Puncak Kemarau Segera Datang, Banyak Wilayah Masuk Zona Risiko
adainfo.id – Musim kemarau 2026 diprediksi menjadi salah satu periode yang perlu diwaspadai oleh berbagai sektor di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan Juli hingga September 2026 sebagai fase paling krusial karena ratusan wilayah diperkirakan memasuki puncak musim kering yang berpotensi memicu berbagai dampak, mulai dari ancaman kekeringan hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Peringatan tersebut disampaikan BMKG berdasarkan pemutakhiran prediksi iklim terbaru yang menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan puncak musim kemarau akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Juli hingga September 2026.
Menurutnya, pada Juli 2026 sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan memasuki fase puncak kemarau.
“Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur,” ujar Faisal dikutip, Sabtu (13/06/2026).
Prediksi tersebut menunjukkan bahwa musim kering mulai meluas ke berbagai kawasan strategis yang selama ini menjadi pusat aktivitas pertanian maupun sumber daya air.
Agustus Jadi Bulan Paling Kritis
BMKG mencatat Agustus 2026 akan menjadi periode paling krusial dalam musim kemarau tahun ini.
Pada bulan tersebut, sebanyak 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kering.
Wilayah yang terdampak meliputi Sumatra bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, hingga sebagian besar Papua.
Besarnya cakupan wilayah yang memasuki puncak kemarau membuat Agustus menjadi bulan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Selain berpotensi mengurangi ketersediaan air, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi produktivitas sektor pertanian dan meningkatkan ancaman kebakaran lahan di sejumlah daerah rawan.
September Masih Diwarnai Kemarau Luas
Meski intensitas puncak kemarau mulai berkurang dibandingkan Agustus, BMKG memperkirakan dampak musim kering masih akan terasa cukup luas pada September 2026.
Sebanyak 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut.
Wilayah yang terdampak mencakup Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, hingga Papua Pegunungan bagian tengah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tidak hanya berlangsung lama, tetapi juga menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia secara bertahap.
El Nino Diprediksi Bertahan Hingga Awal 2027
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa hingga akhir Mei 2026 sebanyak 200 ZOM atau sekitar 11,83 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara, Kalimantan Tengah bagian timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian Papua.
Sementara itu, pada Juni 2026 sebanyak 198 ZOM atau sekitar 31,60 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau.
Daerah tersebut mencakup sebagian besar Sumatra, sebagian wilayah Kalimantan, Jawa bagian tengah dan barat, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Menurut Ardhasena, salah satu faktor yang memperkuat musim kemarau tahun ini adalah fenomena El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga awal tahun 2027.
“Kami memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” jelasnya.
Keberadaan El Nino biasanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia sehingga berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan.
Sektor Pertanian dan Air Bersih Diminta Siaga
Menghadapi puncak musim kemarau 2026, BMKG meminta berbagai sektor segera memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi.
Faisal menegaskan informasi iklim terbaru tersebut diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun strategi menghadapi musim kering.
“Kami secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, dan semua pihak yang membutuhkan informasi yang lebih detail dan bagaimana cara memitigasi serta beradaptasi terkait dengan kondisi iklim yang terjadi saat ini,” katanya.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling terdampak oleh kemarau panjang.
Karena itu, pelaku pertanian diimbau menyesuaikan jadwal tanam serta menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Di sisi lain, sektor sumber daya air juga diminta meningkatkan pengelolaan waduk, memperbaiki distribusi air, dan memastikan pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat selama musim kemarau berlangsung.
Risiko Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara Meningkat
Selain ancaman kekeringan, BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan kebakaran hutan dan lahan yang biasanya muncul saat curah hujan menurun drastis.
Wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut maupun kawasan hutan luas perlu meningkatkan kewaspadaan karena kondisi cuaca kering dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
Tidak hanya itu, penurunan kualitas udara juga berpotensi terjadi akibat meningkatnya titik panas dan aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali.
Karena itu, pemerintah daerah di berbagai wilayah diminta memperkuat sistem pemantauan, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, serta melakukan langkah pencegahan sejak dini agar dampak musim kemarau 2026 dapat diminimalkan.
Dengan hampir setengah wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kering pada Agustus mendatang, kesiapan seluruh sektor menjadi faktor penting.
Hal tersebut untuk menghadapi potensi kekeringan, gangguan produksi pangan, krisis air bersih, hingga ancaman karhutla yang diprediksi meningkat selama musim kemarau berlangsung.












