Flu Burung H5 Mengintai, Biosekuriti Peternakan Indonesia Harus Diperkuat

ARY
Tenang kesehatan memegang sampel flu burung. (Foto: SyhinStas/Getty Images)

adainfo.id – Kemunculan kasus pertama varian influenza burung H5 pada burung liar di Esperance, Western Australia, memicu perhatian kalangan ilmuwan dan pelaku industri peternakan.

Temuan tersebut dinilai bukan hanya menjadi tantangan bagi Australia, tetapi juga menjadi sinyal kewaspadaan bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, yang berada di jalur migrasi burung liar.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena berpotensi mengganggu sektor peternakan unggas yang selama ini menjadi salah satu penopang ketahanan pangan dan ekonomi Australia.

Para ahli juga mengingatkan bahwa penyebaran virus melalui burung migran perlu terus dipantau agar tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa kekhawatiran pemerintah Australia terhadap kemunculan virus tersebut sangat beralasan.

Menurutnya, industri unggas memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

“Australia memproduksi 1,3 juta ton daging ayam dan 6 miliar telur setiap tahun, yang menjadi sumber utama pendapatan senilai AUD 7 miliar dan melibatkan ribuan peternak. Ayam adalah sumber protein utama di Australia, dengan konsumsi 45 kg per orang per tahun,” ungkap Ronny dikutip, Rabu (24/06/2026).

Besarnya produksi unggas tersebut membuat ancaman penyebaran Virus Flu Burung H5 Australia berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan apabila tidak dapat dikendalikan sejak dini.

Australia Pernah Menghadapi Wabah Flu Burung

Ronny mengingatkan bahwa sebelum ditemukannya varian H5 pada burung liar pada 2026, Australia sebenarnya telah beberapa kali menghadapi wabah flu burung dengan varian berbeda, terutama H7 yang menyerang peternakan unggas.

Saat itu, pemerintah Australia mengambil langkah cepat dengan melakukan pemusnahan jutaan ekor ayam untuk menghentikan penyebaran penyakit.

Kebijakan tersebut memang berhasil menekan penyebaran virus, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar serta memengaruhi pasokan telur di dalam negeri.

“Flu burung di Australia memengaruhi ekspor, meskipun negara ini bukan pengekspor unggas terbesar. Status bebas penyakit penting untuk menjaga kepercayaan internasional. Wabah menyebabkan mitra membatasi ekspor sehingga pemerintah dan industri harus berinvestasi dalam surveilans, karantina, dan latihan simulasi wabah,” paparnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kesiapsiagaan merupakan faktor utama dalam menghadapi ancaman penyakit menular pada sektor peternakan.

Virus H5 Memiliki Tingkat Kematian Sangat Tinggi

Ronny menjelaskan bahwa Virus Flu Burung H5 Australia menjadi perhatian dunia karena termasuk virus dengan tingkat kematian yang sangat tinggi pada unggas.

Ia mengatakan virus tersebut mampu menyebabkan kematian antara 90 hingga 100 persen pada unggas hanya dalam hitungan beberapa hari setelah infeksi.

Dampaknya tidak hanya berupa tingginya angka kematian ternak, tetapi juga penurunan produksi telur, berkurangnya populasi ayam pedaging, hingga meningkatnya biaya pengendalian penyakit.

“Vaksin untuk H5 memang tersedia, tetapi penggunaannya terbatas karena sulit membedakan unggas terinfeksi dari unggas yang divaksin. Biaya vaksinasi massal juga tinggi dan ada risiko virus bermutasi serta lolos dari vaksinasi. Karena itu, strategi utama tetap melalui biosekuriti yang ketat dan pemusnahan unggas terinfeksi,” ungkapnya.

Karena itu, berbagai negara lebih mengutamakan penguatan sistem biosekuriti dibandingkan mengandalkan vaksinasi sebagai satu-satunya solusi dalam pengendalian wabah.

Risiko Flu Burung terhadap Manusia

Selain mengancam industri peternakan, flu burung juga memiliki risiko terhadap kesehatan manusia.

Penularan memang tergolong jarang terjadi, tetapi infeksi dapat menimbulkan dampak serius apabila seseorang terpapar virus.

Gejala awal umumnya berupa demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga konjungtivitis atau peradangan pada mata.

Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia, gagal napas, bahkan sepsis yang mengancam keselamatan pasien.

Ronny menyebutkan bahwa sekitar 50 persen kasus H5N1 pada manusia berakhir fatal sehingga kewaspadaan terhadap penyakit ini tetap perlu dijaga.

Indonesia Diminta Meningkatkan Kewaspadaan

Menurut Ronny, Indonesia memiliki alasan kuat untuk meningkatkan pengawasan terhadap kemungkinan masuknya Virus Flu Burung H5 Australia.

Selain berada di jalur migrasi burung liar dari Australia, Indonesia juga pernah mengalami wabah H5N1 yang menimbulkan dampak besar terhadap sektor peternakan unggas.

“Kehati-hatian ini wajar, mengingat Indonesia berada di jalur migrasi burung dari Australia dan pernah mengalami wabah H5N1 yang menimbulkan kerugian di sektor unggas. Ini perhatian penting,” bebernya.

Ia menilai pengalaman tersebut harus menjadi dasar bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem deteksi dini agar penyebaran virus dapat dicegah sejak awal.

Pengawasan Burung Liar dan Biosekuriti Harus Diperkuat

Ronny menegaskan bahwa langkah pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh.

Mulai dari pengawasan terhadap burung liar, peningkatan biosekuriti di peternakan, hingga edukasi kepada peternak mengenai gejala flu burung dan pentingnya pelaporan secara cepat apabila ditemukan kasus mencurigakan.

Selain itu, koordinasi antarnegara juga dinilai penting mengingat penyebaran virus dapat terjadi melalui jalur migrasi burung yang melintasi berbagai wilayah.

“Indonesia harus memperkuat pengawasan terhadap burung liar di jalur migrasi serta meningkatkan biosekuriti di peternakan unggas, termasuk menjaga sanitasi, mengendalikan lalu lintas unggas, dan menyiapkan dana darurat untuk kompensasi serta pemusnahan unggas jika terjadi wabah,” tukasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesiapan menghadapi ancaman penyakit tidak hanya bergantung pada respons saat wabah terjadi, tetapi juga pada kemampuan membangun sistem pencegahan yang kuat.

Dengan meningkatnya mobilitas burung migran dan aktivitas perdagangan global, penguatan biosekuriti, sistem surveilans, serta kerja sama regional menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko penyebaran Virus Flu Burung H5 Australia ke wilayah Indonesia maupun negara lain di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *