Daya Beli Terjaga, Penurunan Harga Pangan Tahan Tekanan Inflasi
adainfo.id – Inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan, namun laju kenaikan harga tersebut berhasil ditekan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan.
Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi, khususnya dalam menjaga daya beli masyarakat pascalebaran.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.
Penurunan harga pada komoditas utama seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai menjadi faktor dominan yang menahan inflasi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa sektor pangan masih memegang peranan penting dalam menentukan arah inflasi nasional, terutama pada periode pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa turunnya harga komoditas pangan terjadi seiring dengan normalisasi permintaan setelah periode HBKN.
“Harga beberapa komoditas pangan seperti daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami penurunan seiring normalisasi permintaan pasca HBKN. Sementara itu, harga cabai mengalami penurunan akibat meningkatnya pasokan selama masa panen di sejumlah daerah sentra produksi,” ucap Ateng dalam keterangannya dikutip, Selasa (05/05/2026).
Menurutnya, kondisi ini merupakan pola musiman yang umum terjadi setiap tahun, di mana lonjakan permintaan saat hari besar diikuti dengan penurunan setelahnya.
Daging Ayam dan Cabai Jadi Penyumbang Deflasi Terbesar
BPS mencatat sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap deflasi bulanan pada April 2026.
Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil deflasi sebesar 0,11 persen.
Selain itu, cabai rawit memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, telur ayam ras sebesar 0,04 persen, serta cabai merah sebesar 0,02 persen.
Komoditas lain seperti ikan segar, kacang panjang, kangkung, dan bayam juga turut menyumbang deflasi meskipun dalam skala lebih kecil.
“Komoditas yang masih memberikan andil deflasi di April 2026 yaitu daging ayam ras dengan andil delfasi 0,11 persen; cabai rawit serta telur ayam ras dengan andil deflasi masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” paparnya.
Penurunan harga ini memberikan dampak langsung terhadap laju inflasi yang relatif terkendali, meskipun tekanan harga dari kelompok pengeluaran lain masih terjadi.
Kelompok Pangan Alami Deflasi 0,20 Persen
Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,20 persen pada April 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan pangan relatif stabil dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setelah periode lonjakan permintaan.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi atau meredam inflasi. Umumnya lebih rendah pada momen pascalebaran seiring normalisasi permintaan pasca HBKN. Momen pascalebaran tahun ini bertepatan dengan April 2026. Kelompok ini mengalami deflasi 0,20 persen dengn andil deflasi 0,06 persen, terutama daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, cabai merah,” bebernya.
Stabilitas ini tidak terlepas dari peran distribusi yang berjalan lancar serta ketersediaan pasokan yang memadai di berbagai daerah.
Meski secara bulanan terjadi deflasi pada kelompok pangan, secara tahunan inflasi masih tercatat sebesar 2,42 persen.
Dalam periode ini, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kontribusi sebesar 3,06 persen dan andil 0,90 persen.
Namun demikian, pada April 2026 kelompok ini justru berperan sebagai penahan laju inflasi.
Hal ini menunjukkan adanya dinamika yang berbeda antara pergerakan bulanan dan tahunan dalam struktur inflasi nasional.
Komoditas Hortikultura Dominasi Deflasi Tahunan
BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi secara tahunan.
Cabai merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 0,13 persen, diikuti bawang putih sebesar 0,09 persen, dan bawang merah sebesar 0,07 persen.
Selain itu, cabai rawit dan kentang masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen.
Komoditas lain seperti kelapa, daging babi, dan wortel turut menyumbang deflasi meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.
Dominasi komoditas hortikultura dalam menekan inflasi menunjukkan bahwa sektor ini memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional.
Kondisi inflasi April 2026 yang relatif terkendali mencerminkan stabilitas pasokan dan distribusi pangan di dalam negeri.
Ketersediaan barang yang memadai di pasar mampu mengimbangi permintaan masyarakat, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan.
Situasi ini menjadi penting di tengah tekanan harga dari kelompok pengeluaran lain yang masih mengalami kenaikan.
Dengan adanya deflasi pada kelompok pangan, dampak inflasi secara keseluruhan dapat ditekan.
Stabilitas ini juga menjadi indikator bahwa sistem distribusi pangan nasional berjalan dengan baik, termasuk dalam menjaga ketersediaan komoditas utama di berbagai daerah.
Pola Musiman Pasca Lebaran Kembali Terlihat
Fenomena penurunan harga pangan pasca lebaran kembali terlihat pada April 2026.
Setelah mengalami lonjakan permintaan selama HBKN, harga komoditas cenderung turun seiring dengan normalisasi konsumsi masyarakat.
Selain itu, periode panen di sejumlah daerah turut meningkatkan pasokan, khususnya untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan sayuran.
Kombinasi faktor ini membuat harga menjadi lebih stabil bahkan cenderung turun.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi inflasi untuk tetap terkendali, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.












