Indonesia Peringkat 2 Dunia Ketahanan Energi, Fakta di Baliknya Bikin Kaget
adainfo.id – Ketahanan energi Indonesia mencatat capaian mengejutkan di tengah tekanan geopolitik global.
Lembaga keuangan JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia.
Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa strategi pengelolaan energi nasional yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata.
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus mengurangi ketergantungan secara bertahap.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengakui bahwa kondisi energi nasional sejatinya masih menghadapi tantangan besar.
Indonesia yang dulu dikenal sebagai eksportir minyak dan anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) kini telah beralih menjadi negara importir.
Produksi minyak nasional saat ini hanya berada di kisaran 605 ribu barel per hari.
Sementara itu, konsumsi domestik telah mencapai 1,6 juta barel per hari, menciptakan kesenjangan yang cukup besar.
“Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi,” tutur Bahlil dikutip Minggu (03/05/2026).
Produksi Minyak Bangkit Setelah Satu Dekade
Di tengah keterbatasan tersebut, pemerintah mencatat capaian penting pada tahun 2025.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, produksi minyak nasional berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam APBN.
Capaian ini tidak datang secara instan, melainkan hasil dari berbagai keputusan strategis yang sebelumnya kerap dihindari.
Salah satunya adalah menghadapi kenyataan bahwa ribuan sumur minyak di Indonesia telah berusia tua.
Sebagian besar sumur tersebut merupakan peninggalan era kolonial yang tidak lagi produktif, meskipun masih menyimpan cadangan energi.
Pemerintah kemudian mendorong optimalisasi sumur-sumur tersebut melalui pemanfaatan teknologi baru.
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) didorong untuk menghidupkan kembali sumur lama dengan dukungan insentif dari negara.
Tidak hanya itu, masyarakat setempat juga dilibatkan untuk mengelola sumur secara legal.
Langkah ini dinilai menjadi solusi cepat dalam meningkatkan produksi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada eksplorasi baru yang membutuhkan waktu panjang.
Proyek Migas Mangkrak Mulai Bergerak
Selain optimalisasi sumur tua, pemerintah juga mengambil langkah tegas terhadap proyek-proyek migas yang selama ini tertunda.
Salah satu contoh paling menonjol adalah Blok Abadi Masela. Proyek yang sempat mangkrak hampir tiga dekade itu akhirnya mulai bergerak setelah pemerintah memberikan tenggat waktu kepada operator.
“Kalau you (INPEX) gak jalanin 6 bulan, saya cabut. Dan Alhamdulillah sekarang sudah tender Engineering, Procurement, and Construction (EPC) nya,” paparnya.
Proyek dengan nilai investasi mencapai USD21 miliar tersebut kini telah memasuki tahap lelang konstruksi dan menjadi salah satu proyek strategis nasional.
Di sisi lain, potensi baru juga ditemukan di Blok Ganal di Kalimantan Timur yang diproyeksikan mulai berproduksi secara signifikan pada tahun 2029.
Langkah percepatan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan produksi energi nasional melalui berbagai jalur.
Penghentian Impor Solar Jadi Tonggak Baru
Di sektor bahan bakar minyak, capaian yang paling terasa bagi masyarakat adalah penghentian impor solar pada tahun 2026. Ini menjadi tonggak penting dalam sejarah energi Indonesia.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kebijakan mandatori biodiesel yang telah dijalankan secara bertahap selama hampir satu dekade.
Saat ini, campuran biodiesel telah mencapai 40 persen dan akan ditingkatkan menjadi 50 persen.
Dengan skema ini, kebutuhan solar yang sebelumnya dipenuhi dari impor kini dapat digantikan oleh produksi dalam negeri berbasis minyak sawit.
Kebijakan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sektor perkebunan nasional.
Strategi Etanol untuk Tekan Impor Bensin
Setelah berhasil di sektor solar, pemerintah kini menyiapkan langkah serupa untuk bensin. Salah satu strategi yang disiapkan adalah pencampuran etanol.
Bahlil bahkan melakukan kunjungan ke Brasil untuk mempelajari penerapan kebijakan tersebut.
Negara tersebut telah lebih dulu sukses menerapkan mandatori etanol dalam bahan bakar.
Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena ketersediaan bahan baku seperti singkong, jagung, dan tebu yang melimpah.
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin dapat mulai diterapkan pada 2028.
“Kalau kita mandatori 20%, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Tantangan LPG dan Solusi Energi Alternatif
Di sektor gas rumah tangga, tantangan yang dihadapi berbeda. Indonesia masih mengimpor 7,47 metrik ton LPG setiap tahun karena produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan.
Selain itu, subsidi LPG juga membebani anggaran negara hingga Rp80-87 triliun per tahun.
Sebagai solusi, pemerintah mengembangkan Compressed Natural Gas atau CNG sebagai alternatif.
Gas ini dikemas dalam tabung dan diklaim lebih murah dibanding LPG.
Teknologi ini telah diuji coba di berbagai sektor dan kini tengah dipersiapkan untuk digunakan oleh rumah tangga.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor sekaligus menekan beban subsidi.
Diversifikasi Pasokan dan Jaminan Stabilitas
Pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah untuk mengurangi risiko gangguan pasokan.
Jika sebelumnya bergantung pada kawasan Timur Tengah, kini pasokan diperluas ke Afrika, Amerika, hingga Rusia.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi gangguan di jalur distribusi global, termasuk kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
“Kalau bapak presiden berangkat untuk cari minyak, itu bukan jalan-jalan. Kita jalan kerja memikirkan 280 juta nyawa yang ada di bangsa ini,” terangnya.
Selain itu, pemerintah memastikan stabilitas harga energi bagi masyarakat tetap terjaga.
Bahlil menegaskan bahwa harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun meskipun harga minyak dunia meningkat.
“Sampai 31 Desember, sekalipun harga ICP 100 dolar AS, insyaallah harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik,” bebernya.
Ketahanan energi Indonesia terus dibangun melalui berbagai langkah strategis yang dilakukan secara bertahap.
Mulai dari optimalisasi produksi, percepatan proyek migas, hingga diversifikasi energi dan pengelolaan impor, seluruhnya menjadi fondasi dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global.












