Tanpa APBD, Lebaran Depok 2026 Jadi Panggung Besar Keberagaman Budaya
adainfo.id – Lebaran Depok 2026 kembali digelar sebagai puncak peringatan Hari Jadi Kota Depok dengan menghadirkan rangkaian tradisi budaya yang lebih besar, meriah, dan sepenuhnya didanai tanpa menggunakan APBD.
Perayaan yang berlangsung pada 5 hingga 9 Mei 2026 di kawasan Alun-Alun Timur Grand Depok City (GDC) ini menjadi salah satu agenda budaya terbesar yang dinantikan masyarakat setiap tahunnya.
Dengan mengusung semangat pelestarian budaya lokal, Lebaran Depok tahun ini tidak hanya menghadirkan tradisi khas Betawi dan Sunda, tetapi juga memperluas partisipasi budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Panitia Lebaran Depok, Hamzah, menegaskan bahwa seluruh pembiayaan acara dilakukan tanpa menggunakan anggaran pemerintah daerah.
“Ini murni untuk pelestarian budaya, bukan hura-hura. Tidak ada penggunaan APBD, pendanaan diperoleh melalui kolaborasi sponsor dan berbagai pihak. Semuanya transparan,” ujar Hamzah saat berkunjung ke kantor PWI Kota Depok, Rabu (15/04/2026).
Pernyataan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa kegiatan berskala besar tetap dapat terlaksana melalui kemitraan strategis dan dukungan berbagai pihak, tanpa membebani keuangan daerah.
Model pembiayaan berbasis kolaborasi ini dinilai menjadi contoh baru dalam penyelenggaraan event budaya yang mandiri dan berkelanjutan.
Selain itu, transparansi dalam pengelolaan dana juga menjadi komitmen utama panitia untuk menjaga kepercayaan publik.
Tema “Depok Rumah Kita” Angkat Keberagaman
Lebaran Depok 2026 mengusung tema “Depok Rumah Kita” yang mencerminkan identitas kota sebagai ruang hidup yang inklusif dan penuh keberagaman.
Tidak hanya menampilkan budaya lokal, acara ini juga menghadirkan berbagai unsur budaya Nusantara seperti Jawa, Batak, Aceh, hingga Makassar.
Transformasi ini menjadikan Lebaran Depok bukan sekadar perayaan tradisional.
Akan tetapi juga panggung kebudayaan yang mempertemukan berbagai identitas dalam satu ruang kebersamaan.
Keberagaman tersebut menjadi cerminan nyata dari dinamika masyarakat Depok yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan budaya.
Melalui pendekatan ini, Lebaran Depok diharapkan mampu memperkuat rasa persatuan sekaligus memperkaya pengalaman budaya masyarakat.
Rangkaian acara Lebaran Depok dimulai dengan tradisi Ngubek Empang yang digelar secara serentak di beberapa wilayah, yakni Tapos, Cipayung, dan Sawangan pada 5 Mei 2026.
Tradisi ini mengajak masyarakat untuk turun langsung ke kolam atau empang guna menangkap ikan secara tradisional.
Kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk pelestarian tradisi lama yang dahulu menjadi bagian dari persiapan masyarakat menyambut hari raya.
Ngubek Empang juga menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong, di mana warga berkumpul dan berinteraksi secara langsung dalam suasana penuh keceriaan.
Tradisi ini selalu menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan pengalaman unik yang jarang ditemui di kehidupan modern.
Andilan dan Pentas Budaya Perkuat Nilai Gotong Royong
Pada 8 Mei 2026, masyarakat akan disuguhkan dengan tradisi Andilan yang digelar di kawasan GDC.
Tradisi ini merupakan bentuk kebersamaan warga melalui sistem patungan untuk memotong kerbau, yang kemudian hasilnya dibagikan kepada masyarakat.
Selain Andilan, kegiatan ini juga diramaikan dengan pembersihan perabot rumah tangga secara massal yang menjadi bagian dari tradisi menyambut hari besar.
Pentas budaya Nusantara turut melengkapi rangkaian acara dengan menghadirkan berbagai pertunjukan seni dari berbagai daerah.
Kehadiran beragam kesenian ini menjadi upaya untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas.
Selain itu, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi seniman lokal untuk menampilkan karya mereka di hadapan publik.
Pasar Penghabisan dan Puncak Arak-Arakan Budaya
Menjelang malam takbiran, masyarakat biasanya menikmati Pasar Penghabisan yang menghadirkan berbagai kuliner khas dan tradisional.
Pasar ini menjadi salah satu daya tarik utama karena menawarkan makanan langka seperti Selendang Mayang, dodol, hingga uli yang mulai jarang ditemukan.
Kehadiran pasar rakyat di Lebaran Depok nanti tidak hanya memberikan pengalaman kuliner, tetapi juga mendukung pelaku usaha lokal untuk meningkatkan perekonomian.
Puncak perayaan Lebaran Depok sendiri akan berlangsung pada 9 Mei 2026 dengan arak-arakan budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Arak-arakan ini menampilkan beragam kostum tradisional, pertunjukan seni, serta simbol-simbol budaya yang menggambarkan identitas Depok sebagai kota multikultural.
Dalam momen yang sama, tradisi Rantangan kembali dihidupkan sebagai bentuk solidaritas sosial melalui kegiatan saling berbagi makanan antarwarga.
Tradisi ini menjadi simbol kuat dari nilai kebersamaan dan kepedulian yang masih terjaga di tengah kehidupan perkotaan.
Lebaran Depok tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan menjaga nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Penunjukan panitia melalui Surat Keputusan Wali Kota menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang berbasis partisipasi masyarakat.
Melalui pelaksanaan yang melibatkan berbagai pihak, Lebaran Depok diharapkan mampu menjadi agenda budaya yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi masyarakat.
Dengan konsep yang terus berkembang, perayaan ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap dapat bertahan dan relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.












