Yeti Wulandari Sebut Program MBG Prabowo Bisa Dorong Indonesia Jadi Negara Maju

AG
Wakil Ketua DPRD Kota Depok Yeti Wulandari (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Wakil Ketua DPRD Kota Depok Yeti Wulandari menegaskan bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan program strategis yang dapat mendorong Indonesia menuju negara maju.

Menurut Yeti, program Makanan Bergizi Gratis tidak hanya sekadar kebijakan bantuan pangan, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ia menilai program tersebut akan memberikan dampak besar bagi generasi mendatang, terutama anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa.

“Kita jangan berpikir sesempit itu, bahwa program MBG ini jadi bancakan. Sebenarnya program ini nantinya untuk anak dan cucu kita supaya bisa menjadi SDM unggul,” ujar Yeti Wulandari, Kamis (12/3/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Yeti untuk menanggapi berbagai kritik yang muncul terhadap pelaksanaan program MBG di sejumlah daerah.

Program MBG Dinilai Bangun SDM Unggul

Yeti menilai program Makanan Bergizi Gratis merupakan salah satu upaya penting pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Menurutnya, kecukupan gizi pada anak sejak usia dini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Ia menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi semata, tetapi juga dari kualitas kesehatan dan gizi masyarakat.

Dengan adanya program MBG, anak-anak diharapkan dapat memperoleh asupan nutrisi yang cukup sehingga mampu tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dalam jangka panjang, hal tersebut diyakini akan melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.

Program Makanan Bergizi Gratis menjadi salah satu kebijakan prioritas yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Program ini menargetkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari siswa sekolah, ibu hamil, hingga kelompok rentan lainnya.

Program MBG Buka Lapangan Kerja

Selain meningkatkan kualitas gizi masyarakat, Yeti juga menilai program MBG memiliki dampak ekonomi yang cukup besar.

Menurutnya, program ini dapat membantu mengurangi angka pengangguran dengan membuka berbagai peluang kerja baru.

Ia menjelaskan bahwa setiap dapur pelayanan gizi atau SPPG yang menjalankan program tersebut dapat mempekerjakan puluhan orang.

“Saat ini tiap SPPG memperkerjakan 47 orang dan mereka itu adalah para pekerja yang mendaftar di industri lapangan kerja, tidak mungkin lolos karena dinilai dari usia, latar belakang pendidikan dan kemampuan,” kata Yeti.

Menurutnya, banyak masyarakat yang sebelumnya sulit mendapatkan pekerjaan kini memiliki kesempatan untuk bekerja melalui program tersebut.

Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat yang berusia di atas 45 tahun yang sering kali mengalami kendala dalam mencari pekerjaan.

Yeti pun menjelaskan bahwa dapur MBG atau SPPG tidak selalu mensyaratkan latar belakang pendidikan tertentu bagi para pekerjanya.

Menurutnya, masyarakat hanya membutuhkan kemauan dan kerajinan untuk dapat terlibat dalam program tersebut.

Karena itu, banyak warga yang sebelumnya sulit memperoleh pekerjaan kini dapat bekerja di dapur pelayanan gizi tersebut.

Ia bahkan menyebut bahwa sebagian besar pekerja di SPPG berasal dari kelompok usia yang sebelumnya sulit diterima di dunia kerja formal.

Program ini juga dinilai memberikan manfaat sosial karena dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan adanya lapangan kerja baru, masyarakat dapat memperoleh penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dampak bagi Sektor Pertanian dan Peternakan

Yeti juga menyoroti dampak program MBG terhadap sektor pertanian dan peternakan di Indonesia.

Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program ini akan mendorong peningkatan produksi dari para petani dan peternak.

Ia menilai hal tersebut akan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha di sektor pangan.

Yeti menjelaskan bahwa para petani dan peternak dapat memperoleh pasar yang lebih luas untuk menjual hasil produksi mereka.

“Depok merupakan wilayah perkotaan, bila melihat ke wilayah pertanian dan peternakan, petani dan peternak dapat tersenyum lantaran hasil jerih payah mereka dihargai dengan layak,” ujarnya.

Dengan adanya permintaan bahan pangan dalam jumlah besar, rantai pasok pangan nasional diharapkan dapat semakin berkembang.

Hal ini juga dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian dan peternakan.

Peran Koperasi Merah Putih

Dalam pelaksanaan program MBG, pemerintah juga mendorong keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembentukan Koperasi Merah Putih di berbagai daerah di Indonesia.

Koperasi tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi para pelaku UMKM untuk berpartisipasi dalam program MBG.

Menurut Yeti, koperasi tersebut nantinya dapat menjadi pemasok bahan pangan bagi dapur pelayanan gizi.

“Pak Presiden membentuk Koperasi Merah Putih se-Indonesia Raya agar para pelaku UMKM bisa bergabung dan nantinya menjadi suplier ke SPPG yang saat ini masih berproses,” jelasnya.

Ia berharap masyarakat tidak lagi menyebarkan narasi negatif mengenai koperasi tersebut.

Menurutnya, proses pembentukan dan penguatan koperasi masih terus berjalan.

Pelaksanaan Program Masih Berproses

Yeti mengakui bahwa dalam pelaksanaan awal program MBG masih terdapat berbagai kekurangan.

Beberapa dapur pelayanan gizi bahkan dinilai belum sepenuhnya memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan.

Namun menurutnya hal tersebut merupakan hal yang wajar karena program tersebut masih berada dalam tahap pengembangan.

Ia menegaskan bahwa berbagai kekurangan yang ada akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan.

“Semua kan perlu proses, apa yang kurang ke depan tentunya menjadi bahan evaluasi agar ke depan bisa lebih baik lagi dan sesuai harapan kita semua,” ujarnya.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program tersebut.

Pengawasan Ketat Dinas Kesehatan

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Depok memastikan bahwa dapur pelayanan gizi yang menjalankan program MBG tidak beroperasi secara sembarangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Devi Maryori mengatakan bahwa program tersebut berada di bawah pengawasan ketat pihaknya.

Menurut Devi, tujuan utama program Makanan Bergizi Gratis adalah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Program ini menyasar berbagai kelompok penerima manfaat, termasuk siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan juga lansia.

“Program MBG bertujuan meningkatkan kualitas gizi siswa, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia,” ujar Devi Maryori.

Ia menyebutkan bahwa hingga 3 Maret 2026 sudah terdapat 141 dapur pelayanan gizi yang beroperasi di berbagai wilayah.

Pemerintah juga terus melakukan berbagai penyesuaian untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Salah satu langkah yang sedang dilakukan adalah penerapan kebijakan pencantuman label kandungan gizi dan harga riil bahan pangan.

Kebijakan tersebut merupakan instruksi dari Badan Gizi Nasional yang diterapkan sejak Februari hingga Maret 2026.

“Di tingkat sekolah, kebijakan pencantuman label kandungan gizi dan harga riil bahan pangan yang diinstruksikan BGN pada Februari-Maret 2026, kita upayakan bisa berjalan secepatnya,” kata Devi Maryori.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *