Rupiah Melemah, Ketergantungan Impor Dinilai Jadi Penyebab Utama
adainfo.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak hanya menjadi tantangan bagi perekonomian nasional, tetapi juga peluang untuk melakukan pembenahan struktural yang selama ini belum terselesaikan.
Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah memperkuat industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk maupun bahan baku impor.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, yang menilai penguatan sektor produksi nasional menjadi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, ketergantungan yang tinggi terhadap impor membuat nilai tukar rupiah lebih rentan terhadap berbagai gejolak ekonomi internasional.
Karena itu, pemerintah diminta segera mempercepat berbagai kebijakan yang dapat meningkatkan kemandirian industri nasional sekaligus memperluas kapasitas produksi dalam negeri.
Ketergantungan Impor Dinilai Jadi Penyebab Rupiah Rentan
Kamrussamad menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan rupiah mudah tertekan adalah tingginya kebutuhan industri terhadap bahan baku dan komponen impor.
Ketika permintaan valuta asing meningkat untuk membiayai impor, tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun menjadi semakin besar.
Kondisi tersebut membuat ekonomi nasional lebih sensitif terhadap perubahan kondisi global, termasuk kebijakan moneter negara-negara besar seperti Amerika Serikat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kamrussamad menilai pemerintah perlu mempercepat program substitusi impor.
Terutama pada sektor manufaktur yang selama ini masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
“Percepatan substitusi produk impor terhadap industri manufaktur kita. Dengan percepatan ini maka komponen impor akan mengalami penurunan,” ungkap Kamrussamad dikutip, Minggu (07/06/2026).
Menurutnya, upaya mengurangi ketergantungan impor harus menjadi agenda prioritas nasional karena memiliki dampak jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi dan daya saing industri Indonesia.
Substitusi Impor Bisa Perkuat Ekonomi Nasional
Kamrussamad menilai program substitusi impor tidak hanya akan mengurangi kebutuhan devisa untuk pembelian produk luar negeri, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional.
Dengan meningkatnya penggunaan bahan baku dan produk lokal, industri dalam negeri akan memperoleh ruang yang lebih besar untuk berkembang.
Produksi nasional pun berpotensi meningkat sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, berkurangnya ketergantungan terhadap impor juga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar AS di pasar domestik.
Ketika kebutuhan valuta asing menurun, stabilitas nilai tukar rupiah akan lebih terjaga sehingga mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha dan investor.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan tidak mudah terguncang oleh dinamika ekonomi global.
Pelemahan Rupiah Bisa Jadi Peluang Tingkatkan Ekspor
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Kamrussamad melihat adanya peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional.
Menurutnya, pelemahan rupiah membuat harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Biaya produksi yang dibayarkan dalam mata uang rupiah menjadi relatif lebih murah dibandingkan produk dari negara lain yang menggunakan mata uang lebih kuat.
“Karena biaya produksi kita dalam bentuk rupiah lebih rendah, peluang untuk masuk ke pasar global menjadi lebih besar. Ini harus dimanfaatkan terutama untuk sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan,” jelasnya.
Peningkatan ekspor dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk mendatangkan devisa sekaligus memperkuat posisi neraca perdagangan Indonesia.
Jika momentum tersebut dimanfaatkan dengan baik, sektor-sektor produktif nasional dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang.
DPR Soroti Penurunan Ekspor Sektor Produktif
Meski peluang ekspor dinilai terbuka lebar, Kamrussamad menyoroti adanya penurunan ekspor pada sejumlah sektor strategis pada awal tahun 2026.
Sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan yang selama ini memiliki potensi besar justru mengalami penurunan kinerja ekspor.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketiga sektor tersebut memiliki kontribusi penting terhadap penerimaan devisa negara dan penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan sektor-sektor produktif tersebut agar mampu meningkatkan daya saing dan memperluas akses pasar internasional.
Penguatan sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan tidak hanya berdampak pada peningkatan ekspor, tetapi juga berpotensi memperkuat ekonomi daerah yang selama ini bergantung pada aktivitas produksi komoditas primer.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor-sektor tersebut diyakini mampu menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Masyarakat Diajak Gunakan Produk Lokal
Selain mendorong langkah pemerintah, Kamrussamad juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Menurutnya, penggunaan produk dalam negeri merupakan salah satu cara sederhana namun memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan industri nasional.
Dengan meningkatnya konsumsi produk lokal, industri dalam negeri akan memperoleh pasar yang lebih luas sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri terlebih dahulu, berwisata di dalam negeri, dan memperkuat ekosistem ekonomi lokal kita,” bebernya.
Ajakan tersebut juga mencakup dukungan terhadap sektor pariwisata domestik yang dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi nasional.
Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global
Kamrussamad menegaskan bahwa penguatan ekonomi nasional tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah.
Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menciptakan fondasi ekonomi yang lebih kokoh.
Menurutnya, pengurangan ketergantungan impor, peningkatan ekspor, serta dukungan terhadap produk lokal harus berjalan secara bersamaan agar memberikan hasil yang optimal.
Dengan strategi tersebut, Indonesia diyakini akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan perlambatan ekonomi dunia.
“Kalau industri dalam negeri kuat, ekspor meningkat, dan masyarakat mendukung produk lokal, maka ekonomi kita akan lebih tahan terhadap gejolak eksternal, termasuk tekanan terhadap rupiah,” tukasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelemahan rupiah bukan hanya persoalan kurs semata, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur ekonomi nasional.
Penguatan industri dalam negeri, peningkatan ekspor, dan pengurangan ketergantungan impor dinilai menjadi langkah strategis untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan di masa mendatang.












