Cerita Haru Jemaah Haji Depok, Gantikan Orang Tua hingga Penantian Belasan Tahun

ARY
Sejumlah calon jemaah haji Kota Depok Kloter 2 JKS saat akan berangkat menuju embarkasi Bekasi di Balai Kota Depok, Rabu (22/04/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Pemberangkatan ratusan calon jemaah haji Kota Depok yang tergabung dalam Kloter 2 JKS di Balai Kota Depok pada Rabu (22/04/2025) berlangsung penuh haru, dengan berbagai kisah perjuangan yang menyertai langkah mereka menuju Tanah Suci.

Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni keberangkatan, tetapi juga menggambarkan perjalanan panjang spiritual, pengorbanan, hingga harapan besar yang dibawa setiap jemaah.

Tangis haru keluarga yang mengantar serta doa yang mengiringi menambah suasana emosional di lokasi pemberangkatan.

Dari generasi muda hingga jemaah yang telah menunggu belasan tahun, setiap cerita menjadi refleksi kuat tentang makna ibadah haji sebagai panggilan suci yang tidak datang dengan mudah.

Salah satu kisah paling menyentuh datang dari Ghathafan Raziq Yulamlam, calon jemaah haji asal Kecamatan Pancoran Mas yang baru berusia 16 tahun.

Raziq berangkat menggantikan ayahnya yang telah meninggal dunia dua tahun lalu, menjadikan perjalanan ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga amanah keluarga.

“Alhamdulillah, saya merasa senang dan sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji,” ujar Raziq kepada wartawan.

“Awalnya, ayah saya yang seharusnya berangkat haji. Namun, ayah meninggal dunia dua tahun lalu, sehingga saya menggantikannya,” sambung Raziq.

Meski masih berusia muda, Raziq menunjukkan kesiapan yang matang dalam menghadapi perjalanan ibadah yang penuh tantangan tersebut.

Ia mengaku telah mengikuti rangkaian manasik haji serta mempersiapkan perlengkapan jauh hari sebelum keberangkatan.

“Untuk persiapan, saya mengikuti manasik. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya juga menyiapkan perlengkapan seperti membeli kebutuhan dan pakaian. Koper bagasi pun sudah disetor kemarin,” ungkap Raziq.

Keberangkatan Raziq menjadi simbol kuat bagaimana nilai pengabdian dan tanggung jawab lintas generasi tetap terjaga dalam tradisi ibadah haji di Indonesia.

Penantian 12 Tahun Demi Berangkat ke Tanah Suci

Selain kisah generasi muda, perjalanan panjang juga dialami oleh Septi Kurniawati (38), calon jemaah haji asal Kecamatan Beji yang harus menunggu selama 12 tahun sejak mendaftar pada 2014.

Lamanya masa tunggu menjadi realitas yang dihadapi banyak calon jemaah haji di Indonesia, seiring tingginya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah tersebut.

“Persiapan utama tentu dari segi mental, kemudian fisik, serta perlengkapan dan pengetahuan terkait ibadah haji,” ujar Septi.

Ia mengungkapkan bahwa proses menuju keberangkatan tidak selalu mudah, terutama karena harus bolak-balik mengurus administrasi dari luar kota.

“Saya mendaftar sejak tahun 2014 dan harus menunggu selama 12 tahun. Saat ini saya berdomisili di luar kota, jadi harus bolak-balik ke Depok untuk mengurus berbagai keperluan. Cukup melelahkan, tetapi insyaallah menjadi berkah,” jelas Septi.

Kisah Septi mencerminkan dedikasi dan kesabaran panjang yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual calon jemaah haji.

Perjalanan menuju ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan finansial dan mental yang matang.

Septi menjelaskan bahwa dirinya menyiapkan biaya haji secara bertahap agar tidak memberatkan kondisi keuangan keluarga.

“Untuk pembiayaan, saya memulai dengan setoran awal Rp25 juta. Kemudian dalam beberapa tahun terakhir saya mengikuti tabungan dengan sistem autodebet, serta program tabungan Rp10 juta untuk membantu pelunasan agar tidak terlalu berat,” kata Septi.

Skema pembiayaan bertahap menjadi solusi yang banyak dipilih calon jemaah haji untuk menghadapi biaya perjalanan yang tidak sedikit.

Selain itu, kesiapan mental juga menjadi aspek penting, mengingat ibadah haji membutuhkan ketahanan fisik dan spiritual dalam menjalani rangkaian ritual yang padat.

Doa dan Harapan Iringi Keberangkatan Jemaah

Di tengah suasana haru, para jemaah juga menyampaikan doa dan harapan agar perjalanan ibadah mereka berjalan lancar.

Raziq berharap dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik serta kembali ke Tanah Air dengan selamat.

“Saya berharap selama di Tanah Suci ibadah berjalan lancar dan semoga menjadi haji yang mabrur,” ucap Raziq.

Ia juga tidak lupa mendoakan keluarga yang ditinggalkan serta seluruh jemaah yang berangkat bersama.

“Untuk keluarga di rumah, semoga selalu sehat. Mohon doa agar ibadah saya lancar. Saya juga mendoakan seluruh jemaah agar diberikan kelancaran ibadah, kesehatan, dan bisa kembali ke Indonesia dengan selamat,” tutur Raziq.

Senada dengan itu, Septi juga menyampaikan harapan serupa terkait kelancaran ibadah dan kesehatan selama di Tanah Suci.

“Harapan saya, semoga dalam menjalankan ibadah haji diberikan kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan rukun, wajib, maupun sunnah. Semoga juga diberikan kesehatan, baik bagi yang berangkat maupun keluarga yang ditinggalkan,” tutup Septi.

Pemberangkatan jemaah haji tidak hanya menjadi perjalanan individu, tetapi juga mencerminkan nilai sosial dan spiritual dalam kehidupan masyarakat.

Setiap jemaah membawa cerita, harapan, serta doa yang menjadi bagian dari perjalanan kolektif umat menuju ibadah yang penuh makna.

Momen ini juga menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual, tetapi perjalanan panjang yang melibatkan kesiapan mental, fisik, finansial, serta dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Di tengah berbagai kisah yang mengiringi keberangkatan jemaah haji Depok tahun ini, terlihat bagaimana nilai kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju Tanah Suci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *