Pengolahan Sampah di Jakarta Diperluas, Sektor Usaha Mulai Disasar

ARY
Ilustrasi pengolahan sampah di Jakarta. (Foto: Larisa Stefanuyk/Getty Images)

adainfo.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai memperluas program pengolahan sampah tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga menyasar sektor hotel, restoran, dan kafe.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi besarnya volume sampah yang selama ini dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan sektor hotel, restoran, dan kafe memiliki kontribusi besar terhadap produksi sampah harian di Jakarta sehingga perlu dilibatkan dalam program pemilahan dan pengolahan sampah.

Hal tersebut disampaikan Pramono saat meninjau sistem pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/05/2026).

“Hari ini sebagai tindak lanjut dari program pemilahan sampah yang kemarin sudah kita canangkan, maka Pemprov DKI Jakarta melalui Pasar Jaya akan bekerja sama dengan masyarakat yang mempunyai concern untuk penanganan sampah terutama sampah organik dan anorganik,” tutur Pramono dikutip, Senin (11/05/2026).

Menurutnya, penanganan sampah di Jakarta membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor usaha agar pengelolaannya lebih efektif dan berkelanjutan.

Hotel dan Restoran Jadi Penyumbang Sampah Besar

Pramono menjelaskan sektor hotel, restoran, dan kafe menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di Jakarta selain pasar tradisional.

Karena itu, Pemprov DKI Jakarta berencana menerapkan sistem pengolahan sampah berbasis pemilahan di sektor tersebut secara bertahap.

Ia menilai langkah tersebut penting agar volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang dapat ditekan secara signifikan.

Selain mengurangi beban tempat pembuangan akhir, pengolahan sampah organik juga diharapkan menghasilkan produk yang memiliki nilai guna seperti pupuk dan kebutuhan pertamanan.

“Mudah-mudahan akan berjalan dengan baik dan akan bisa mengatasi persoalan sampah yang akan membawa manfaat bagi lebih green karena bisa sebagai fertilizer dari yang organik,” jelasnya.

Program tersebut merupakan bagian dari implementasi Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang pemilahan sampah di Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta berharap sistem pengolahan sampah dapat diterapkan lebih luas sehingga tidak hanya bergantung pada TPST Bantargebang.

Pemprov DKI Targetkan Pengurangan Beban Bantar Gebang

Saat ini Pasar Jaya mengelola 153 pasar di Jakarta dengan produksi sampah mencapai sekitar 500 ton per hari.

Sebagian besar sampah tersebut selama ini masih dibuang ke TPST Bantar Gebang.

Melalui program pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati, sekitar lima ton sampah per hari akan diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Dalam pelaksanaannya, Pemprov DKI Jakarta menggandeng pihak swasta dan Pupuk Indonesia untuk mendukung proses pengolahan sampah tersebut.

Pramono optimistis program pemilahan sampah akan berdampak besar apabila diterapkan secara konsisten di berbagai sektor.

“Saya meyakini kalau program ini bisa dijalankan, maka ini akan sangat bermanfaat baik untuk mengurangi beban pengiriman sampah dari pasar ke Bantar Gebang,” paparnya.

Selain pasar dan sektor usaha, program pemilahan sampah juga akan diterapkan secara masif hingga tingkat lingkungan masyarakat.

Pramono mengaku telah menginstruksikan wali kota, camat, lurah, hingga pengurus RT dan RW untuk ikut menjalankan gerakan pengelolaan sampah tersebut.

Pengelolaan Sampah Disebut Akan Ubah Wajah Jakarta

Pemprov DKI Jakarta menilai perubahan sistem pengelolaan sampah menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan kota yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Karena itu, pemerintah akan menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pengolahan sampah secara bertahap.

Pramono menegaskan program pemilahan dan pengolahan sampah harus dilakukan secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi Jakarta.

“Secara perlahan tentunya sarana prasarananya juga akan kami persiapkan. Tetapi yang paling penting adalah ini harus berkelanjutan tidak boleh berhenti karena inilah yang akan mengubah wajah Jakarta,” tutupnya.

Dengan keterlibatan sektor hotel, restoran, dan kafe, Pemprov DKI Jakarta berharap pengurangan sampah dapat berjalan lebih maksimal sekaligus mendukung terciptanya konsep kota hijau yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *