Jakarta Darurat Begal Jadi Sorotan, Jalan Gelap dan Kamera Pengawas Disinggung

ARY
Ilustrasi Jakarta darurat begal jadi sorotan. (Foto: Alexey Demidov/Pexels)

adainfo.id – Tagar “Jakarta Darurat Begal” ramai diperbincangkan di media sosial setelah maraknya aksi begal yang terjadi di sejumlah wilayah Ibu Kota, terutama di kawasan Jakarta Barat.

Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat, khususnya para pekerja yang kerap beraktivitas hingga larut malam.

Berbagai unggahan warganet berisi pengalaman menghadapi aksi begal hingga imbauan kewaspadaan mulai bermunculan di media sosial.

Tidak sedikit masyarakat mengaku khawatir melintas di jalanan sepi maupun minim penerangan pada malam hari.

Sorotan terhadap meningkatnya aksi kejahatan jalanan itu juga datang dari Anggota Komisi III DPR RI, Gilang Dhielafararez.

Menurutnya, penanganan kasus begal tidak cukup hanya melalui penangkapan pelaku, tetapi juga harus dibarengi pembenahan infrastruktur keamanan di ruang publik.

DPR Soroti Jalan Gelap dan CCTV

Gilang menilai pemerintah daerah dan aparat penegak hukum perlu memperkuat pengawasan di titik-titik rawan kejahatan.

Salah satu langkah yang dinilai penting yakni memperbaiki penerangan jalan umum serta memastikan kamera pengawas atau CCTV berfungsi optimal.

“Patroli rutin yang masif khususnya di titik-titik rawan, hingga memberantas jaringan kelompok begal,” ungkapnya dikutip, Rabu (27/05/2025).

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya memberantas pasar penadah barang curian yang dinilai turut memperbesar peluang terjadinya aksi kriminal jalanan.

Menurutnya, selama masih ada jaringan penadah yang menampung barang hasil kejahatan, aksi begal berpotensi terus berulang.

Pelaku Begal Dinilai Semakin Nekat

Belakangan, aksi begal di Jakarta disebut semakin meresahkan karena pelaku dinilai semakin berani dan terang-terangan saat beraksi.

Beberapa video viral di media sosial bahkan memperlihatkan pelaku membawa senjata tajam hingga diduga senjata api untuk mengintimidasi korban.

Fenomena tersebut membuat masyarakat semakin waspada saat berkendara pada malam hari, terutama di kawasan yang dikenal rawan kriminalitas.

“Dan kasus begal yang beraksi hingga ratusan kali dalam beberapa bulan juga menjadi bukti adanya celah serius dalam deteksi dini dan pemetaan pelaku. Faktor ini harusnya mendapat intervensi penanganan,” bebernya.

Kawasan Jakarta Barat sendiri belakangan ramai dijuluki “Gotham City” oleh warganet karena maraknya aksi kriminal jalanan yang terjadi di wilayah tersebut.

DPR Sebut Begal Berkaitan dengan Tekanan Sosial

Gilang mengingatkan bahwa meningkatnya kriminalitas jalanan tidak hanya harus dipandang sebagai persoalan keamanan semata.

Menurutnya, lonjakan kasus begal juga dapat menjadi indikator adanya tekanan sosial dan ekonomi di wilayah perkotaan.

“Kalau penanganannya hanya berfokus pada penangkapan pelaku tanpa memperbaiki akar masalah ekonomi dan ketimpangan sosial, maka siklus kejahatan berpotensi terus berulang,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan penanganan kejahatan jalanan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penegakan hukum hingga pembenahan kondisi sosial masyarakat.

Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Di tengah maraknya aksi begal, Gilang juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat berada di jalan.

Ia menyarankan warga menghindari melintas sendirian di jalanan sepi atau minim penerangan, khususnya pada malam hingga dini hari.

Selain itu, masyarakat juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi terkait modus-modus kejahatan jalanan agar dapat lebih waspada dan cepat mencari pertolongan ketika menghadapi situasi berbahaya.

Politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut bahkan menyebut masyarakat dapat membawa alat pengaman diri seperti pepper spray untuk berjaga-jaga.

“Saat berada dalam situasi terdesak dan nyawa terancam, tetap utamakan keselamatan diri,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *