Kunjungan Wisatawan Asing Meningkat, Apakah Ekonomi Nasional Ikut Terdorong? Ini Faktanya
adainfo.id – Fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan asing ke Indonesia tengah ramai diperbincangkan di media sosial.
Berbagai konten yang beredar menyebut kedatangan turis mancanegara dapat menjadi salah satu faktor yang membantu penguatan nilai tukar rupiah.
Namun, sejumlah ekonom menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat jika dilihat dari mekanisme ekonomi makro.
Kedatangan wisatawan asing memang memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata nasional, tetapi pengaruhnya terhadap nilai tukar rupiah dinilai tidak bersifat langsung dan signifikan.
Pergerakan kurs rupiah lebih banyak ditentukan oleh faktor fundamental seperti kebijakan moneter, arus modal asing, serta stabilitas ekonomi global.
Pakar ekonomi Universitas Airlangga, Prof. Rossanto Dwi Handoyo, menegaskan bahwa kunjungan wisatawan asing tidak secara otomatis mendorong penguatan rupiah.
Menurutnya, diperlukan sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.
“Motivasi utama mereka bukan karena mereka ingin membantu Indonesia supaya mata uangnya menguat. Motivasinya adalah motivasi pariwisata,” ungkapnya dikutip, Minggu (21/06/2026).
Wisatawan Asing Lebih Dipengaruhi Faktor Liburan dan Harga
Menurut Rossanto, lonjakan wisatawan asing yang datang ke Indonesia lebih banyak dipicu oleh faktor perjalanan wisata dan kondisi global, bukan karena pertimbangan nilai tukar mata uang.
Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah hingga hampir 30 persen sejak awal 2025 justru membuat Indonesia menjadi destinasi yang lebih murah bagi wisatawan asing.
Dengan nilai tukar yang lebih lemah, daya beli mata uang asing meningkat sehingga mereka dapat menikmati biaya perjalanan yang lebih terjangkau.
Selain itu, kemudahan akses antarnegara ASEAN melalui kebijakan bebas visa turut mendorong meningkatnya mobilitas wisatawan.
Periode libur sekolah pada Mei hingga Juni juga menjadi faktor pendukung tingginya arus kunjungan.
Situasi geopolitik global yang masih tidak stabil, khususnya di Eropa dan Timur Tengah, turut membuat wisatawan memilih destinasi yang lebih aman dan dekat seperti Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Dampak ke Rupiah Dinilai Tidak Langsung Signifikan
Meski sektor pariwisata berkontribusi terhadap devisa negara, Rossanto menilai dampaknya terhadap penguatan rupiah masih terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan pasar valuta asing secara keseluruhan.
Ia memberikan ilustrasi bahwa satu juta wisatawan dengan belanja masing-masing seribu dolar hanya menghasilkan sekitar satu miliar dolar AS.
Jumlah tersebut dinilai relatif kecil dibandingkan total kebutuhan transaksi valas nasional.
Dengan demikian, pariwisata lebih tepat diposisikan sebagai sektor pendukung promosi ekonomi, bukan sebagai penentu utama nilai tukar rupiah.
Menurutnya, Indonesia justru perlu mengambil momentum ini untuk memperkuat promosi destinasi wisata unggulan seperti Mandalika, Labuan Bajo, dan Raja Ampat agar dampak ekonominya lebih luas dan berkelanjutan.
Ia juga mencontohkan Malaysia yang berhasil mengembangkan strategi “Malaysia Truly Asia” secara konsisten hingga mampu menarik puluhan juta wisatawan setiap tahun.
“Seperti Malaysia, dengan promosi konsisten Malaysia Truly Asia berhasil menarik 44 juta wisatawan. Contoh yang layak diadopsi Indonesia,” jelasnya.
Kebijakan Moneter dan Arus Modal Jadi Faktor Utama
Di sisi lain, penguatan nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan makroekonomi yang dijalankan secara terkoordinasi.
Bank Indonesia, misalnya, telah melakukan penyesuaian suku bunga secara bertahap dari 4,75 persen hingga 5,5 persen untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus menarik arus modal asing masuk ke Indonesia.
Dalam mekanisme pasar, tingkat suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik investasi di instrumen keuangan domestik.
Hal ini berpotensi mendorong capital inflow yang pada akhirnya membantu menstabilkan nilai tukar.
Selain kebijakan moneter, intervensi di pasar valuta asing juga menjadi instrumen penting dalam menjaga volatilitas rupiah agar tidak bergerak terlalu tajam.
Peran Kebijakan Fiskal dan Instrumen Pembiayaan
Dari sisi fiskal, pemerintah turut berperan melalui penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS.
Langkah ini membantu menambah pasokan valuta asing di pasar domestik sehingga dapat meredam tekanan terhadap rupiah.
Di samping itu, lembaga investasi seperti Danantara juga ikut berkontribusi melalui penerbitan obligasi global yang mendapatkan respons positif dari investor internasional dengan nilai permintaan mencapai miliaran dolar AS.
Kombinasi kebijakan moneter, fiskal, dan arus investasi tersebut menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah di pasar global.
Pariwisata Tetap Penting, Tapi Bukan Penentu Utama
Meski bukan faktor utama penguat rupiah, sektor pariwisata tetap memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian nasional, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan devisa.
Namun, dalam konteks stabilitas nilai tukar, kontribusinya masih berada di bawah faktor-faktor makroekonomi seperti suku bunga, inflasi, dan arus modal asing.
Dengan demikian, penguatan rupiah membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif melalui koordinasi kebijakan lintas sektor, bukan hanya mengandalkan satu sektor tertentu seperti pariwisata.
Pemerintah dan otoritas moneter dinilai perlu terus menjaga konsistensi kebijakan agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.












