Ratusan Candi Perwara di Prambanan Belum Dipugar, Proses Rekonstruksi Dinilai Terlalu Lambat

ARY
Ilustrasi ratusan candi perwara di kawasan Prambanan perlu dipugar. (Foto: Creativa Images)

adainfo.id – Lambatnya proses pemugaran di kawasan Candi Prambanan menjadi sorotan Komisi X DPR RI setelah terungkap ratusan candi kecil di kompleks tersebut masih membutuhkan rekonstruksi.

Padahal, kawasan warisan budaya dunia itu memiliki sekitar 200 candi perwara yang memerlukan pemugaran segera untuk menjaga keberlanjutan sejarah dan nilai budaya bangsa.

Ketua Panja Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyebut proses pemugaran yang berjalan saat ini dinilai terlalu lambat.

Menurutnya, dengan ritme pengerjaan satu candi kecil per tahun, proses penyelesaian seluruh kawasan Prambanan diperkirakan membutuhkan waktu sangat panjang.

“Jika satu tahun hanya satu candi yang direkonstruksi, tentu akan memakan waktu sangat lama untuk menyelesaikan seluruh kawasan,” ujarnya dikutip, Sabtu (23/05/2026).

Komisi X Usul Dana Besar untuk Percepatan

Esti menjelaskan biaya rekonstruksi satu candi kecil di kawasan Prambanan diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar.

Karena itu, Komisi X mendorong adanya langkah percepatan melalui pengalokasian anggaran besar demi menyelamatkan situs sejarah nasional yang juga menjadi destinasi wisata internasional.

​”Mungkin saja kita gelontorkan dengan sebuah percepatan, misalnya kita keluarkan anggaran signifikan dulu. Orang mungkin bertanya masa anggaran besar hanya untuk candi, tapi ini adalah sejarah besar berdirinya republik ini, tonggak perjalanan bangsa yang juga destinasi wisata internasional,” papar Esti.

Menurutnya, pemugaran candi bukan hanya persoalan pembangunan fisik semata, melainkan bagian penting dari pelestarian identitas sejarah bangsa Indonesia.

Komisi X bahkan membuka kemungkinan dukungan anggaran percepatan hingga puluhan miliar rupiah sampai Rp1 triliun untuk mempercepat proses rekonstruksi kawasan cagar budaya tersebut.

Ahli “Ilmu Titen” Mulai Langka

Selain masalah anggaran, DPR juga menyoroti minimnya regenerasi tenaga ahli pemugar candi yang menguasai “ilmu titen”.

Keahlian tersebut merupakan kemampuan berbasis pengalaman mendalam untuk mengenali dan menyusun batu candi secara presisi tanpa bergantung sepenuhnya pada sistem modern.

Esti menilai keterampilan tersebut sangat penting dalam proses rekonstruksi candi karena berkaitan langsung dengan akurasi penyusunan struktur bangunan bersejarah.

Namun saat ini jumlah tenaga ahli dengan kemampuan tersebut disebut semakin sedikit akibat tidak adanya sistem regenerasi yang memadai.

“Tidak ada regenerasi lagi, karena tidak ada perekrutan kalau perekrutannya dibuat sistem seperti dulu lagi. Hal ini memungkinkan untuk bisa menarik mereka yang selama ini sudah ikut ambil bagian dengan ilmu titennya,” jelasnya.

“Dengan pengalamannya, itu akan membantu pengerjaan lebih cepat di dalam proses penyusunan kembali candi,” sambung Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini.

Komisi X pun mendesak pemerintah agar membuka pola perekrutan yang lebih fleksibel sehingga praktisi lokal dengan kemampuan langka tersebut dapat kembali dilibatkan secara formal dalam proyek pemugaran.

Tiket Pelajar Dinilai Masih Mahal

Selain menyoroti persoalan pemugaran, Komisi X juga menilai akses pelajar domestik ke kawasan wisata sejarah masih perlu diperhatikan.

DPR meminta PT Taman Wisata Candi atau TWC sebagai pengelola kawasan Candi Prambanan untuk menghadirkan skema tarif khusus yang lebih murah bagi pelajar.

Menurut Esti, akses wisata sejarah bagi generasi muda sangat penting untuk membangun pemahaman tentang perjalanan bangsa dan nilai budaya Indonesia.

​”Harapannya pengelola bisa memberikan kemudahan bagi anak anak pelajar domestik kita untuk mengetahui sejarah. Jadi mereka tidak sekadar melihat batu, tetapi memahami proses filosofi dan kesejarahannya mengapa ini harus dipertahankan,” tukasnya.

Komisi X menilai kawasan Candi Prambanan bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga ruang edukasi sejarah yang memiliki nilai penting bagi pembentukan identitas budaya generasi muda Indonesia.

Di tengah tantangan pelestarian cagar budaya nasional, percepatan pemugaran dan penguatan akses edukasi sejarah dinilai menjadi langkah penting agar warisan budaya dunia tersebut tetap terjaga untuk masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *