Ekosistem Laut Indonesia Terancam, Sampah Plastik Masih Jadi Musuh Utama

AZL
Sampah plastik memenuhi pinggir laut. (Foto: SUMALI IBNU CHAMID/Alemedia.id)

adainfo.id – Persoalan pencemaran laut di Indonesia semakin menjadi perhatian serius pemerintah.

Ancaman terhadap ekosistem laut ternyata tidak hanya berasal dari aktivitas yang terjadi di kawasan pesisir.

Akan tetapi juga dari kebiasaan membuang sampah sembarangan di lingkungan permukiman, selokan, hingga sungai yang pada akhirnya bermuara ke laut.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan bahwa penanganan pencemaran laut membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Upaya tersebut dinilai tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan harus diperkuat melalui kolaborasi antara komunitas, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat secara luas.

Pemerintah menilai perubahan besar dalam mengatasi persoalan sampah laut justru dapat dimulai dari aksi-aksi sederhana yang dilakukan masyarakat di tingkat lokal.

Masalah Global Harus Diselesaikan dari Tingkat Lokal

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Rasio Ridho Sani, mengatakan pencemaran laut merupakan tantangan global yang membutuhkan solusi nyata dari tingkat komunitas.

Menurutnya, berbagai gerakan pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat memiliki peran strategis dalam mendukung target nasional pengurangan sampah laut.

“Masalah global membutuhkan solusi lokal. Aksi-aksi nyata yang dilakukan masyarakat di tingkat tapak dapat menjadi model yang direplikasi dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah, dari sinilah perubahan besar bisa dimulai,” ujarnya dikutip, Rabu (17/06/2026).

Rasio menilai langkah-langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Kemudian juga menjaga kebersihan lingkungan dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten dan meluas.

Kekayaan Laut Indonesia Hadapi Ancaman Serius

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas laut yang sangat besar.

Laut Indonesia menjadi habitat berbagai spesies penting sekaligus menopang kehidupan jutaan masyarakat yang menggantungkan ekonomi pada sektor kelautan.

Namun kekayaan tersebut kini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat pencemaran lingkungan.

Salah satu ancaman utama berasal dari sampah plastik dan mikroplastik yang terus ditemukan di kawasan pesisir maupun perairan laut.

Sampah yang tidak dikelola dengan baik di daratan pada akhirnya terbawa aliran sungai dan bermuara ke laut.

Kondisi ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengganggu keseimbangan lingkungan secara keseluruhan.

Menurut Rasio, dampak pencemaran laut sudah dirasakan di berbagai sektor, mulai dari perikanan, pariwisata, hingga kesehatan masyarakat.

Keberadaan sampah plastik dapat merusak habitat biota laut, menurunkan kualitas destinasi wisata pesisir, serta mencemari rantai makanan melalui mikroplastik yang dikonsumsi organisme laut.

PBB Soroti Pentingnya Peran Komunitas

Pandangan serupa disampaikan Koordinator Residen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia, Gita Sabharwal.

Menurutnya, upaya memerangi pencemaran plastik laut harus dimulai dari tingkat komunitas melalui perubahan perilaku dan penguatan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

“Upaya mengatasi pencemaran plastik laut harus dimulai dari komunitas, melalui perubahan perilaku, sistem yang lebih baik, dan kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak,” kata Gita.

Ia menilai Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam menangani persoalan sampah laut melalui berbagai target nasional yang telah ditetapkan pemerintah.

Namun keberhasilan mencapai target tersebut membutuhkan dukungan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.

Lebih dari 80 Persen Sampah Laut Berasal dari Daratan

KLH/BPLH mencatat fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lebih dari 80 persen sampah yang mencemari laut Indonesia ternyata berasal dari aktivitas di daratan.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya terletak di kawasan pesisir, melainkan pada pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.

Sampah rumah tangga yang dibuang ke saluran air, sungai, atau tempat yang tidak semestinya berpotensi berakhir di laut setelah terbawa aliran air.

Karena itu, keberhasilan mengurangi pencemaran laut sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam mengelola sampah sejak awal.

Pendekatan tersebut dinilai jauh lebih efektif dibandingkan hanya melakukan pembersihan sampah setelah mencemari kawasan pesisir dan laut.

Pemerintah Perkuat Berbagai Program Pengendalian Sampah Laut

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah terus memperkuat implementasi berbagai kebijakan yang telah berjalan.

Termasuk melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.

Berbagai program strategis juga terus dikembangkan untuk mendukung target pengurangan sampah laut nasional hingga 70 persen.

Program tersebut mencakup edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah, pembangunan sarana dan prasarana pengolahan sampah di kawasan pesisir, penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), hingga pemantauan sampah laut secara berkala.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong penguatan Gerakan ASRI atau Aman, Sehat, Resik, dan Indah sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan di masyarakat.

Melalui pendekatan yang lebih komprehensif tersebut, pemerintah berharap penanganan pencemaran laut tidak hanya berfokus pada wilayah pesisir, tetapi juga mampu menyentuh akar persoalan yang berada di kawasan daratan.

Kolaborasi Jadi Kunci Menjaga Masa Depan Laut Indonesia

Pencemaran laut kini menjadi tantangan besar yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Pemerintah menilai tidak ada satu pihak pun yang mampu menyelesaikan persoalan ini sendirian.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, lembaga internasional, akademisi, dan masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia.

Dengan pengelolaan sampah yang lebih baik sejak dari sumbernya, penguatan edukasi lingkungan, serta dukungan berbagai program pengendalian pencemaran, perlindungan terhadap laut Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih efektif.

Langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan sumber daya kelautan tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.

Sekaligus melindungi sektor perikanan, pariwisata, dan kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada kesehatan ekosistem laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *