Drainase Tersumbat Sampah, Penanganan Genangan di Beji Depok Dikebut
adainfo.id – Penanganan genangan air di kawasan Jalan Kembang, Kelurahan Beji, Kota Depok, terus dikebut setelah luapan air menggenangi sebagian badan jalan dan mengganggu aktivitas warga.
Kondisi ini dipicu oleh tersumbatnya saluran drainase akibat tumpukan sampah, sehingga aliran air dari Setu Rawa Besar Lio tidak dapat mengalir dengan normal.
Genangan yang terjadi sempat menutup hampir setengah badan jalan, menyebabkan perlambatan lalu lintas dan menyulitkan pengendara yang melintas.
Air yang meluap terlihat keruh dengan membawa berbagai material sampah rumah tangga, menandakan adanya masalah klasik dalam pengelolaan drainase perkotaan.
Pemerintah setempat merespons cepat laporan warga dengan langsung menerjunkan tim gabungan ke lokasi.
Penanganan difokuskan pada pembukaan jalur air agar genangan dapat segera surut dan aktivitas masyarakat kembali normal.
Kolaborasi Lurah, PUPR, dan Warga Bersihkan Drainase
Lurah Beji, Samsu Sadikin bersama personel satgas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok, serta warga setempat turun langsung melakukan pembersihan saluran air yang tersumbat.
Kolaborasi ini menjadi langkah utama dalam percepatan penanganan genangan yang terjadi.
“Kita langsung menuju lokasi kejadian setelah mendapat laporan dari warga. Memang kendalanya adalah sampah yang menyumbat saluran air. Jadi, kita bersama PUPR dan Satgas Banjir saling bersinergi buat membersihkan saluran air,” ungkap Samsu saat ditemui di lokasi, Selasa (24/03/2026).
Proses pembersihan dilakukan secara manual dengan mengangkat sampah satu per satu dari dalam drainase.
Material yang ditemukan cukup beragam, mulai dari plastik, potongan kayu, hingga limbah rumah tangga yang mengendap dan menghambat aliran air.
Keterlibatan warga dalam proses ini menjadi faktor penting dalam percepatan penanganan.
Debit Air Setu Lio Perparah Genangan
Selain faktor sampah, genangan air di Jalan Kembang juga dipicu oleh tingginya volume air dari Setu Rawa Besar Lio.
Saat debit air meningkat, pintu air dibuka untuk mengurangi tekanan di area setu, sehingga aliran menuju saluran di Jalan Kembang menjadi lebih besar.
Namun, kondisi drainase yang tersumbat membuat air tidak mampu mengalir dengan lancar.
Akibatnya, air meluap ke permukaan jalan dan menciptakan genangan yang cukup luas.
“Jadi kalau ini airnya dari Setu Lio, kemungkinan volume air di setu itu tinggi jadi pintu air dibuka dan air melintas kemari. Tapi karena ada sumbatan sampah jadi air meluap,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem drainase perkotaan sangat bergantung pada kondisi saluran yang bersih dan bebas hambatan.
Ketika terjadi penyumbatan, bahkan debit air normal sekalipun dapat menyebabkan genangan.
Kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa integrasi antara pengelolaan sumber air dan kebersihan lingkungan harus berjalan seiring untuk mencegah terjadinya genangan berulang.
Genangan Berangsur Surut, Evaluasi Sistem Drainase Menguat
Setelah proses pembersihan dilakukan secara intensif, genangan air di Jalan Kembang mulai surut secara bertahap.
Aliran air kembali normal setelah sampah yang menyumbat berhasil diangkat dari saluran drainase.
Meski kondisi sudah berangsur membaik, kejadian ini kembali menyoroti persoalan sampah sebagai penyebab utama genangan di kawasan perkotaan.
Warga berharap adanya pembersihan saluran air secara rutin, terutama pada jalur yang terhubung langsung dengan aliran dari Setu Rawa Besar Lio.
Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan juga menjadi faktor krusial dalam menjaga kelancaran sistem drainase.
Tanpa perubahan perilaku, potensi genangan akan terus berulang setiap kali debit air meningkat.
Pemerintah dan warga diharapkan terus memperkuat sinergi dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Sehingga kejadian serupa dapat diminimalisir dan aktivitas masyarakat tidak terganggu oleh genangan air di masa mendatang.












