menjadi alasan mengapa proses pengerukan tidak dapat dilakukan secara terus-menerus.
Warga Soroti Minimnya Aktivitas Pengerukan
Sebelumnya, sejumlah warga mengaku sering melihat ekskavator hanya bekerja dalam waktu singkat sebelum akhirnya berhenti beroperasi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan sedimentasi dan sampah yang selama ini disebut menjadi penyebab utama terganggunya aliran Kali Pesanggrahan.
Akibat sedimentasi yang belum tertangani secara optimal, banjir masih menggenangi jalan penghubung Bulak Barat dan Pasir Putih sehingga mengganggu mobilitas masyarakat.
Genangan air yang terus terjadi membuat aktivitas warga, termasuk akses menuju permukiman dan tempat kerja, menjadi terhambat.
Menanggapi keluhan tersebut, Erly menjelaskan durasi operasional yang singkat memang dipengaruhi kondisi alat yang belum sepenuhnya siap digunakan.
“Terkait laporan warga mengenai kinerja alat ekskavator yang dinilai hanya dua sampai tiga jam beroperasi, itu disebabkan kerusakan pada track sehingga untuk sementara ini alat ditepikan terlebih dahulu untuk menunggu maintenance atau perbaikan lebih lanjut,” jelasnya.
Masih Menunggu Proses Perawatan
Dinas PUPR memastikan hingga kini ekskavator masih memerlukan proses pemeliharaan sebelum dapat kembali bekerja secara maksimal.
Selain memperbaiki kerusakan pada bagian track, kondisi keseluruhan alat juga harus dipastikan benar-benar layak untuk dioperasikan di medan yang cukup berat.
“Jadi memang dikarenakan kondisi alat yang belum stabil, serta juga masih ada kendala pada bagian track dan perlunya pemeliharaan, jadi sejauh ini alat berat tersebut belum bisa dimaksimalkan,” tambah Erly.
Pemerintah berharap setelah proses perbaikan selesai, ekskavator dapat kembali menjalankan fungsi normalisasi sungai secara optimal.
Warga Minta Penanganan Banjir Lebih Maksimal
Sebelumnya, banjir yang berulang di kawasan Bulak Barat membuat masyarakat berharap adanya langkah penanganan yang lebih komprehensif.
Selain meminta alat berat segera kembali beroperasi, warga juga menginginkan normalisasi Kali Pesanggrahan dilakukan secara berkelanjutan agar sedimentasi dan tumpukan sampah tidak kembali menumpuk.
Masyarakat turut menyoroti pentingnya keterbukaan informasi dari pemerintah mengenai progres penanganan banjir serta rencana jangka panjang yang sedang disiapkan.
Menurut warga, transparansi tersebut diperlukan agar masyarakat mengetahui langkah konkret yang tengah dilakukan pemerintah dalam mengatasi persoalan banjir yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Selain pengerukan sedimentasi, masyarakat juga berharap pengangkutan sampah di sepanjang aliran Kali Pesanggrahan dilakukan secara rutin sehingga kapasitas sungai tetap terjaga.
Dengan penanganan yang lebih optimal, warga berharap akses jalan penghubung Bulak Barat dan Pasir Putih dapat kembali berfungsi normal serta aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu setiap kali curah hujan meningkat.
Pemerintah Kota Depok juga diharapkan dapat mempercepat proses perbaikan alat berat agar upaya normalisasi sungai segera berjalan maksimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat di kawasan tersebut.












