Dedi Mulyadi Dorong Biogas Jadi Solusi Saat Harga LPG Nonsubsidi Naik
adainfo.id – Biogas mulai menjadi sorotan sebagai solusi energi alternatif di tengah kenaikan harga LPG nonsubsidi.
Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi mendorong pemanfaatan kearifan lokal untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap energi berbasis gas LPG.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kebijakan penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026.
Kenaikan ini berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada tabung gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.
Dalam kondisi tersebut, pemanfaatan sumber energi alternatif berbasis lingkungan dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas kebutuhan energi masyarakat sekaligus mendorong kemandirian energi di tingkat lokal.
Salah satu alternatif yang diangkat adalah pemanfaatan biogas yang berasal dari pengolahan kotoran hewan, terutama sapi.
Di sejumlah wilayah di Jabar seperti Kabupaten Bandung Barat, metode ini telah mulai diterapkan oleh para peternak sebagai solusi praktis untuk kebutuhan energi sehari-hari.
Biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi limbah ternak mampu menghasilkan api dengan tekanan yang cukup besar, sehingga dapat digunakan untuk memasak seperti halnya gas elpiji.
“Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa,” papar Dedi Mulyadi, dikutip Jum’at (24/04/2026).
Pemanfaatan ini tidak hanya memberikan solusi energi, tetapi juga membantu mengurangi limbah peternakan yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Diversifikasi Energi Sesuai Kondisi Masyarakat
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pemilihan sumber energi harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing masyarakat.
Ia menilai tidak semua wilayah memiliki karakteristik yang sama, sehingga pendekatan yang digunakan juga harus fleksibel.
Untuk masyarakat di wilayah perkampungan, penggunaan kayu bakar masih menjadi pilihan yang relevan, terutama jika dilakukan secara bijak dan memperhatikan aspek keberlanjutan.
Sementara itu, bagi masyarakat di perkotaan, kompor listrik dapat menjadi alternatif yang lebih praktis dan sesuai dengan kondisi infrastruktur yang tersedia.
“Jadi memang kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita,” jelasnya.
Pendekatan ini mencerminkan pentingnya diversifikasi energi sebagai strategi menghadapi dinamika harga energi yang tidak menentu.
Kenaikan harga LPG nonsubsidi ini pun menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat untuk mulai mencari alternatif energi yang lebih terjangkau.
Di Jabar, harga LPG 12 kilogram kini mencapai Rp228.000 per tabung, sementara ukuran 5,5 kilogram naik menjadi Rp107.000 per tabung.
Kondisi ini memicu perubahan pola konsumsi energi, terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah yang harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
Sementara itu, LPG subsidi ukuran 3 kilogram tetap tidak mengalami kenaikan harga, sehingga masih menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat.
Namun, keterbatasan kuota dan distribusi membuat kebutuhan akan alternatif energi tetap tinggi.
Situasi ini membuka peluang bagi pengembangan energi berbasis lokal yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada fluktuasi harga pasar global.
Optimisme terhadap Inovasi Masyarakat
Di tengah tantangan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan keyakinannya terhadap kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dan berinovasi.
Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki kreativitas tinggi dalam mencari solusi atas berbagai persoalan, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan energi.
“Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas,” ungkapnya.
Optimisme ini didukung oleh berbagai praktik yang telah berkembang di masyarakat, di mana pemanfaatan sumber daya lokal mulai menunjukkan hasil positif dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta peningkatan edukasi, pemanfaatan energi alternatif diharapkan dapat berkembang lebih luas dan menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Pengembangan biogas dan energi alternatif lainnya tidak hanya berdampak pada pengurangan biaya energi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam beberapa kasus, pengelolaan energi dilakukan secara kolektif oleh komunitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara bersama.
Model ini memungkinkan masyarakat untuk lebih mandiri dalam mengelola kebutuhan energi sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Selain itu, penggunaan energi alternatif berbasis lingkungan juga mendukung upaya pengurangan emisi dan menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan semakin berkembangnya teknologi sederhana yang mudah diakses, potensi pengembangan energi lokal di tingkat rumah tangga maupun komunitas menjadi semakin terbuka.
Pemanfaatan biogas sebagai salah satu solusi menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi jawaban atas tantangan global, khususnya dalam menghadapi kenaikan harga energi yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.












