Gejolak Timur Tengah Hantam Pelaku Usaha, Ekspor Sarung Indonesia Terdampak
adainfo.id – Konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai dirasakan dampaknya hingga ke sektor ekonomi daerah di Indonesia.
Industri sarung tradisional seperti di Kota Tegal, Jawa Tengah, menjadi salah satu yang terdampak setelah pengiriman puluhan ribu sarung ke pasar Afrika mengalami penundaan.
Tertundanya ekspor tersebut dialami oleh perajin sarung berbasis Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang selama ini mengandalkan pasar luar negeri sebagai salah satu sumber pendapatan utama.
Akibat situasi geopolitik yang memanas, pengiriman dua kontainer sarung dari Tegal ke Afrika terpaksa ditunda.
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyoroti kejadian tersebut sebagai bukti bahwa konflik internasional dapat memberikan efek langsung terhadap perekonomian lokal.
Ekspor 50 Ribu Sarung Tertunda
Menurut Fikri, pengusaha sarung di Tegal terpaksa menunda pengiriman sekitar 50.000 potong sarung yang seharusnya dikirim ke pasar Afrika.
Ia menilai banyak pihak yang selama ini menganggap konflik di kawasan Timur Tengah tidak memiliki dampak terhadap perekonomian daerah di Indonesia.
“Banyak yang mengira konflik Iran – Israel tidak berdampak ke daerah seperti Tegal. Padahal kenyataannya ada. Pengiriman sarung dari pengusaha Tegal ke Afrika tertunda hingga mencapai 50.000 potong,” papar Fikri dikutip Senin (09/03/2026).
Penundaan pengiriman tersebut membuat pelaku usaha sarung harus menahan stok produksi yang sudah siap ekspor.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan finansial bagi pelaku usaha kecil menengah yang mengandalkan pasar luar negeri.
Selain itu, proses produksi yang sudah berjalan juga membuat pengusaha harus menanggung biaya operasional yang cukup besar.
Dampak Berantai bagi Pekerja dan UMKM Lokal
Fikri menjelaskan bahwa tertundanya ekspor sarung tidak hanya berdampak pada pengusaha utama.
Akan tetapi juga memicu efek berantai bagi pelaku usaha lain yang berada dalam rantai produksi.
Industri sarung ATBM di Tegal selama ini melibatkan banyak tenaga kerja lokal, mulai dari buruh tenun hingga pemasok bahan baku.
Ketika aktivitas ekspor mengalami gangguan, dampaknya dapat meluas hingga ke sektor pendukung lainnya.
“Pengusaha sarung tentu memiliki karyawan yang berasal dari masyarakat sekitar. Bahan bakunya juga disuplai oleh pelaku usaha lokal. Ketika ekspor terganggu, dampaknya bisa meluas,” tutur Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX itu.
Industri sarung ATBM sendiri merupakan salah satu sektor ekonomi tradisional yang masih bertahan di sejumlah daerah di Indonesia.
Produk sarung buatan perajin lokal memiliki pasar tersendiri di berbagai negara, termasuk di kawasan Afrika.
Namun, ketergantungan pada pasar ekspor tertentu membuat pelaku usaha rentan terhadap perubahan situasi global.
Geopolitik Global Pengaruhi Ekonomi Daerah
Menurut Fikri, kasus yang terjadi pada pengusaha sarung di Tegal menunjukkan bahwa dinamika geopolitik global memiliki dampak yang luas hingga ke sektor ekonomi lokal.
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak hanya memengaruhi stabilitas politik internasional, tetapi juga jalur perdagangan dan distribusi barang ke berbagai negara.
Gangguan terhadap aktivitas perdagangan internasional dapat berdampak pada pelaku usaha kecil menengah yang bergantung pada pasar ekspor.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa sektor ekonomi daerah tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika global.
Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha perlu memiliki strategi yang lebih adaptif agar mampu bertahan menghadapi perubahan situasi pasar internasional.
DPR Dorong Diversifikasi Pasar Ekspor
Sebagai langkah antisipasi, Fikri mendorong pelaku usaha kecil menengah untuk mulai melakukan diversifikasi pasar ekspor agar tidak bergantung pada satu kawasan perdagangan.
Menurutnya, ketergantungan terhadap pasar tertentu yang rentan terhadap konflik geopolitik dapat meningkatkan risiko bagi keberlangsungan usaha.
Ia menyarankan agar pengusaha sarung di Tegal mulai membuka peluang ekspor ke negara lain yang lebih stabil.
Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara dinilai memiliki potensi pasar yang cukup besar untuk produk sarung tradisional Indonesia.
Fikri menyebut Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand sebagai negara yang dapat menjadi alternatif tujuan ekspor.
Selain itu, peluang pasar juga dinilai masih terbuka di wilayah lain seperti Turki dan kawasan Asia Tengah.
Menurutnya, memperluas jangkauan pasar dapat membantu pelaku usaha menjaga stabilitas penjualan ketika terjadi gangguan di satu kawasan perdagangan.
“Dengan memiliki beberapa tujuan pasar ekspor, pelaku usaha akan lebih siap menghadapi situasi global yang tidak menentu,” jelasnya.
Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Perluas Pasar
Selain diversifikasi pasar, Fikri juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar internasional bagi pelaku UMKM.
Menurutnya, platform digital dan media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi produk yang lebih efektif dan efisien.
Melalui pemasaran digital, pelaku usaha sarung tradisional dapat menjangkau konsumen di berbagai negara tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.
Strategi tersebut dinilai dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
Pemanfaatan teknologi juga memungkinkan pelaku usaha menjalin hubungan langsung dengan pembeli internasional sehingga dapat membuka peluang kerja sama baru.
Dengan langkah adaptif tersebut, industri sarung tradisional diharapkan tetap mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.
Pelaku usaha juga diharapkan terus berinovasi agar produk sarung buatan perajin lokal tetap memiliki daya tarik di pasar internasional sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat di daerah.












