Jangan Anggap Sepele, Campak pada Orang Dewasa Bisa Picu Komplikasi Serius
adainfo.id – Campak pada orang dewasa menjadi perhatian serius setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta bahwa sekitar delapan persen kasus campak terjadi pada kelompok usia dewasa.
Kondisi ini mematahkan anggapan umum bahwa campak hanya menyerang anak-anak, sekaligus menjadi alarm bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular tersebut.
Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendarwan, menegaskan bahwa karakteristik penyakit campak pada orang dewasa berbeda dibandingkan pada anak-anak.
Perbedaan ini terutama terlihat pada tingkat keparahan gejala serta potensi komplikasi yang lebih tinggi.
“Sering dianggap penyakit anak-anak, ketika virus campak menginfeksi orang dewasa perjalanan penyakitnya bisa berbeda. Gejalanya bisa terasa lebih berat, pemulihan lebih lama, dan risiko komplikasi meningkat,” paparnya, dikutip Senin (04/05/2026).
Fenomena ini menunjukkan bahwa campak pada orang dewasa bukan sekadar infeksi biasa, melainkan kondisi yang berpotensi memicu gangguan kesehatan serius jika tidak ditangani dengan baik.
Gejala Lebih Berat dan Risiko Komplikasi Tinggi
Campak pada orang dewasa diketahui memiliki tingkat keparahan gejala yang lebih intens.
Selain demam tinggi dan ruam kulit, penderita dewasa cenderung mengalami kondisi yang lebih kompleks, termasuk kelelahan ekstrem dan gangguan sistem pernapasan.
Harimat menjelaskan bahwa risiko komplikasi pada orang dewasa jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak.
Beberapa komplikasi yang sering terjadi meliputi pneumonia, hepatitis, hingga ensefalitis yang berpotensi menyebabkan gangguan neurologis.
Selain itu, masa pemulihan yang lebih lama menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko penularan di lingkungan sekitar.
Kelompok tertentu bahkan memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap dampak serius campak.
Perempuan hamil, individu dengan sistem imun lemah, serta penderita penyakit kronis menjadi kelompok yang paling rentan.
“Pada kehamilan, campak dapat menyebabkan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta risiko komplikasi pada ibu,” jelasnya.
Situasi ini mempertegas bahwa campak pada orang dewasa bukan hanya persoalan individu, tetapi juga menyangkut kesehatan generasi berikutnya.
Faktor Risiko dan Tingkat Keparahan
Tingkat keparahan campak sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi tubuh hingga lingkungan tempat tinggal.
Harimat menyebutkan bahwa anak-anak di bawah lima tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun menjadi kelompok dengan risiko tertinggi mengalami komplikasi serius.
Selain itu, kondisi lingkungan yang padat penduduk serta kurangnya asupan gizi, khususnya defisiensi vitamin A, turut memperburuk situasi.
Individu dengan gangguan sistem imun seperti HIV atau penyakit kronis lainnya juga memiliki potensi lebih besar mengalami kondisi fatal.
Komplikasi campak dilaporkan terjadi pada sekitar 30 persen kasus. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit ini memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap kesehatan masyarakat.
Berbagai komplikasi umum yang muncul meliputi otitis media, laringotrakeobronkitis, diare, hingga pneumonia.
Dalam kondisi tertentu, campak juga dapat menyebabkan kebutaan, kerusakan otak akibat ensefalitis, serta gangguan pernapasan berat.
“Jika seorang wanita tertular campak selama kehamilan, dapat mengakibatkan bayinya terlahir prematur dengan berat badan rendah,” bebernya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak campak tidak hanya terjadi dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup jangka panjang.
Pneumonia Jadi Penyebab Utama Kematian
Pneumonia menjadi salah satu komplikasi paling serius yang berkaitan dengan campak.
Penyakit ini bahkan disebut sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas dengan kisaran 3 hingga 57 persen kasus.
Pneumonia pada penderita campak terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu pneumonia primer akibat virus campak dan pneumonia sekunder yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri.
Perbedaan kondisi antara negara berkembang dan negara maju juga memengaruhi tingkat kematian akibat campak.
Di negara berkembang, angka kematian berkisar antara 3 hingga 6 persen, sementara di negara maju jauh lebih rendah, yaitu sekitar 0,01 hingga 0,1 persen.
“Risiko kematian terbesar terjadi pada anak-anak di bawah usia 1 tahun dan pada orang dewasa di atas usia 30 tahun,” ungkapnya.
Data ini memperlihatkan bahwa kelompok usia tertentu memiliki kerentanan yang lebih tinggi, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan penanganan.
Dampak Serius pada Anak dan Gangguan Imunitas
Campak tidak hanya menyebabkan gangguan fisik, tetapi juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh.
Penyakit ini dapat melemahkan imunitas sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi lain.
“Campak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh lupa cara melindungi diri dari infeksi,” jelasnya.
Pada anak-anak, komplikasi seperti otitis media, diare, dan pneumonia cukup sering terjadi.
Bahkan, dalam beberapa kasus, campak dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen akibat infeksi telinga.
Kekurangan vitamin A juga menjadi faktor penting yang memperburuk kondisi.
Infeksi campak dapat memicu defisiensi vitamin A akut, yang berkontribusi terhadap keterlambatan pemulihan serta peningkatan risiko komplikasi.
“Campak merupakan penyebab penting kebutaan masa kanak-kanak yang dapat dicegah,” bebernya.
Fakta ini menunjukkan bahwa pencegahan melalui peningkatan gizi dan imunisasi menjadi langkah krusial dalam mengurangi dampak penyakit.
Risiko Ensefalitis hingga Penyakit Langka SSPE
Selain pneumonia, komplikasi serius lain yang dapat terjadi adalah ensefalitis atau peradangan otak.
Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 hingga 4 kasus per 1000 hingga 2000 penderita campak.
Ensefalitis dapat terjadi selama fase aktif penyakit maupun setelah infeksi mereda.
Penyebabnya bisa berasal dari infeksi langsung virus ke otak atau reaksi sistem imun yang berlebihan.
“Hal ini dapat terjadi karena otak terinfeksi virus selama fase ruam penyakit atau karena peradangan otak yang dimediasi kekebalan tubuh setelah infeksi campak,” ucapnya.
Tidak hanya itu, campak juga dapat memicu komplikasi langka namun fatal yang dikenal sebagai Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE).
Penyakit ini merupakan gangguan neurologis degeneratif yang berkembang secara perlahan dan hampir selalu berujung pada kematian.
SSPE terjadi akibat persistensi virus campak di sistem saraf pusat dan dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.
Gejala biasanya baru terlihat dalam rentang waktu 6 hingga 15 tahun setelah pasien sembuh dari campak.
Kondisi ini diawali dengan penurunan kemampuan kognitif dan perubahan perilaku, kemudian berkembang menjadi kejang hingga kondisi vegetatif.
“Tanda-tanda awal SSPE meliputi penurunan prestasi sekolah dan perubahan perilaku. SSPE kemudian berkembang menjadi kejang mioklonik dan akhirnya ke keadaan vegetatif (terjaga namun tidak sadar),” tutupnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa dampak campak tidak selalu terlihat secara langsung, melainkan dapat muncul dalam jangka panjang dengan konsekuensi yang sangat serius bagi kesehatan manusia.












